Sebenar-benarnya Pecinta Alam adalah Petani



oleh Yoga ZaraAndritra pada 19 November 2010 jam 15:48

Judul di atas bagi sebagian orang kesannya menjadi berlebihan. Bagaimana tidak, pikiran kita sudah terkonstruk bahwa yang namanya pecinta alam adalah orang-orang yang terdaftar dalam satu organisasi resmi pecinta alam. Dalam batas-batas itu, yang namanya pecinta alam adalah menjadi serba procedural, birokratis dan formal, kesannya menjadi tidak alamiah. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi ketika kita ingin disebut pecinta alam. Misalnya di ranah kampus, seseorang bila ingin disebut pecinta alam, ia harus masuk dalam lingkaran organisasi tertentu yang mentahbiskan dirinya sebagai organisasi pecinta alam. Di luar itu, kita menjadi buta, mana yang secara substansial benar-benar pecinta alam dan mana yang hanya secara formal sebagai pecinta alam.

Tulisan ini bukan hendak memberi putusan (penilaian) dan membuat kategorisasi dalam dunia kepecintaalaman. Tulisan ini dimaksudkan untuk memperluas makna pecinta alam, tidak hanya dalam ruang lingkup yang sifatnya formal saja.

Judul di atas lahir tidak tanpa latar belakang. Mulanya saya anggap kampung saya aman-aman saja. Seperti biasa, aktifitas pun saya lakukan sebagai seseorang yang menuntut ilmu di luar kampung. Sampai tiba saatnya saudara saya Cole (nama panggilan) mengajak saya untuk melakukan hal yang berguna buat warga. Apa yang saya lakukan, itu dia, Cole menyebutnya dengan nama advokasi. Mengenai advokasi, saya kurang begitu faham sebetulnya. Apa yang harus diadvokasi? Dan mengapa harus ada advokasi?

Kemudian saya mengerti, advokasi adalah semacam upaya pembelaan satu kepentingan bersama, dalam hal ini kepentingan warga, sederhananya seperti itu. Mengenai advokasi saya pandang ini adalah satu kegiatan yang tergolong praksis, pengertian dan kefahaman tentang ini pun menjadi kurang memadai bila kita hanya memahaminya lewat buku. Advokasi haruslah dipraktekan, sebab dengan itu kita menjadi faham ada lika-liku apa di dalamnya, dan itu indah.

Mengenai akan diadakannya perumahan di kampung saya, dan tidak hanya kampung saya sebenarnya, ada sekitar enam RW yang mau tidak mau harus terlibat. Dan kabar mengenai akan dibangunnya perumahan sudah sejak tahun 2007 namun tak kunjung terealisasi. Kini tahun 2011 pihak pengembang kembali menjalankan proyek itu. Sosialisasi dari pihak pengembang kepada pemangku kebijakan tingkat kampung pun dilakukan oleh pihak pengembang secara tertutup, namun proyek sudah jalan. Sosialisasi dilakukan sembari proyek juga dijalankan, keduanya berjalan beriringan. Di sinilah letak kesalahan pengembang. Seharusnya sosialisasi dulu kepada warga seluruh RW yang bakal terkenai dampak lantas proyek baru boleh berjalan.

Prosedur sosialisasi pihak pengembang kepada warga di beberapa RW memang sudah dilakukan, dan ijin serta kompensasi yang diajukan dari beberapa RW sudah dikantongi pihak pengembang serta kompensasi yang dimaksud sudah disanggupi oleh pihak pengembang. Namun dua RW lainnya yang paling dekat lokasinya dengan pembangunan perumahan serta paling besar terkenai dampak buruk dari proyek pembangunan itu tidak dilibatkan dan dimintai ijin oleh pihak pengembang. Dua RW yang dimaksud adalah kampung saya. Proyek berjalan sementara pihak pengembang tidak melalui prosedur yang benar. Masalah pun dimulai, beberapa warga yang sadar akan hal itu langsung menghentikan secara paksa alat berat yang sedang beroprasi. Negosiasi antara pihak pengembang dengan warga pun dimulai. Terhitung sudah delapan kali negosiasi dilakukan sampai tulisan ini diterbitkan, tapi belum mencapai satu kesepahaman.

