ke Kraton Kasepuhan Cirebon


Waktu itu sore pukul lima tanggal 7 Agusutus 2010, saya dan Cepi ImanYudiman (atau sering saya panggil Tobus) turun dari gunung Ciremai melalui jalur Palutungan. Sisa uang kami tinggal dua puluh ribu lagi. Maka kami memutuskan untuk singgah dulu di kota Cirebon, kota tempat teman Cepi tinggal. Beliau sering dipanggil Memet. Dengan modal yang pas-pasan (hanya untuk makan dan ongkos menuju Cirebon) maka kami menuju Cirebon dari Kuningan, mengendarai Bis jurusan Cirebon-Tasik. Biaya dari Kuningan ke Cirebon mengendarai Bis bernama Harum itu adalah Rp. 5000.

Di Cirebon, kami tidak sekedar numpang mandi makan dan nyuci baju. Kami juga pergi mengunjungi satu tempat bersejarah, yaitu Kraton Kesepuhan. Tempat itu kami kunjungi setelah dua teman lainnya dari Bandung datang menyusul kami di Cirebon. Mereka adalah Roby (seorang fotografer yang karyanya diapresiasi positif banyak orang, walau ia muntah saat di perjalanan dari Bandung menuju Cirebon naik bis) dan Anin Sulasikin (seorang wanita yang bercita-cita ingin meneruskan study ilmu komunikasi ke Belanda; namun sayang, pernah, baru setengah perjalanan menuju gunung puter dia boker pake ponco di kebun orang). Entahlah,bagi kami, di komunitas Mapala Beudht, kedua hal setelah kata "walau" dan"namun sayang" di kedua kurung nama Anin dan Roby adalah sebuah "cacat"/ "aib".Yang harusnya ditutup-tutupi dan tidak perlu terjadi..haha

Hari pertama yaitu tanggal 8 agustus 2010, sore-sore (menjelang magrib) setelah pulang dari mengunjungi pelabuhan Cirebon. Kami masuk, dan langsung seolah-olah disambut oleh abdi dalem. Bayangkan, kami seolah-olah disambut oleh abdi dalem kraton. Sejenak saya ingin bayangkan dulu, seperti apa abdi dalem itu. Abdi dalem, dalam bayangan saya adalah berpakaian adat kekratonan, rapi dan menjunjung tinggi tradisi.

Ah, sudah dulu, bayangan itu saya lupakan sejenak, untuk kemudian saya mempersilahkan rasa ingin tahu saya berekspresi. Dengan melontarkan beberapa pertanyaan yang saya kehendaki. Lalu saya mulai bertanya setelah sebelumnya mata saya mengamati dua patung harimau putih dan keadaan setempat yang mulai redup oleh cahaya matahari. Setelah bertanya dan bertanya, saya mulai memperoleh jawaban demi jawaban. Bahwa di Cirebon ini ada dua kraton, yaitu Kraton Kesepuhan dan Kraton Kanoman. Sepuh artinya tua dan Anom artinya muda. Namun, seperti halnya kehidupan yang kita jalani, bagi kita yang manusia, hidup tidaklah pasti, tidak berjalan statis, monoton, seperti seharusnya yang digariskan pada pikiran manusia kita. Hidup bagi manusia, di tengahnya selalu ada konflik, ada letupan-letupan, ada sesuatu yang tidak berjalan semestinya. Begitu juga di kehidupan Kraton. Kraton Kanoman mengalami perpecahan di kemudian, mengalami sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang telah digariskan tradisi. Dari Kraton Kanoman,lahirlah Kraton Kacirebonan. Lahirnya Kraton Kacirebonan adalah indicator adanya perpecahan di dalam Kraton Kanoman.

Mendengar itu dari abdi dalem yang kami tanyai maka saya sadar bahwa hasrat untuk kuasa di lingkungan kraton telah menjadikan hidup tidak berjalan apa adanya, tidak monoton dan tidak membosankan, utamanya tidak seperti mesin atau robot yang telah diprogram yang geraknya tidak lahir dari kehendak pada dirinya. Itulah bedanya manusia dengan mesin, jika mesin digerakkan oleh kehendak di luar dirinya, maka manusia tidak, manusia bergerak atas kehendak pada dirinya. Kehendaklah yang membuat hidup jadi dinamis, kehendak pulalah yang merobek-robek segala kepastian dan kemestian (yang membuat hidup jadi mati dan berjalan statis. Kehendak pulalah yang membuat manusia jadi sang pencipta).

