Bercerainya Iman dan Amal Shalih

oleh: Yoga ZaraAndritra pada 30 Juni 2011 jam 3:33
Sebab tubuh dan jiwa tidak ada kaitannya, masing-masing punya otoritanya sendiri-sendiri. Tubuh punya mekanismenya sendiri, dan jiwa punya mekanismenya sendiri. Jika keduanya tidak saling kenal, wajar sebab keduanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Wajar jika keduanya saling tidak mengenal dan asing satu sama lain. Persoalannya, keduanya hidup dalam satu rumah yang sama, “manusia”. Oleh Descartes, manusia dipecah jadi dua entitas yang otonom.

Dewasa ini Descartes yang disebut-sebut sebagai bapak filsafat modern, namanya sudah jadi coreng. Sebab konon katanya, dia menganjurkan cara berpikir yang terpilah-pilah dan terkotak-kotak. Cara pikir macam ini dituduh separatis, merusak kesejatian tubuh dan jiwa. Implikasinya, menimbulkan beragam jenis penyakit. Diantaranya, alienasi. Suatu penyakit yang diidap oleh manusia masa kini, di mana dirinya asing terhadap dirinya, masyarakatnya dan lingkungannya. “aku berpikir, maka aku ada”, aku berpikir untuk diriku saja, tentang diriku saja, oleh karena itu maka aku ada.

Corak keberagamaan kita pun agaknya seperti itu. Keberimanan kita, hanya untuk diri kita sendiri. Misalnya, kita jadi asik masyuk dengan iman yang sudah kita bangun sedemikian rupa. Orang-orang tertentu bahkan membangun iman dengan sungguh-sungguh sampai fase yang paling tinggi. Di mana kenikmatan iman melebihi kenikmatan lainnya yang ada. Nikmatnya iman, jadi motivasi utama mereka, bergelut dengan sajadah (misalnya). Walau tak pernah tahu, di sekitarnya ada problem apa.

Kita liat juga dalam dunia pendidikan. Anak disekolahkan, dikerangkeng dalam satu ruang yang pengap, bajunya dipaksa untuk seragam. Kepalanya diperas habis-habisan untuk menghapal segala teori. Dan yang paling bagus hapalannya, dia memperoleh nilai tinggi kemudian dianggap pintar. Ilmu dianggap ada dalam buku dan omongan guru. Si siswa dipaksa intens menghapal teori dan petuah guru di dalam kelas. Walau dia harus tak terkoneksi dengan masyarakatnya dan dengan problem yang ada di sekitarnya.

Padahal jika ditelusuri, gaya berpikir ‘yang terspesialisasi’ mulanya ingin menyederhanakan hal-hal yang belum bisa difahami agar mudah difahami. Namun, pada perkembangannya gaya pikir macam ini malah membatas-batasi manusia itu sendiri. Tindakan-tindakan di luar batas spesialisasi yang dipilih, jadi tidak bisa ditolelir, dianggap haram dan dilarang. Sebab tindakan macam itu dianggap telah menyalahi kodrat spesialisasi yang dia pilih.

Implikasinya (dalam keberagamaan) secara tidak sadar, orang yang beriman, maka beriman sajalah. Tak perlu melakukan aktifitas lain. Orang yang beramal salih, beramal salihlah. Tak perlu melakukan aktifitas lain. Padahal keduanya mestilah jadi satu laku yang integral. Pemilahan hanya membuatnya satu sama lain jadi tak berarti. Amal salih yang tanpa didasari keimanan, ia seperti bangunan tanpa penghuni, seperti juga infrastruktur tanpa suprastruktur. Sebaliknya, iman tanpa amal salih seperti berkata bohong, “di sini sedang hujan” padahal tidak.

Iman, berurusan dengan apa yang kita yakini. Jika mengikut cara pikir yang terspesialisasi, iman bisa jadi tak perlu punya hubungan dengan amal salih. Padahal, dalam quran, tuhan sering sebut-sebut iman kemudian amal salih. Misalnya, “yang beriman dan yang beramal salih” dalam surat al ikhlas. Jika beriman saja tanpa beramal salih, kita seperti orang arab badui yang ngaku-ngaku beriman, padahal keimanannya belum diuji (sejauh mana kita mampu beramal salih setelah beriman). Peristiwa ini didokumentasikan dalam quran*.


*lupa, qurannya surat apa dan ayat berapa. hehe


Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Asal usul Reforma Agraria 1960 sampai Dipetieskan Orba

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?