Sejarah Penamaan Nizam

Nizam waktu umur satu tahun.

Orang itu kemudian bernama Nizam Zulkarnaen Averroes. Ia lahir awal November tepatnya tanggal 2 November 2009, di sebuah rumah sakit yang bernama Dustira. Rumah sakit ini menjadi inspirasi nama seorang perempuan yang kini usianya kira-kira 12 tahun. Perempuan itu tiada lain kakak dari orang yang tersebut di atas, Nizam Zulkarnaen Avveroes. Ia bernama Destira Salimni Putri.

Nizam terlahir sebagai anak yang diharapkan, karena konon katanya saudara paling tuanya mengidam-idamkan memiliki seorang adik laki-laki. Saudara yang paling tuanya juga seorang laki-laki. Apa gerangan yang membuat ia begitu mengidamkan, tiada lain karena selama ini ia kesepian menghuni rumah yang di dalamnya peran ibu(wanita) begitu dominant. Ia tahu kasih sayang ibu terlimpah curah begitu deras padanya, namun di sisi lain kasih sayang itu malah menggerogoti kedaulatan dirinya yang kini tengah sadar bahwa sudah selayaknya ia memiliki dirinya dan menentukan sikap hidup atas kehendak dirinya.

Waktu itu malam begitu sunyi bahkan di pusat perbelanjaan sekali pun. Suara dari mulut manusia yang berlalu lalang malah terdengar sunyi. Knalpot yang biasanya berbau kental polusi dan bising suara malah terdengar seperti sayup-sayup desir ulat yang merangkak di dahan daun talas. Detak jam yang biasanya terdengar layu malah terdengar memekakan dada seorang penunggu sang ibu melahirkan bayi itu. Yang kelak menjadi kebahagiaan si kakak. Detik demi detik terdengar seperti dentuman meriam saat perang, harap-harap cemas pun meliputi udara sekitar penunggu.

“bagaimana dok, apakah dia selamat?”, si penunggu bertanya pada salah seorang yang baru saja keluar dari tempat persalinan si ibu dan dikiranya dokter karena memakai baju putih.
“emmm, belum pak”, ucapnya sambil lalu. Orang berbaju putih itu berlalu ditelan lorong gelap di sudut rumah sakit.

Orang berbaju putih itu tak kembali lagi ke ruangan tempat si ibu tengah berjuang menjadi perantara dari tiada menjadi ada. Segala pikir mulai mendera bagai badai pada benak sang penunggu. Sempat ia bergumam, “oh mungkin itu sejenis makhluk ghaib yang dulu pernah turun pada Nabi Luth berupa manusia padahal malaikat, pada Muhammad juga malaikat, turun dengan berpakaian serba putih. Atau mungkin setan yang baru saja menanamkan energi jahat saat prosesi melahirkan pada si bayi.” Tapi dia menepis semua pikir itu agar tak semakin dirinya kalut tenggelam dalam rasa khayal yang berdasar pada teks tapi malah makin membuatnya cemas.

Kegiatan menunggu itu lalu ia lanjutkan dengan senang hati. “ctrek” rokok paforitnya ia isap. Pertanda ia menyiapkan dirinya untuk berdialog dengan dirinya sendiri.
“mungkin anakku akan lahir menjadi pembahagia buatku”
“ah, masa?bukankah itu hanya khayalmu saja yang kebetulan sedang
dengan paksa memproduksi enzim dhofamin melalui cara merusak itu”
“ya, ini khayalku dengan paksa pula aku stimulus untuk keluar dengan
cara memproduksi asap”
“sudahlah itu kebiasaanmu, tapi apakah kamu yakin ia bisa menjadi pembahagia, padahal justru itu pertanda bebanmu bertambah maka itu artinya kau sedang mengundang kesusahan?”

