"Saya dari Generasi Naruto", Review Perjalanan Jatiwangi-Cirebon

Aksakun goes to Kawali. Dok. Pribadi
Suasananya jadi hangat, taulah Mang Mukti kayak gimana. Sedari tadi, sejak masih di mobil, celetukan-celetukan Mang Mukti bikin kita semua sebagai Siswa Sekolah Aksara Sunda Kuna “seseéleun kulit beuteung”. Haha, dasar Mang Mukti.

Satu per satu lalu kami disuruh mengenalkan dirinya pada semua orang yang ada duduk melingkar di forum obrolan ini. Ceritanya sih study tour, atau terlalu keren yah bahasanya, sebut saja ini silaturahmi antar komunitas. Di Bandung ada komunitas (sekolah) Aksara Sunda Kuna dan di Cirebon juga ada, mereka bergiat ditulis menulis Aksara Cirebon tentunya. Kami yang dari Sekolah Aksara Sunda Kuna saling kenal mengenal dengan mereka yang dari Komunitas Menulis Aksara Cirebon.

Wahaha, ternyata beda yah antara Aksara Sunda dengan Aksara Cirebon, jadi Aksara Sunda itu tidak sama dengan Aksara Cirebon. “Setidaknya ada tiga ragam tulisan Aksara Cirebon yang berkembang di Cirebon ini”, kata Dodie. Menurut Sinta Ridwan, Dodie adalah salah satu filolog di Cirebon. Sinta Ridwan yang juga adalah Guru Primer(Guru satu-satunya) di Sekolah Aksara Sunda Kuna sempat berguru pada Dodie, khususnya berguru Aksara Cirebon.

Masih kata Dodie, di tengah-tengah presentasi Dodie mengenai Aksara Cirebon, “Karena beragamnya Aksara Cirebon maka, jika Aksara Cirebon harus dibakukan itu berarti membunuh keragaman Aksara Cirebon”. Bisa difahami memang, membakukan Aksara Cirebon, artinya mengambil salah satu dari beragamnya Aksara Cirebon untuk dijadikan standar bersama. Hanya mengambil salah satu Aksara Cirebon konsekuensinya adalah membunuh Aksara Cirebon yang lain yang tidak diambil. Sedangkan menurut Dodie, Aksara-aksara Cirebon yang lain memiliki kekhasan dan keunikannya masing-masing.

Setelah Dodie yang berbicara, semacam presentasi Aksara Cirebon sambil memperkenalkan dirinya. Sebenarnya banyak sekali yang disampaikan Dodie, namun berhubung waktu itu saya tidak ada niat untuk menuliskan peristiwa ini, ya saya tidak berubah seolah-olah menjadi wartawan dan menulis dengan detail apa saja presentasi Dodie, haha. Lalu Dodie mempersilahkan Pak Aman buat juga kasih presentasi sekaligus memperkenalkan dirinya.

Pak Aman ini, sama-sama juga filolog dari Cirebon. Umurnya setengah abad lebih, punya rasa humor yang hampir sama dengan Mang Mukti, celetukan-celetukannya juga “pikaseurieun”. Menurut pengakuannya, meskipun beliau sudah tergolong tua, tapi beliau tidak segan belajar Aksara Jawa dan Aksara Cirebon pada Dodie kala itu, saat beliau belum disebut filolog. Kalo mau dirunut, Dodie itu gurunya para guru. Gini maksudnya, Pak Aman itu guru Aksara Cirebon di komunitas yang kami kunjungi, dan Sinta Ridwan itu guru kami di Sekolah Aksara Sunda Kuna, dan mereka berdua berguru pada Dodie. Gurunya para guru, keren yah. Haha.

Pak Aman dalam presentasi dan perkenalan dirinya, lebih menyampaikan kegundahannya ihwal Bahasa Cirebon yang seolah disudutkan di sekolah formal. Padahal menurut Pak Aman, dalam Perda Jawa Barat, saya lupa lagi nomor berapa, disebutkan bahwa di Jawa Barat ada tiga bahasa yang berkembang; yaitu Bahasa Sunda, Bahasa Cirebon, dan Bahasa Betawi-Melayu. Ditingkat sekolah dasar sampai SMP, Bahasa Sunda sama Bahasa Cirebon diajarkan sekaligus dua-duanya. Padahal menurut Pak Aman itu kurang efektif jika dua-duanya sekaligus diajarkan. Harusnya Orang Cirebon mengerti betul Bahasa Cirebon sebelum ke bahasa yang lainnya yang jelas-jelas berbeda dengan Bahasa Cirebon.

Jika saya boleh berpendapat, Bahasa Cirebon itu bukan Bahasa Sunda bukan pula Bahasa Jawa. Oleh karenanya Bahasa Cirebon tidak berpusat ke Sunda tidak juga ke Jawa, sebab pada dirinya, Bahasa Cirebon memiliki kekhasan, berbeda dengan kedua bahasa yang tersebut di atas. Bahasa Cirebon kalau menurut yang saya amati adalah percampuran Bahasa Jawa dengan Bahasa Sunda, meskipun mungkin banyak kata yang tidak berasal dari keduanya. Secara teriorial saat ini Cirebon masuk ke wilayah Jawa Barat, mungkin pengambil kebijakan berasumsi bahwa Bahasa Cirebon masih turunan (derivasi) dari Bahasa Sunda. Oleh karenanya Bahasa Sunda wajib diajarkan juga di samping Bahasa Cirebon. Padahal itu tidak proporsional sebab secara kebudayaan, yang saya amati di lapangan justru Cirebon lebih condong ke Jawa. Meskipun itu tidak sepenuhnya benar, Cirebon adalah Cirebon, bukan Sunda dan bukan pula Jawa.