Seiring berjalannya waktu, lalu ditemukan bahwa pihak pengembang tidak hanya menyalahi prosedur sosialisasi dan pemintaan ijin terhadap warga terdekat. Tapi juga UPL(Upaya Pemantauan Lingkungan) – UKL (Upaya Kelola Lingkungan) nya pun ijinnya sudah kadaluarsa dan harus membuat UPL-UKL yang baru. Di samping itu, ternyata dalam pembuatan UPL-UKL yang lama, warga setempat tidak dilibatkan pembuatannya. Padahal dalam prosedur pembuatan UPL-UKL warga yang bakal terkenai dampak, wajib dilibatkan dalam proses pembuatannya. Dan masih banyak lagi persoalan-persoalan prinsif yang insyaalloh akan kami beberkan di forum selanjutnya yang dimediasi oleh pihak desa.

Meskipun detail kesalahan sudah sama-sama diakui oleh kedua belah pihak, ada pada pihak pengembang, tetap saja pihak pengembang memaksakan kehendaknya dengan terus mengulur-ngulur waktu dan melancarkan komunikasi-komunikasi tertutup dengan warga yang dikiranya mau kooperatif dengan pihak pengembang. Sampai tingkat aparatur desa pun berhasil mereka loby sehingga dalam forum-forum resmi (negosiasi), pihak desa yang seharusnya berperan memediasi malah menggiring pendapat warga untuk mau menyetujui apa yang dimaui pihak pengembang. Melihat kenyataan yang seperti itu maka kami dari warga RW 12 tegas-tegas menolak pembangunan perumahan dan siap menerima konsekuensinya.

Karena seringnya pemuda yang terbilang aktif di kampung ini bertemu sebab ada satu masalah bersama. Maka ada muncul inisiatif untuk juga tidak hanya menggugat pembangunan perumahan dan menggagalkan pembangunannya tapi juga mencarikan solusi buat masyarakat untuk tidak hanya terjerembab dalam permasalahan ini. Akhirnya salah satu dari pemuda yang terbilang aktif mengajukan usulan, dan pemuda ini sudah cukup lama terlibat di kelompok pertanian dan peternakan di kampung kami. Dia mengusulkan kepada kami untuk ikut mengembangkan pertanian dan peternakan di wilayah Cidadap. Pemuda itu sering dipanggil Hasan.

Pikir kami, dengan semakin mapannya pertanian dan peternakan di kampung kami, mana mungkin ada lagi warga yang mau menjual tanahnya untuk proyek-proyek besar yang menghabiskan lahan dan merusak ekosistem kampung kami. Status wilayah yang kini masuk setplan pembangunan perumahan (23 hektar) mulanya adalah “hijau” sekarang jadi “kuning”(wilayah yang telah ditandai “kuning” berhak dijadikan lahan pembangunan) karena ada pemekaran wilayah (dari Kab. Bandung jadi Kab. Bandung Barat), maka dengan adanya peternakan dan pertanian yang semakin mapan di kampung kami, tidak mustahil status yang semula “hijau” bisa kembali “hijau”.