Ada teriakan, itu membuat si bapak kembali terhubung dengan dunia rumah sakit. Teriakan itu berasal dari seorang suster berkerudung rapi.
“alhamdulillah pak”, teriak suster, “anak bapak selamat dan ia berjenis kelamin laki-laki” mendengar teriakan itu si bapak yang semula berstatus penunggu kini berubah menjadi berstatus si bahagia. Bagaimana tidak kebahagian yang ia tahan-tahan selama dalam masa tunggu itu kini bisa ia bebaskan keluar menyembur meresapi ruh jasad dan membuat semakin merah saja darah.
“Lega rasanya”, sang bapak katakan pada suster.
“ia pak, bapak wajib lega karena saya pun lega. Bapak tahu?anak bapak tadi lahir dengan posisi terbalik, itu membuat si bayi susah keluar, dan pada saat keluar pun bayi bapak tidak mengeluarkan jerit tangis yang biasanya bayi baru lahir lakukan pertanda si bayi sehat”, maklum sedari tadi reaksi suster itu terasa berlebih karena ia bari kali ini menangani persalinan.
“oh, begitukah bu?walaupun begitu saya patut bersyukur karena ia selamat, itu yang utama”
“tapi pak anak bapak belum bisa dilihat karena kami harus memasukan ia ke tempat khusus yang disebut incubator untuk disinari karena fisiknya sangat lemah, selain juga bayi bapak mengalami gagal pernapasan”
“tidak apa-apa bila itu dirasa baik buat bayi saya”

****

Dibelahan kondisi lainnya seorang kakak laki-laki dari si bayi tengah di perjalanan menuju rumah sakit. Setelah mendapatkan info dari beberapa saudara yang telah berada di TKP, beberapa jam sesudah bayi dikabarkan lahir.

Seperti biasa ia tak suka perjalanannya disiasiakan tanpa menikmati perjalanan menuju tempat tujuan. Dengan tidur, dengan mengamati lalu lintas anak jalanan mengamen, melihat-lihat wanita cantik yang bergaya di trotoar layaknya model yang berjalan di atas catwalk, membolak-balik halaman buku paforitnya yang bercerita tentang Jeihan, atau mengingat kembali petuah-petuah Pidi Baiq serta merefleksi semua sikapnya yang sarat makna kebebasan-kekaryaan.

Jeihan ialah sesosok manusia “ajaib” yang terlahir dengan kondisi waras sekaligus gila, modern sekaligis pra-modern. Ia adalah seniman sekaligus juga pemikir, pikirannya bisa kita lihat dari wujud lukisan-lukisannya jika kita mau melihatnya secara mendalam menembus kategori das ding an sich yang Imannuel Kant canangkan sebagai dinding pemisah antara yang fenoumena dengan yang noumena(yang tampak dengan yang tak tampak). Pikirannya juga bisa kita dapati di dalam sajak-sajaknya yang mbeling itu, namun filosofis. “penyair ialah langkah awal untuk menjadi pemikir”, begitu kata Jeihan.

Sedangkan Pidi Baiq ialah manusia “urakan” yang tahunya hanya berkarya dengan segenap apa yang dia tahu dan dia punya saja. Tanpa mau orang lain mengganggu, karena gangguan hanyalah semacam pendistorsi kreatifitas saja. Bagi kebanyakan orang ia hanya seorang lucu saja yang sikapnya di luar kelaziman banyak orang. Akalnya sering kali terbalik sehingga melahirkan sikap-sikap jenaka bagi sekelompok orang yang mengaku akalnya normal pada posisi yang benar. Namun, dibalik itu semua beliau mengajak kita untuk menjadi manusia utuh, bebas dan merdeka sehingga dapat berkarya buat diri sendiri, syukur-syukur juga dunia. Melalui syair, buku cacatan/catutan dan catatan hariannya lantas ia mngobrak-abrik kelaziman dengan cara santun, jenaka serta bisa diterima bahkan populer.

