Di Pinggir Jalan, Jalan Braga

Link gambar
Akhirnya mereka duduk dekat saya, saling cerita, minum kopi dan makan cakue. Mereka adalah anak-anak kecil, menamakan dirinya sebagai gembel atau anak jalanan, nongkrong di sepanjang jalan Braga selepas adzan Isya berkumandang.

Sekitar pukul dua belas malam kami datang duduk-duduk beriung bersama mereka (anak-anak kecil itu). Di Pinggir jalan raya, jalan Braga. Setelah sebelumnya kami nonton pertunjukan di kebun seni; ada teater, baca puisi dan nyanyi-nyanyi. Juga tentunya kami yang menamakan diri komunitas kabeldata ikut berpartisifasi, diwakili oleh Galah Denawa dan Hyuga. Dua orang ini berpartisifasi dengan baca puisi. Acara yang digelar di kebun seni itu, untuk kedua kalinya digelar, dan seterusnya akan digelar setiap satu bulan sekali.

Di tempat itu juga, yang katanya masih masuk kawasan yang dikelola oleh yayasan kebun binatang Bandung adalah tempat dulu Soekarno merenung dan menuliskan monolognya tentang perdamaian dan bersatunya bangsa Asia-Afrika untuk menolak penjajahan. Soekarno menulis monolognya sekitar tahun 1930. Monolognya kemudian dibacakan di Tegal Lega.

Keterangan mengenai Soeakarno itu saya catat dan ingat-ingat dalam kepala agar supaya saya bisa meresapi semangat Soekarno kala itu. Cerita itu saya dapatkan dari Kang Adew sebelum ia bermusikalisasi puisi di depan khalayak yang hadir, di kebun seni. Di acara itu, Kang Adew membawakan tiga lagu, dan satu lagu pertama adalah musikalisasi monolognya Soekarno.

Sehabis Kang Adew tampil bernyanyi dengan damai dan ditutup oleh lagu yang energik-ngebit. Kami memutuskan untuk pulang ke Cibiru, naek motor berbonceng. Namun, Miko sebagai pupuhu komunitas ini, ajak kami untuk nongkrong dulu di Braga. Katanya, “Nongkrong dulu doong kita di Braga”. Miko dikatakan pupuhu karena dialah yang paling tua di komunitas ini, “Semester 12 gitu looh”.

Sengaja, rute yang kami lalui menuju Braga lewat kawasan statsiun Bandung. Lewat sana untuk sekedar liat-liat cewek ABG malam. Namun, di sepanjang kawasan statsiun Bandung, ternyata saya tidak liat cewek ABG malam, saya hanya liat cewek sepuh malam berjejer pake baju seksi. Dan mereka kelihatannya sudah buyakyek.

Sampailah akhirnya kami di Braga, dan woow suasananya fantastic. Ramai oleh cewek-cewek seksi, cantik, pake baju ketat minim. Secara pribadi suasana malam kayak gini bikin betah mata, mata jadi melek terus walaupun tanpa kopi. Namun, Miko sebagai sesepuh, “Semester 12 gitu looh”, tetep beli kopi hitam panas tiga gelas dan beberapa bungkus plastic cakue hangat.

Beli kopi sama cakue tentu saja dengan metoda udunan, mana mungkin Miko sebagai sesepuh melupakan metoda udunan. Adiknya saja yang bernama Hamdan yang mengelola website addictedarea berkata, “Udunan adalah jiwa”. Sepertinya, sampai tua, mereka(adik-kakak) tidak akan melupakan metoda ini, metoda yang Hamdan bilang sebagai jiwa. “Udunan adalah jiwa”, Kata-kata ini Hamdan ucapkan dengan raray yang meyakinkan pada kami saat Miko sedang tida ada, sedang membeli kopi.

Kemudian kami duduk, ngopi-ngopi di samping minimarket jalan Braga. Nonton cewek seger berpakaian minim keluar dari bar, lalu lalang menuju minimarket kemudian kembali lagi ke bar. Juga sambil ngobrol dan ngopi, kami nonton anak-anak muda masa kini entah masih SMA atau berkuliah sedang minum-minum bir di pinggir jalan dan kakinya selonjoran, cewek-cowok bercampur. Tapi ada juga yang cewek sesama cewek bercampur di atas motor, enggak lah enggak sampai berjinah, mereka bermesraan di atas motor. Kata Miko sang sesepuh (semester 12 gitu looh), “mereka itu lesbi”.

Pas lagi ngopi dan ngobrol, tiba-tiba kami diserbu anak kecil yang minta-minta duit receh. Kebetulan saat itu saya lagi buka notebook, saya ajak mereka liatin notebook. Langsung anak-anak itu mengerubungi saya, ada yang minta, “A main PB doong”. Pikir saya, “anyir anak jalanan yang suka minta-minta, tau game PB”.