Di hari pertama ini, di tempat saya tadi mengamati ada patung harimau dan ada istana tempat dulu sultan pernah tinggal, kami masih berdiri berdialog bersama abdi dalem. Dan menjadi tau bahwa, kedua patung harimau putih itu adalah symbol Kerajaan Padjajaran. Yang raja-rajanya adalah leluhur dari Sultan Syarif Hidayatullah (pendiri Kesultanan Cirebon). Di samping kedua patung Harimau putih itu ada bekas meriam yang terbuat dari besi, panjangnya sekitar satu meter setengah. Lalu kami tahu bahwa kawasan yang sedang kami injak dan dipakai medium buat kami berdialog dengan abdi dalem, dulunya adalah taman tempat anak-anak sultan bermain. Pantas saja, tempatnya lumayan bersih, rumput-rumputnya hijau dan tanaman bunganya lumayan bagus.

Kemudian terdengar suara adzan magrib, perasaan saya enggak karuan karena takut disuruh solat magrib berjamaah. Mengingat tempat ini adalah kraton yang salah satunya diisi oleh sultan yang muslim (pemimpin kaum muslim Cirebon). Sedangkan saat itu saya pribadi malas sekali untuk solat magrib. Untungnya perasaan takut itu tidak berlangsung lama, setelah saya melihat teman saya yang lainnya tetap asik ngobrol dengan abdi dalem. Saya merasa lega karena tidak ada yang menyuruh kami solat berjamaah. Dan abdi dalem yang kami ajak ngobrol tetap saja asik ngobrol tidak bergegas solat magrib meskipun dia adalah abdi dalam Kraton Kesepuhan yang di dalamnya tinggal seorang sultan yang muslim. 



Setelah beberapa lama, lalu kami menyudahi perbincangan dengan abdi dalem dan memutuskan untuk pulang. Alasan utamanya bukan karena kami belum solat magrib.Tapi karena hari sudah semakin gelap dan banyak nyamuk; saya, Anin, Tobus, Memet dan Roby memakai celana pendek dan kaos yang tidak anti udara dingin. Maka kami pulang ke rumah Memet dan berniat untuk berkunjung kembali keesokan harinya.

Hari berikutnya tanggal 9 Agustus 2010 kami datang lagi ke Kraton Kesepuhan. Kali ini agak siangan, karena kami ingin masuk ke beberapa museum yang ada di dalam kraton. Dari rumah memet di komplek perumahan jalan elang. Kami sepakat untuk berlama-lama di Kraton Kesepuhan yang sudah kemarin kami kunjungi. Untuk berfoto-foto dan memperoleh info sebanyak-banyaknya mengenai Kraton Kesepuhan ini.

Seperti kemarin, kami datang mengendarai dua motor. Saya mengendarai motor Honda rada ceper membonceng Anin, dan Memet mengendarai motor matic membonceng Roby dengan Tobus. Kalo kemarin kami masuk melalui pintu gerbang utama yang tidak dipungut karcis. Kali ini kami masuk melalui jalan yang seharusnya pengunjung lewati. Sebab pas jalan situ kami diwajibkan membeli karcis masuk. Setiap orang diwajibkan membeli karcis, harganya Rp. 3000. Ditambah satu buku panduan untuk lima orang, harganya Rp. 5000. Sebut saja itu buku panduan biar agak keren. Meskipun,tumpukan kertas itu tidak layak disebut buku, sebab tidak dijilid. Bagi saya,itu hanyalah kertas fotokopian berjumlah sebelas lembar dan tulisannya berisi seputar Kraton Kesepuhan. Jauh dari keterangan yang lengkap. Disusun oleh E.Nurmas Argadikusuma. Tapi lumayan buat kami orang Bandung yang awam mengenai Kraton Kesepuhan ini. Di samping membeli karcis dan buku panduan, kami juga ditawari jasa pemandu oleh pegawai administrasi di pos karcis ini. Semua pemandu yang saya liat, tidak ada yang tidak memakai baju seragam kraton. Pemandunya laki-laki semua. Mereka memakai tutup kepala mirip blangkon atau dalam bahasa sunda dinamakan bendo, memakai baju seragam batik dan memakai sarung batik yang dililit di seputar pinggang sampai mata kaki serta memakai sandal yang bahannya dari kulit (mirip). Satu orang pemandu dihargai Rp. 25000, tapi berhubung kami tidak memiliki uang buat pemandu. Maka kami memutuskan tidak memakai jasa pemandu buat menemani kami keliling kraton ini. Lalu, kata petugas di pos karcis,membawa satu kamera buat foto-foto pun harus bayar Rp. 2000 per kamera.Lagi-lagi berhubung kami tidak punya uang untuk itu dan tidak sudi buang-buang uang untuk itu, maka kami memutuskan untuk tidak bayar. Berbohong bawasannya kami tidak membawa kamera, padahal kami bawa dua kamera.