Buku yang ia baca mengenai Jeihan ialah berjudul “Jeihan Ambang Waras dan Gila, karya Jakob Sumardjo”. Saat itu ia membaca halaman 117 -122 yang judulnya nama.* Kondisi dalam angkot jurusan cimahi-leuwi panjang tidak membuatnya terganggu untuk kemudian berhenti membaca. Sederet paragraph yang menyuguhkan kenikmatan khayal membuat ia rakus untuk lagi dan lagi melahap kata-kata dalam buku. Perjalanan itu cukup lama untuk dapat melakukan berbagai macam kegiatan dalam angkot termasuk membaca buku.

* kutipan halaman 117 :
Nama

Apakah nama itu?William Shakespeare dalam Romeo and Juliet, act II, scene II menyatakan:
What’s in a name? that which we call a rose
By any other name would smell as sweet
So Romeo would , were he not Romeo call’d
Romeo boleh saja diganti dengan nama lain, namun Romeo tetap Romeo, seperti bunga mawar boleh diganti dengan bunga bangkai, tetap saja berbau harum. Itu kata Shakespeare. Orang Indonesia tidak sependapat. Nama itu substansi. Orang tak boleh sembarangan mengganti nama. Penggantian nama berarti perubahan status manusianya. Dan itu harus melalui ritual.

Orang tua jawa boleh saja menamakan anak lelakinya Ngantio, tetapi begitu menikah ia diganti menjadi Djojoprajitno. Begitu ia diangkat menjadi bupati namanya diganti dengan Honggowongso. Dan seterusnya. Perubahan status seseorang dari jejaka menjadi suami merupakan manusia baru. Perubahan dari orang biasa menjadi pejabat merupakan manusia baru pula. Manusia lama ditinggalkan, nama lama ditinggalkan. Manusia baru dan nama baru dipakai.

*kutipan halaman 118-119:
Bagi shakespear, nama hanyalah tanda. Setiap benda menuntut nama. Nama itu tak ada sangkut pautnya dengan substansi benda.kuda, misalnya, boleh dinamai cheval, horse, turonggo, jaran. Begitu pula manusia dapat dinamai James, Jimmy, Jim. Orangnya tetap yang itu-itu juga.diandaikan benda dan manusia itu permanent, tidak berubah. Manusia tidak berubah dari kanak-kanak, dewasa, kawin, mati, naik jabatan.

Manusia Indonesia melihat benda sebagai proses. Benda itu berubah terus menerus. Juga manusia. Ngantio tidak sama dengan Djodjoprajitno, karena Ngantio lelaki belum kawin, Djodjoprajitno telah kawin. Nama-nama berubah menurut perubahan substansinya.

Makna nama berbeda bagi Shakespeare dan bagi orang Indonesia. Budaya Shakespeare adalah budaya anthroposentris, manusia pusat keberadaan ini. Segala sesuatu ini bergantung kepada manusia. Dan manusia bebas menguasai alam semesta ini, termasuk dirinya juga. Manusia sebagai penentu bebas memberikan nama-nama bagi benda-benda. Nama hanyalah tanda untuk sebuah benda yang disepakati bersama.

Manusia Indonesia itu kosmosentris dan biosentris. Manusia hanyalah bagian dari semesta ini. Manusia tergantung dari benda-benda. Dan benda-benda, semesta ini, tak dapat dikuasai manusia, justru manusia dikuasai semesta atau tergantung pada keberadaannya. Perubahan manusia perubahan koordinat semestanya. Perubahan benda berarti perubahan nama.

Jadi apakah nama? Nama bukan sekedar tanda. Nama adalah manusianya.

Sejenak sang kakak berhenti setelah selesai membaca sub judul mengenai nama. Lalu ia asosiasikan dengan salah satu keyakinan yang bernuansa Islam mengenai nama pula, ialah tentang adanya teks yang menyatakan bahwa nama adalah doa. Doa di sini bisa diartikan harapan, harapan yang orang tua ingin terwujud pada anak yang dinamai. Tentunya harapan yang dapat membuat si anak mendapatkan hal-hal yang baik. Jadi nama punya pengaruh terhadap alur hidup si anak karena nama dianggap sebagai doa. Doa bisa mewujudkan yang khayali menjadi yang nyata, impian mejadi kenyataan.

