Nge-Camp di Pelawangan Segara Anak

Dok. Pribadi
Suaranya merdu sekali tadi pas lagi jalan, damai rasanya. Suara burung berkicau saling bersahutan, dan enggak ketinggalan ada monyet di atas pohon kanan-kiri saya, mereka bergelantungan. Sepertinya mereka lagi cari makan, atau lagi bermain sama teman-temannya sesama monyet.

Tentu saja saya tidak bertegur sapa dengan monyet, selain enggak ngerti bahasa monyet, juga sepertinya sang monyet yang melongo liatin saya, dia ketakutan. Entahlah apa sebabnya, mungkin karena kita memang berbeda. Tapi keberbedaan mudah-mudahan tidak membuat kita jadi merasa inferior atau superior di hadapan siapa pun yang berbeda dengan kita.


Jika kita merasa superior di hadapan monyet kemungkinan sikap kita jadi menindas. Misalnya, kita babad habis tuh rumah tinggal mereka yang hutan belantara. Hutan hujan milik Indonesia tercinta. Dan surga buat saya, karena berjalan kaki di hutan hujan Kawasan Rinjani ini bikin saya damai, serta banyak-banyak merenung dan bersyukur. Damai dan nikmat rasanya. Di sini, oksigen melimpah, airnya jernih dingin menyegarkan.

Kalo kita sudah berani semena-mena terhadap rumah tinggal mereka. Kemudian, di mana monyet akan tinggal? dan burung-burung akan berkicau dengan tulus, seperti di sini? Monyet dan burung kehilangan rumah tinggalnya, dan saya kehilangan surga tempat hati saya merasa damai.

Hijau daun-daun di sini, mendominasi kawasan ini. Airnya segar, dingin, dan jernih. Monyet-monyet bergelantungan di atas pohon tinggi besar, menjadi pelengkap indahnya Hutan Gunung Rinjani. Alunan suara burung berkicau bercampur baur dengan suara riak-riak efek dari menggelantungnya monyet-monyet di atas pohon. Orang bijak sering sebut situasi macam begini dengan sebutan “Harmoni”.

Pun saya bilang, ini kondisi harmoni. Memang saya tidak ekstase, tapi situasi macam ini membuat saya terkoneksi dengan alam sekitar. Hati saya menjadi damai. Saya berhenti sejenak, kemudian minum air yang ada di botol plastic yang sedari tadi saya bawa. Saya resapi situasi ini, tadi. Saya biarkan diri saya ikut hanyut, terlibat di dalam suasana yang sunyi namun ramai ini.

Di sela-sela perjalanan yang masih panjang menuju Sagara Anak. Saya istirahat sambil berpasrah untuk senantiasa terkoneksi dengan suasana hutan ini. Anin dan Ijot masih di belakang, sedangkan Chepong sudah di depan jauh melampaui saya sambil menggendong Tas Carier ukuran 60 liter.

Dari mata monyet-monyet itu, saya liat rasa takut. Sikapnya pun jadi ketar-ketir, mereka pergi menjauhi saya yang sedang terbaring istirahat. Padahal, bisa saja saya merasa takut oleh monyet-monyet itu. Mereka lebih banyak, dari saya yang hanya sendiri saat itu. Monyet-monyet itu bergelantungan di atas tempat saya istirahat. Kukunya pasti tajam dan panjang. Kalo mereka punya niat jahat ingin merampas barang bawaan saya, bisa jadi habis, saya diserbu lewat udara oleh mereka. Muka saya habis dicakar kuku mereka yang tajam. Tapi tidak, monyet tidak seganas itu, Saya tidak merasa inferior dihadapan banyak monyet yang berkuku dan bergigi tajam itu. Juga saya tidak merasa superior di hadapan mereka sehingga saya merasa berhak berlaku sewenang-wenang terhadap mereka; menjarah rumah tinggal mereka, dan mengurung mereka di sangkar-sangkar besi.