Kemudian, karena saya tidak punya duit receh, saya ajaklah mereka ngobrol. Notebook pun dimatikan. Saya gunakan kemampuan spik-spik bagong saya, lalu mereka mendengarkan sambil duduk. Mereka duduk melingkar di depan saya, saya tanyai nama mereka, rumah mereka, sekolah mereka dan lain-lainnya. Saya bicara pada mereka, mereka pun bicara pada saya.

Galah Denawa dan Ozan ikutan juga ngobrol bersama saya dan anak-anak. Anak-anak itu enggak tau kenapa setelah lama kami saling berbicara, mereka, terutama yang bernama Jawa, curhat pada saya tentang kehidupan mereka di jalan; perasaan mereka, kondisi mereka, dan peristiwa-peristiwa lainnya yang mereka alami. Jawa adalah nama panggilan, dikatakan Jawa sebab dia bukan orang asli Bandung. Terlihat dari logat bicara sundanya yang medok logat jawa. “Abi mah A kuduna teh ayeuna kelas tilu SMP”.

Dari keterangan yang saya himpun, ternyata mereka tidak bersekolah. Tapi pas saya tanya, mereka tau seharusnya sekarang mereka kelas berapa; ada yang kelas lima SD, kelas empat dan lain-lain. Ternyata, mereka juga bisa baca-tulis, juga hapal ayat quran. “Abi mah A kieu-kieu ge bisa maca Quran mah”. Ada sekitar tujuh anak yang duduk melingkar di depan saya, Galah dan Ozan. Mereka semuanya ramah dan terbuka.

Jawa dulunya adalah pengamen tapi sekarang jadi peminta-minta karena gitarnya ia jual buat beli baju. Jawa juga cerita pada kami tentang Dada Rosada yang sok melayani anak jalanan. Kata Jawa, “Dada Rosada kalakah we nyieun plank yang bertuliskan ‘anak jalanan dipelihara oleh negara’, plangna dipasang di tegal lega, padahal mah bohong. Buktina urang anger we teu dibantu”. Padahal kata Jawa, mereka sebagai anak jalanan tidak akan meminta-minta kalau dikasih modal buat berdagang, misalnya, atau dikasih gitar buat mengamen.

Kaitannya dengan belajar, mereka sangat ingin belajar. Belajar menulis, membaca dan dikasih buku. Pernah beberapa waktu yang lalu, ada yayasan dan kelompok mahasiswa yang ajari mereka menulis dan membaca tapi masing-masing hanya bertahan satu minggu. Mereka kesal, pasalnya, mereka sangat ingin sekali belajar. Itu diutarakan oleh Yadi temannya Jawa. Yang seharusnya saat ini menginjak kelas satu SMP.

Di sela-sela kami sedang mengobrol tiba-tiba datang perempuan, yang kemudian kami ketahui namanya Ipey. Ipey adalah Janda beranak tiga. Ipey dekat dengan anak-anak jalanan ini. Ipey pun kami ajak ngobrol. Ia cerita tentang kehidupan anak-anak ini. Katanya, sebagian dari mereka ada yang suka ngelem. Ipeylah yang melarang anak-anak jalanan ini ngelem, dan mereka nurut. Kegiatan yang dinamakan ngelem ini adalah kegiatan merusak kesehatan anak-anak jalanan, selain merusak, ngelem ini juga merusak imej ‘gembel’ secara keseluruhan. Dan itu tidak dikehendaki Ipey. “Abdi mah A meskipun hirup di jalan anger we hirup mah kudu baleg”, kata Ipey.

Setelah ada sekitar satu jam setengah berbincang dengan mereka. Kami memutuskan untuk pulang ke Cibiru. Galah kasih mereka kenang-kenangan pulpen, dan saya kasih mereka kenang-kenangan buku tulis. Karena Yadi dan Ipey ternyata punya fesbuk, maka saya dan Galah kasih alamat email fesbuk pada mereka, saya tulis alamatnya di buku tulis yang saya hadiahi pada mereka. Mereka terlihat senang, terutama Yadi yang memiliki akun fesbuk bernama ‘Yadi GBR’.

Pukul dua pagi, kami pulang ke Cibiru naek motor berboncengan (lima motor). . . .

Masih banyak yang ingin diceritakan, tapi berhubung sudah ngantuk yasudahlah. Karena sudah ngantuk, terpaksa saya tidak ceritakan tentang Galah dan Hyuga yang baca puisi di kebun seni dengan gayanya yang khas pikagilaeun, serta pikasebeleun. Tapi itulah mereka, menerima dirinya dengan jujur, dan saya suka. Juga saya lewatkan tentang ‘jablay’ yang diceritakan ipey; kehidupan mereka, dan tariff kalo mau pake jasa mereka (jablay). Dan masih banyak lagi . .pada 01 April 2011 jam 15:34

Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?

Info Jalan-jalan ke Gunung Puter

Buku Petite Histoire Rosihan Anwar Lengkap Sudah

Instagram @yogazaraandritra