Ada dua point yang saya dapat di lapangan, yang menurut saya itu makin mengukuhkan bahwa Cirebon adalah Cirebon, bukan Sunda bukan pula Jawa. Dari segi Aksara kita sudah sama-sama tau, Aksara Cirebon dengan Aksara Sunda dan Jawa jelas berbeda. Kedua Point itu adalah tentang mitos Dewi Sri dan Cara bermain Gamelan. Dalam proses bermain Gamelan, menurut Dodie, ada yang dinamakan “sorogan”. Sorogan maksudnya adalah (kalo gak salah, mohon koreksi yah Kang Dodie)mencabut nada, lalu mengganti nada yang dicabut dengan nada yang lain, cara bermain Gamelan seperti ini berbeda dengan yang di Sunda juga di Jawa, yang di Sunda justru hampir sama dengan yang di Jawa. Lalu mengenai mitos Dewi Sri, menurut penuturan Sinta Ridwan, yang juga pernah melakukan penelitian tentang Mitos Dewi Sri di Cirebon. Dewi Sri di Cirebon memiliki pacar, yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia nama pacar Dewi Sri itu berarti “Sumber Penyakit”. Mitos Dewi Sri di Cirebon berbeda dengan mitos Dewi Sri di Sunda dan Jawa. Jadi Cirebon adalah Cirebon, bukan Sunda dan bukan pula Jawa.

Yang harus kita sadari adalah, begitulah budaya, percampuran budaya yang satu dengan yang lain melahirkan budaya baru. Budaya dalam dirinya selalu bersifat dinamis-kreatif. Sebab budaya sejatinya adalah pergumulan daya rasa, kersa dan cipta manusia dengan alamnya dalam waktu yang cukup lama.

Padahal saya niatkan tulisan ini sebagai ‘iseng’ saja me-review kejadian kemarin, eh beberapa paragraph di atas malah jadi terkesan serius. Kesannya, saya ini peneliti serius kebudayaan, padahal saya Cuma numpang saja jalan-jalan(“study tour”, bahasa kerennya) sama teman-teman di Sekolah Aksara Sunda Kuna.

Ada sekitar 40 orang yang hadir di obrolan melingkar dalam ruangan itu. Saya terlalu malas untuk menulis satu persatu narasi perkenalan masing-masing orang yang memperkenalkan diri. Jadi yang saya tuliskan di sini hanya yang saya ingat dan menurut saya lucu. Misalnya, Mang Mukti yang disela-sela perkenalan dirinya, dia menganjurkan “pupuhu” Cirebon untuk mewariskan surat-surat tanahnya agar anaknya mau belajar Aksara Cirebon. Haha. Itukan lucu.

Giliran si Abah, nama panggilan lengkapnya Abah AsalSada. Dia memperkenalkan dirinya disertai gayanya yang khas, tangan dan kepala serta hampir seluruh tubuhnya ikut bergerak dengan gaya yang khas mengikuti irama suara dan bentuk kata yang keluar dari mulutnya. Lalu ia berkata, “saya dari generasi rolling stone, umur saya 45 tahun, anak sudah tiga dan istri baru satu. Dari kecil saya terdidik ala barat”. Sampai di situ saja saya kutif kata-kata si Abah, saya ingin ilustrasikan, meskipun dia terdidik ala barat namun kini setelannya penuh dengan symbol-simbol budaya Nusantara.

Kemudian Giliran teman saya Bernama Gelar Taufiq Kusumawardhani, senior saya di AqFil, meskipun Cuma dua taun, tapi dia cukup jeprut dalam “tingkah paripolahnya”. Hidupnya dia abdikan buat “mendaki gunung, lewati lembah”, alhasil kuliah dari taun 2001 belum juga kelar hingga saat ini. Kuliah di AqFil dari taun 2001-2003 lalu di Geografi dari taun 2003 - belum dapat ditentukan (artinya belum selesai). Dalam perkenalannya dia mengatakan, “saya dari generasi Stinky”. Stinky itu adalah nama grup band yang sudah agak jadul, dan kini vokalisnya jadi pemeran utama OVJ. Haha

Karena tidak mau kalah dengan mereka-mereka yang sudah memperkenalkan diri. Maka saya pun mulai memperkenalkan diri sebagai Yoga dari generasi Naruto desa Konoha, tertarik belajar nulis Aksara Sunda karena ingin bisa baca Naskah Wangsakerta yang controversial itu. Kemudian dari “riungan” itu saya tau bahwa Naskah Wangsakerta tidak ditulis dengan Aksara Sunda melainkan dengan Aksara Cirebon. Artinya, saya salah masuk sekolah, harusnya saya masuk Sekolah Aksara Cirebon di tempatnya Dodie di Cirebon, bukan malah masuk Sekolah Aksara Sunda di GIM (Bandung) pimpinan Mang Mukti. 




pada 16 November 2010 jam 21:01

Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Asal usul Reforma Agraria 1960 sampai Dipetieskan Orba

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?