Terhadap siapa pun, saya tidak merasa harus inferior; terhadap Monyet, Burung, Harimau, Sapi, termasuk terhadap bule yang berkunjung ke sini. Rata-rata mereka berkunjung terlebih dahulu ke Bali sebelum akhirnya berwisata ke Gunung Rinjani.

Perasaan inferior yang hadir saat kita berhadap-hadapan dengan bule bisa jadi karena kita selama ini telah terlalu akut berkiblat ke barat. Sehingga, kita selalu jadi ingin terbang ke sana dan lupa menggali ada kebijaksanaan apa yang terpendam di masyarakat kita sendiri.

Karena terlalu akutnya kita berkiblat ke Barat, lantas kita jadi tidak kerasan berdiam diri di tubuh kita sendiri. Tubuh kebudayaan(sosial) maupun tubuh individual kita. Pada akhirnya selalu kita tidak pernah menjadi diri kita sendiri. Dan tidak pernah kenal diri sendiri, sebab selama ini kita memakai tubuh orang lain. Pantas jika merasa terus-terusan asing terhadap diri kita sendiri.

Berkiblat ke Barat, artinya kita menginduk ke sana. Mengamini bulat-bulat apa yang datang dari sana, walau tidak selalu cocok. Secara jujur boleh kita akui kebudayaan barat memang memiliki kelebihan daripada budaya kita. tapi hal itu jangan bikin kita menjadi naïf, menganggap segalanya yang datang dari barat benar adanya dan patut ditauladani. Sikap naïf macam itu, membuat kita jadi kehilangan control, buta terhadap sisi negative yang ditimbulkan apa-apa yang datang dari barat. Padahal, sisi negatifnya seyogyanya ditolak. Tapi apa pentingnya sisi negative yang datang dari barat jika kini kita telah selalu merasakan manisnya kebijaksanaan timur.

Pada titik itu, timur adalah surga. Sebab kita sudah merasa cukup, dengan memperoleh kedamaian/kebijaksanaan timur. Namun, pencapaian macam ini tidak mesti membuat kita, juga jadi naïf dan narsis. Sebab kebudayaan akan mati jika tidak dikembangkan, ia akan terkubur sejarah. Sudah menjadi naluri manusia untuk senantiasa saling kenal dan saling memahami sebab dengan kegiatan itu, sekaligus kita sedang berusaha mengenali diri kita sendiri. Memahami orang lain, artinya memahami diri sendiri. Dan bersikap narsis seringkali membuat kita merasa kesepian, akhirnya bunuh diri eksistensi dan enggan untuk berproses menjadi manusia (yang berbudaya). Di tangan orang-orang macam inilah, kebudayaan dimapankan (dimatikan), sampai akhirnya datang para pemberontak. Dan mengobrak-abrik kebudayaan yang mati.

Para pemberontak ini adalah orang-orang yang banyak ingin tahu, mereka tak sungkan berkenalan dengan kebudayaan asing. Tanpa mesti bersikap inferior.

Mungkin karakteristik orang-orang macam itu diantaranya ada di saya. Tapi saya tidak mau lagi gegabah dan bersikap narsis, dengan mengaku-ngaku. Sebab, saya akui saya belum berkontribusi apa-apa buat kemaslahatan masyarakat sekitar saya. Saya belum sanggup membangun tatanan masyarakat yang maslahat, apalagi membangun peradaban seperti Muhammad. Oleh karenanya, bisa difahami jika Muhammad SAW narsis, mengaku sebagai utusan Tuhan, dan dirinya dimaksum dari dosa. Sebab dia telah membuktikan bahwa dirinya mampu membangun peradaban. Haleluya.

*ditulis di dalam tenda, 30 April 2011, Pelawangan Sagara Anak (Kawasan gunung Rinjani)

Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Di Pinggir Jalan, Jalan Braga

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?

Instagram @yogazaraandritra