Cinta tanah air itu menjadi penting di saat-saat seperti ini. Karena hanya dengan itu warga di kampung saya jadi banyak-banyak bersyukur, maksudnya mau bersabar-sabar mengolah tanahnya dan dapat penghidupan karena tanahnya diolah. Saya bersama Hasan dan kawan-kawan yang masih muda yang tergolong sebagai pemuda tani tidak begitu kesulitan mencari pigur yang sukses di bidang pertanian buat di masyarakat, dalam rangka menggalakan pentingnya pertanian dan peternakan. Orang itu adalah Abah Asep, karena konsistensinya dalam bidang pertanian beliau bisa hidup dari bertani jambu, bahkan penghasilannya berlebih. Saya amati dari cerita beliau semenjak merintis usaha tani sampai kini sukses, ada ibrah yang didapat, bahwa mental petani bukanlah mental instant, mental petani adalah mental proses dan kreatif. Mental petani adalah juga mental berdikari (meminjam istilah Soekarno, Berdiri di Bawah Kaki Sendiri).

Selain itu, bertani juga mendekatkan kita dengan alam. Dalam relasi pola pikir modern, alam diposisikan sebagai objek dan manusia adalah subjeknya. Lebih dari itu, relasi ini adalah relasi kuasa-dikuasai. Penguasanya adalah manusia dan yang dikuasainya adalah alam. Istilah yang dipakainya pun ‘penguasa’ bukan ‘pemelihara’ implikasinya alam jadi hak milik manusia, alam berhak diapa-apakan oleh manusia. Pun ilmu pengetahuan modern berbeda dengan paradigma ilmu pengetahuan sebelumnya. Jika ilmu pengetahuan sebelumnya difungsikan untuk kebijaksanaan yaitu memahami keteraturan alam, lantas manusia menauladani keteraturannya atau dalam istilah Yunani adalah ‘mimesis’. Maka ilmu pengetahuan modern difungsikan untuk mengetahui bagaimana karakteristik alam untuk kemudian diketahui bagaimana cara mengendalikan alam. Sebab posisi manusia sebagai penguasa alam.

Cara bertani pun memang ada yang eksploitatif, memperkosa alam dan memandang alam sebagai objek. Namun dalam tulisan ini saya tidak berkapasitas mengungkapkan hal itu. Dalam tulisan ini saya hanya ingin tunjukan, bahwa petani di kampung, yang saya temui begitu mesra saat menggarap tanahnya. Tanpa disadari, dengan menggarap tanah sesungguhnya si petani telah menghidupi berbagai macam jenis hewan dan tumbuhan. Itu artinya, petani telah ikut melestarikan alam dan menjaga ekosistem alam tetap seimbang.

Bencana terjadi saat alam mulai sakit karena ulah manusia. Sakitnya alam atau terjadinya bencana merupakan upaya alam mengembalikan kondisi kesehatan/keseimbangan alam itu sendiri. Dari sini kita jadi tahu, bahwa alam itu hidup dan memiliki kehendak memperbaiki diri. Dan petani memperlakukan alam (meskipun dengan tidak sadar) sebagai subjek yang hidup dan memiliki kehendak yang sewaktu-waktu dapat bersikap.

Kalo boleh saya berlebihan dalam berpendapat, petani adalah sang pemelihara alam. Sebab dari alamlah petani hidup, konsekuensinya alam jadi terawat (dari sudut pandang petani). Namun, apakah alam butuh petani/manusia untuk merawat dirinya? Saya kira tidak, kita sebagai manusia hanya numpang hidup di sini, di lahan yang disebut bumi. Karena manusia cuma numpang hidup di bumi, saya kira keliru tafsiran ‘teks yang dianggap suci’ yang menyatakan bahwa manusia adalah wakil tuhan di muka bumi (khalifah fil ardh). Bagi saya, manusia hanya punya kapasitas memimpin dirinya secara individu dan memimpin manusia lain secara social. Terlalu sombong bila manusia dikatakan mampu memimpin bumi dan segenap isinya (sebagai wakil tuhan di muka bumi). Manusia cuma bisa merusak alam, yang memperbaiki adalah alam itu sendiri dan tak jarang manusia menjadi korban perbaikan alam yang dilakukan alam. Wassalam.

Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Asal usul Reforma Agraria 1960 sampai Dipetieskan Orba

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?