Aduh saya lupa menceritakan, bahwa sebelum pos karcis di muka komplek kraton ada selokan besar yang airnya hitam dan bau. Dipenuhi sampah dan bintik-bintik telor nyamuk. Saya berhenti sejenak dan memandangi selokan di depan kraton dan berpikir, "kok bisa hal sesepele ini (untuk ukuran sultan) tak diperhatikan oleh sultan sendiri yang menghuni komplek kraton?". Di sekitar kraton ada selokan besar yang kotor. Tidak hanya di selokan, pas masuk agak ke dalam kraton pun sampah berserakan di mana-mana (sampah pelastik yang saya maksud) Saya sadar masalah sampah ini bukan tanggung jawab warga kraton semata. Tapi juga tanggung jawab pengunjung, namun mana mungkin pengunjung mendadak harus jadi cleaning service meliat sampah berserakan dan selokan yang airnya bau karena tercemar sampah pelastik dll.

Di pos tempat kami membeli karcis, segalanya harus ditukar dengan uang. Dari mulai karcis, tanya jawab dengan pemandu, dan membawa kamera pribadi, semuanya harus ditukar dengan uang. Begitu juga museum pertama yaitu museum kereta yang kami masuki, yang di dalamnya ada lukisan Prabu Siliwangi bersama harimau putih, kami dipaksa untuk membayar karena penjaga pintu museum memintanya.

Berbeda dengan penjaga museum benda kuno. Penjaganya ramah dan dengan tulus memberi keterangan mengenai benda-benda yang terpampang. Dari mulai prisai, panah, tombak, kujang dan keris yang terpampang dan masih banyak lagi. Bahkan, saya berfoto bersama tombak dan prisai yang terpampang. Dijelaskan olehnya(penjaga musieum), barang-barang itu digunakan oleh siapa, kenapa, mengapa dan bagaimana serta darimana asalnya. Penjaga ini menurut saya menjelaskan dengan tulus dan tanpa diminta. Ia mengharapkan pahala dan barokah dari tuhan karena telah melayani sultan, tidak semata-mata untuk uang. buktinya di musium ini kami tidak dipungut biaya seperti di musium sebelumnya.

Akhirnya saya tau, penjaga di museum ini pun adalah abdi dalem. Seperti orang yang di hari kemarin yang kami ajak ngobrol. Berbeda dengan pemandu dan pegawai karcis di pos depan, kedua pemandu yang kemarin dan hari ini kami temui tidaklah memakai seragam kekratonan seperti layaknya seorang abdi dalem. Bajunya kucel, begitu juga dengan kulitnya. Baju dan celananya seperti tak terperhatikan oleh kalangan pembesar kraton. Padahal mereka mengabdi buat kraton. Lain hal dengan abdi dalem yang menghuni pos karcis; pemandu dan pegawai administrasinya, mereka memakai baju seragam, baju kebesaran kraton.

Orang yang kemarin yang kami ajak ngobrol pun juga adalah abdi dalem tapi tidak memakai baju seragam. Baju dan celananya kucel seperti abdi dalem dimuseum benda kuno ini. Berbeda sekali dengan rengrengan abdi dalem yang menghuni pos karcis. Tapi saya berani bilang, abdi dalem yang berbaju kucel pengetahuannya mengenai kraton kesepuhan ini tidak kalah dengan abdi dalem yang berseragam rapi. Buktinya abdi dalem yang kemarin kami ajak ngobrol, tau bahwaSultan Syarif Hidayatullah adalah keturunan langsung Prabu SIliwangi sambil menjelaskan runtutan keturunannya. Meskipun saya tau buku sejarah yang menceritakan prabu siliwangi banyak versinya. Ada yang bilang bahwa Prabu Siliwangi adalah Raja Galuh yang meninggal waktu perang bubat, ada juga yang bilang Prabu Siliwangi adalah Sri Baduga Maharaja (Jayadewata). Namun dari cerita rakyat di tasik saya temukan bahwa Siliwangi berarti penebar keharuman, siapapun raja sunda yang menebar keharuman dialah Prabu Siliwangi.
Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Asal usul Reforma Agraria 1960 sampai Dipetieskan Orba

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?