Di samping doa adalah kata-kata suci yang dianggap pasti dikabul. Dan orang yang tidak mau berdoa dianggap kikir, oleh karenanya Tuhan senang kepada orang yang berdoa dan akan mengabulkannya. Orang yang berdoa berarti ia dermawan di mata Tuhan.

Suasana mobil angkutan kota semakin lenggang karena penumpang terakhir baru saja turun dari mobil. Kini sang kakak sendirian dalam ruangan kecil berukuran maksimal 12 orang tempat duduk angkot. Lampu mobil pun sayup-sayup terang semakin menambah saja gairah untuk lanjut baca buku. Seolah ada percintaan yang romantis antara ia dengan buku. Meskipun, gairah itu sedang mekar-mekarnya tetap saja ia tidak bisa terbebas dari kondisi bosan terhadap buku yang sedang dibacanya. Bukan bosan terhadap membaca tapi bosan karena tema yang ia sukai untuk sementara waktu telah habis dimakan. Lalu, ia beralih ke buku yang lainnya, yang lebih menyuguhkan hal-hal jenaka, lucu tapi juga inspiratif.

Ia membaca cover buku bertuliskan Catutan Harian Pidi Baiq; Drunken Mama, Keluarga Besar Kisah-Kisah Non-Teladan. Seraya membuka “pintu ingatan” saat-saat bersama di tempat ngajarnya menikmati petuah-petuah dan nyanyiannya yang membebaskan itu. Pintu lainnya yaitu pintu kekaryaan pun ia buka untuk sekedar komunikasi inspiratif dengannya, dengan sosok yang dilakoni oleh Ayah Pidi. Sampai tiba waktunya untuk ia melirik jam.

Jam menunjukan pukul 10 malam, sudah dua jam sang kakak berada di dalam angkot dari kampusnya menuju rumah sakit. Sebenarnya bila menggunakan motor perjalanan itu jadi lebih sebentar, karena macetlah perjalanan menjadi agak lama. Dan kesempatan membaca buku menjadi terhampar leluasa dibandingkan naik motor yang menempuh waktu sebentar.
“kiri, kiri”! ucap kakak sambil tersenyum menatap wajah syukur sopir.
“hatur nuhun a”(terima kasih bang), ucap sopir serak sambil menerima uang ongkos dari kakak.
Sopir lalu pergi bersama angkotnya, terlihat ada amanah besar keluarga di sela jari-jari mobil. Sang kakak menarik nafas dalam-dalam seraya begumam, “mudah-mudahan aku dapat juga dengan tulus menjadi sosok pengemban amanah keluarga kelak”.
Tapak demi tapak diukir kaki menuju tempat yang tadi telah ditetapkan sebagai tujuan. Tiada lain untuk melihat si jabang bayi yang diidam-idamkan itu. Gerbang pintu rumah sakit mempersilahkan dirinya untuk segera masuk bertemu utusan ruh ilahi(si jabang bayi).
“selamat datang, keselamatan semoga selalu terlimpah curah padamu”, dinding pintu gerbang berbicara. Lantas kakak menyahutnya dengan juga penuh kasih keselamatan, “terima kasih telah menyambutku, keselamatan juga buatmu yang selalu taat menjadi makhluk”.


