Festival Budaya Sunda di Cidadap

Dok. Pribadi
Pulang diundur-undur terus, apa mau dikata ini kehendak siapa? Sudah kali ketiga aksi saya pulang tertunda. Sudah sekitar lima hari dan tiga malam saya singgah di sini, semenjak turun Gunung Rinjani. Di Kota Mataram ini, kami singgah di Sekret Mapala UMM (Universitas Muhammadiyah Mataram).

Di sini, makan kami dijamin satu hari dua kali, belum ditambah kopi beberapa kali dalam sehari, juga makanan-makanan ringan lainnya seperti gehu, pisang goreng, dan singkong goreng. Sampai di sini, kawan-kawan bisa bayangkan hidup kami makmur walau di tanah perantauan (wis, luar biasa amat). Jika ingin jalan-jalan ke mana, tinggal bilang, kawan Mapala pribumi langsung antar atau kasih kunci dia punya motor. Sekali lagi, gak perlu khawatir, di sini hidup kami makmur terjamin apa-apanya.

Batin kami pun senang. Seperti barusan dan kemarin, kami saksikan Festival Budaya Sumbawa. Kemarin, di Festival ini, saya dan Anin dijamu makan oleh Muspida yang tidak kebetulan saksikan juga festival ini. Terang saja kami senang, dan tanpa basa-basi langsung kami mangsa hidangan yang ada. Berjejer sudah hidangan khas Lombok sepanjang meja. Kami tuangkan di piring, satu persatu tentu tidak semua. Hidangan Lombok selalu ditemani sambal, sambalnya pun bervariasi, seperti di tanah Sunda sana, tanah kelahiran saya, Anin, Cepong dan Ijot Sang Fotografer.

Festival Budaya Sumbawa ini selesai besok, sudah hari ke-4 ini festival terselenggara. Setiap harinya dimulai dari pukul 8 malam sampai pukul 10 malam. Mudah-mudahan besok saya tidak saksikan karena sudah pulang menuju Bandung. Amin. Hehe.

Di festival ini hadir di antaranya orang-orang besar/ penguasa tanah local; WaGub NTB yang juga Sultan Sumbawa bernama Kaharuddin 4, Bupati Sumbawa Barat, dan WaBup Sumbawa Barat.

Nurcholis Madjid pernah berstatement dalam wawancaranya dengan Majalah Sabili. Dia bilang bahwasannya masyarakat Indonesia tidak bisa disekulerkan seperti barat, sebab nilai-nilai Islam terlalu lekat dengan adat-istiadat dan budaya mereka. Real sudah apa yang dikatakan Cak Nur, di festival ini.

Yang ditampilkan di festival ini adalah budaya mainstream. Yaitu budaya yang berurat berakar pada nilai-nilai Islam (Agama yang dianut oleh mayoritas warga NTB). Tak lihat saya ada budaya yang berakar pada nilai-nilai Hindu yang ditampilkan di festival ini. Seperti tari-tarian, lagu berkelompok (dari bapak-bapak bersarung dan berkopiah), dan lain-lainnya. Tari-tarian dibawakan oleh pria dan wanita, keduanya memakai baju yang dalam batas-batas fiqih berpakaian memenuhi syarat. Seperti sang wanitanya yang memakai jilbab. Lalu, lagu berkelompok yang dibawakan oleh bapak-bapak bersarung dan berkopiah adalah salawat yang dilagukan.

Moment ini juga, saya perhatikan, digunakan untuk mentransfer nilai-nilai positif pada masyarakat. Misalnya tentang Syukur dan visi Kabupaten Sumbawa Barat yang baru mekar yaitu KIAT. Bapak Wakil Bupati sampaikan makna KIAT diantaranya yaitu, warga Sumbawa mesti berbeda setiap saat, dan bermanfaat lebih setiap saat, menjadi unik terus menerus di tengah keseragaman dan kemandekan kebanyakan manusia yang bersikap pesimis. Dalam hymne dan mars Kabupaten Sumbawa Barat, saya sempat dengar beberapa kali ada kata optimis diulang-ulang. Itu pertanda betapa festival ini digunakan buat mentransfer nilai-nilai positif buat kemajuan dan progresifitas daerah agar tidak tergerus zaman dan rusak oleh sikap serakah segelintir orang berduit.

Untuk itu katanya, masyarakat Sumbawa mesti tercerahkan dan tidak mudah dibodohi serta kembali ke fitrah. Kira-kira begitu, pesan yang cukup menarik terjaring telinga saya.

Festival budaya ini seperti magnet, menarik minat warga Mataram untuk hadir dan menyaksikan. Warga Mataram kelihatan sangat terhibur dengan festival budaya ini. Mereka menonton berdesak-desakan hampir dekat panggung. Menonton tarian, nyanyian, dan ‘bojegan’ (lawakan).

Namun buat saya, kebudayaan selalu terdiri dari dua unsure. Unsur pertama adalah unsure ekspresi, dan unsure kedua adalah unsure substansi. Ekspresinya bisa berupa tari-tarian, lawakan, atau grup music yang menyanyi yang terdiri dari bapak-bapak berkopiah dan bersarung. Sedangkan, substansinya adalah pesan-pesan/nilai-nilai yang dianggap positif dan menimbulkan maslahat untuk disampaikan pada khalayak.

Sepertinya, melalui jalur ini, dulu Islam masuk dan menjadi massif. Pesan Islam ditransformasi melalui budaya setempat kemudian dimasifikasi ke masyarakat kebanyakan. Melalui kegiatan semacam festival budaya yang ditampilkan di taman kota atau di alun-alun kota.

Itulah setidaknya fungsi pagelaran budaya yang ditampilkan di pusat-pusat keramaian. Ia bisa menjadi tontonan yang mengasikan, namun dibalik itu kita sisipkan pesan-pesan yang maslahat. kemudian melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan menjadi akhlak

Sepanjang jalan menuju Kampus UMM saya pikirkan soal itu. Saya pikirkan soal bagaimana seandainya bila saya menyelenggarakan Festival Budaya Sunda di daerah konservasi yang kini dirusak diacak-acak oleh sekelompok orang serakah berduit. Tepatnya di daerah Pabeasan-Gunung Hawu. Buat sampaikan pesan-pesan pentingnya melestarikan kawasan agar tidak rusak kemudian lenyap.

Menggelar Festival Budaya Sunda di kawasan tersebut, menjadikan kawasan tersebut magnet. Membuatnya rame oleh lautan manusia, sehingga dikukuhkan oleh banyak pihak sebagai ruang public milik kita semua. Dengan cara itu mudah-mudahan kawasan Pabeasan-Gunung Hawu bisa diamankan dan tidak dirusak-rusak lagi.

Dari Taman Budaya tempat terselenggaranya Festival Budaya Sumbawa. Saya, Ijot dan Cepong berjalan kaki dengan santai. Sambil foto-foto di depan Pura. Terang saja berfoto-foto jadi berkesan, karena di sepanjang jalan menuju Kampus UMM dihiasi banyak Pura dan orang-orang Hindu yang beratribut khas Hindu.

Selamat malam, mudah-mudahan besok saya dkk bisa pulang ke Bandung. Amin.



* 7 Mei 2011

Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Analisis “Secangkir Kopi dan Sepotong Donat”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?

Instagram @yogazaraandritra