Perpustakaan adalah Gudang Penyimpanan Buku-buku Jadul

Dok. Pribadi
Namanya juga perpustakaan pasti itu adalah tempat dimana buku-buku di pajang. Tiap sekolah pasti punya perpustakaan. Sejauh pengalamanku pergi ke beberapa sekolah, memang di dalamnya pasti terdapat perpustakaan.

Pun di tempatku dulu bersekolah, yaitu SMA Negeri 1 Padalarang. Memang aku sudah alumni, tapi berkat Winda aku jadi ingat kembali sekolah SMAku yang katanya tempat di mana masa-masa indah terjadi.

Di sekolahku juga terdapat perpustakaan. Letak perpustakaannya berada di samping ruang TU(Tata Usaha). Ruangannya terbilang kecil di banding ruang kelas pada umumnya. Waktu zamanku di perpustakaan belum ada tersedia computer yang terkoneksi dengan internet. Sempat juga aku beberapa saat menjadi pengurus perpustakaan bersama guru baru waktu itu, aku lupa namanya.

Lantas apa fungsi dari perpustakaan bila hampir tiap sekolah setingkat SMA memilikinya? Tentu saja untuk meningkatkan minat baca siswa dan tak terkecuali gurunya. Membaca apa? Tentu saja membaca buku. Karena perpustakaan adalah tempat dimana sejumlah buku dipajang.

Buku di perpustakaanku berdebu hampir tiap beberapa tahun sekali datang berdus-dus buku dari pemerintah. Sejumlah pustakawan dan pustakawati membereskannya. Entahlah apakah mereka suka baca atau hanya sekedar menjadi petugas beres-beres buku di perpustakaan.

Kebanyakan buku di perpustakaan ialah buku pelajaran dari kelas satu sampai kelas tiga. Ada juga beberapa majalah dan novel, itu pun yang tempo dulu. Berdus-dus buku dari pemerintah kebanyakan adalah buku pelajaran.

Bukunya mungkin masih itu-itu juga, tapi waktu itu aku asik saja main ke perpus sekolah. Aku jelajahi hampir tiap buku di perpus, saking asiknya aku menjelajah, tak sadar tanganku mengambil beberapa buku secara sembunyi-sembunyi. Dibawa ke rumah lalu dibaca. Aku masih ingat, buku-buku itu diantaranya berjudul “kumpulan karya ilmiah remaja”, “Hadis di mata orientalis”, dan “penciptaan menurut al-Quran”. Kini ketiga buku itu raib entah kemana, mungkin diambil seseorang yang tengah asik menjelajah buku-buku di lemari kamarku.

Dari jumlah siswa sekitar sembilan ratus orang di sekolahku. Mungkin hanya dua setengah persen yang suka berkunjung ke perpustakaan. Motifnya bisa berbeda-beda. Ada yang males jajan di kantin sekolah lantas ia iseng-iseng ke perpus, ada juga yang cuma sekedar ingin ngobrol dan menggosip, ada juga yang ingin duduk-duduk saja menikmati suasana hening perpustakaan, maklum waktu itu perpustakaan sekolahku sering sepi pengunjung. Hanya orang-orang pintarlah yang benar-benar pergi ke perpus untuk baca buku. Orang-orang pintar yang kumaksud ialah, orang-orang yang di kelasnya ranking satu/dua/tiga/empat.

Meskipun di perpustakaan sekolahku paling banyak ialah buku pelajaran. Namun, guru-guruku mengharuskan setiap siswanya untuk beli buku pelajaran yang setiap tahun berganti, padahal isinya itu-itu juga hanya mungkin beda penyajian. Atau harus berganti karena beda penerbit. Adikku yang kini kelas tiga SMA di sekolah yang sama, hampir semua buku rujukan pelajarannya baru. Padahal aku sebagai kakaknya pun belajar mata pelajaran yang sama. Kini buku punyaku numpuk dimasukan ke dalam beberapa dus besar karena adikku mungkin berpikir, buku punya kakaknya buku jadul. Oleh karenanya tak terpakai, maka adikku setiap semester baru harus pula beli buku baru. Aku berniat akan menyumbangkan buku jadul dalam dusku kepada pemerintah. Untuk kemudian pemerintah sumbangkan lagi pada perpustakaan sekolah yang dikehendakinya.

Dalam pandanganku, perpustakaan lebih mirip gudang penyimpanan buku-buku jadul. Yang suatu saat mungkin saja dibutuhkan. Kadangkala di beberapa buku terdapat debu yang warnanya coklat, di sekitarnya terdapat serangga-serangga kecil penghuni buku. Sejenak aku pikir, buku di perpustakaanku surga bagi serangga.

Entahlah itu kondisi perpustakaan sekolahku dulu. Karena beberapa bulan yang lalu, aku berkunjung ke perpustakaan sekolahku kondisinya sudah berbeda. Sudah pake computer, computer perpusnya terkoneksi ke internet pula. Waktu itu aku liat seorang pustakawannya yang juga adik kelasku sedang fesbukan, mungkin sedang mempromosikan program-program perpustakaan sekolah yang dapat meningkatkan minat baca. Untuk hal ini aku berbaik sangka saja, karena kondisi dulu berbeda dengan kondisi sekarang.

Mengenai buku-buku yang dipajang aku tidak tau apakah masih yang jadul ( masih yang itu-itu juga seperti beberapa tahun yang lalu) atau sudah mengalami pembaharuan-pembaharuan yang dapat meningkatkan minat baca. Misalnya disajikan buku-buku yang bisa bikin pelajaran matematika tidak lagi terkesan angker dan susah atau sang pustakawan menginisiasi program-program misalnya bedah buku dalam rangka meningkatkan minat baca. Serta bekerja sama dengan beberapa penerbit untuk dapat mensuplai buku remaja yang asik juga edukatif.

Bila kondisinya masih sama seperti dulu alias tidak ada program-program untuk meningkatkan minat baca siswa walaupun infrastruktur sudah banyak berubah, berarti fungsi perpustakaan masih sama seperti dulu juga, yaitu tempat menyimpan buku-buku jadul dan sebagai prasyarat semua siswa sekolah pernah berkunjung ke perpustakaan, melalui perintah dari tugas yang diberikan kepada siswa oleh guru. Bila demikian adanya, perubahan di wilayah infrastruktur menjadi tak bermakna positif apa-apa buat perkembangan kecerdasan siswa, hanya menyisakan kebanggaan luaran saja.


*note ini dibikin karena winda pingin komentarku mengenai “membaca+perpustakaan”


Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Asal usul Reforma Agraria 1960 sampai Dipetieskan Orba

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?