Maka ia pun berjalan melalui lorong-lorong rumah sakit, langkah demi langkah makin kencang seirama dengan degup jantungnya. Matanya tajam focus mencari ruangan yang dimaksud dalam sms pemberitahuan beberapa waktu lalu. Ruang Bersalin, dalam sms itu tertera. Ada peta rumah sakit di sebelah kiri dekat taman saat ia sedang berjalan. Peta itu ia ingat-ingat dalam kepala, di kepala mengalami proses abstraksi agar kemudian mudah didaratkan dalam realitas rumah sakit yang sedikit asing baginya. Menurut ingatannya setelah taman dilewati ia harus berbelok ke kanan, sebab di arah itu ruang bersalin berdomisili. Maka ia pun segera mengikuti kehendak rasionya agar tak tersesat.
Oh, kebetulan sekali di tikungan jalan ia bertemu bapaknya yang sedang jalan-jalan sambil merokok merayakan kebahagiaannya.
“pak di mana ruangannya?”
“dari sini lurus saja terus, ruangannya berada di belolakan ketiga dari sini”
“mau kemana pak?”
“jalan-jalan, siapa tahu saja dengan jalan-jalan adikmu yang baru lahir juga menjadi penjelajah(pejalan) dan penguasa segala medan. Hahahahahahah”, suara tawanya begitu berat karena disumbat asap rokok.

Akhirnya ruangan yang dimaksud Ia temukan, lekas saja ia masuk mencari si ibu yang katanya tengah lemas, karena baru saja melahirkan. Tak berlama-lama, tempat si ibu di ruangan itu lalu ditemukan. Memang ruangan itu cukup besar, diperuntukan untuk sekira enam pasien yang melahirkan, oleh karenanya ada kasur pasien enam. Ibunya berada di kasur no 2 diapit oleh kedua kasur lainnya di jajaran kanan menghadap ke barat.

Didapati sudah ada empat saudara dia lainnya, keempatnya adalah adik ibunya. Mulyati, Mutiyah, Nenden, Kholillah mereka sedang asik ngobrol menghangatkan suasana lemas sang ibu. Ia datang seraya mengucap salam pada mereka yang tengah asik itu, bukan untuk mengganggu melainkan untuk juga menambah kemeriahan dan semarak hangat hari kelahiran sang bayi.

Pikirnya, “kelahiran menjadi momen yang patut diingat. Karena dari situ segalnya dimulai. Menjadi mengerikan memang karena begitu saja kita lahir ke dunia ini dipaksa menjalani hidup. Mungkin sebelumnya, sebelum dunia ini menjadi tampak dan mengikat kita dengan segala aturannya, kita bukanlah apa-apa, tidak punya keinginan, tidak punya kehendak. Mengerikan, lantas kita ditakdirkan hidup, segudang pertanyaan menghantui, segudang jawaban tak pernah memadai. Tentang hidup begitu mengerikan bila dipertanyakan, oleh karenanya banyak orang menyarankan, Lupakan saja! Dan jalani hidup ini. Namun, tak bisa dipungkiri ingatan itu bakal kembali menghantui. Lantas kita akan merasa ngeri dan kembali coba lari atau malah akan menghadapi menerima hantu menjadi teman sejati rasio.

Kiranya apakah sebaiknya kita lari karena dengan itu setidaknya kita bisa sejenak rehat bersembunyi di balik dinding-dinding semu kepastian, meskipun dianggap pengecut. Tentu itu pilihan. Namun, ada yang memilih jalur bahaya dengan menerima hantu sebagai teman sejati rasio. Kalau begitu hidupnya dalam bahaya, karena ia menerima bahaya sebagai nasib hidupnya. Bahaya-bahaya itu senantiasa datang mengitari setiap helai ujung rambut mengusik kenyamanan dan kemapanan jalan-jalan hidupnya. Membuat gelisah setiap fajar mulai unjuk gigi, pagi-pagi setelah lelap dalam tidur nyaman.

Bahaya itu tidak ada pada jurang-jurang yang dalam lagi curam, juga pada gigi taring binatang pemangsa daging atau pada moncong-moncong sejata berpeluru tajam. Ia ada pada ingatanmu saat kita mengingat. Mengingat tidak melupakan kita punya tanya”.



Bersambung……….
Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Asal usul Reforma Agraria 1960 sampai Dipetieskan Orba

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?