Buku Petite Histoire Rosihan Anwar Lengkap Sudah


Jika tidak hari sabtu maka hari ahad saya bersama pacar saya Lulu Nurmila, berkunjung ke Gramedia Merdeka di jl. Dago atau ke Toko Buku Togamas di jl. Buah Batu. Sabtu kemarin, tanggal 21 April 2012 sepulangnya Lulu menjadi juri di Acara Semarak Kartini yang diadakan Yayasan Al-Mujtahidin Cidadap. Saya antar dia ke Gramedia Merdeka untuk mengambil beberapa buku yang disukainya, buku-buku seputar fesyen.

Kesukaannya memang di bidang fesyen akhir-akhir ini, setelah sebelumnya ia suka melukis dan panjat tebing. Di fesyen dan di make up tepatnya hobinya kini. Tak tanggung-tanggung, ia membuat semacam WO (Weding Organized), meski sebetulnya belum terorganisir dengan rapi. Ia sudah berani-beraninya membuat kartu nama untuk usahanya “De Butu Profesional Make Up” dan berani menerima tawaran menjadi juri di acara peragaan busana daerah tingkat Madrasah Ibtidaiyah.

Buat saya, Lulu adalah orang yang terbuka dan penuh percaya diri. Meski penuh percaya diri, ia kerap kali bersikap konyol. Misalnya, saat ia menjadi juri peragaan busana daerah, ia pernah ketiduran sampai-sampai lendir di mulutnya keluar. Bayangkan tepat di depan panggung dan tengah bersama juri lainnya melakukan penilaian terhadap peserta peragaan busana, ia tertidur dan mengeluarkan lendir pula. Hal itu ia ceritakan pada saya seusai ia menjadi juri. Mungkin justru karena ia bermental penuh percaya dirilah, ia jadi tidak begitu apa-apa saat ada kejadian memalukan menimpa dirinya.

Hari saat ia menjadi juri, karena permintaan dari panitia acara yaitu Lulu Nurmila sebaiknya memakai kebaya, maka ia pun memakai kebaya, dipadukan dengan sandal berhak tinggi. Sandal yang dipakainya berwarna putih, Lulu yang saya tahu kurang lihai memakai pakaian wanita pada umumnya, hari itu diharuskan memakai kebaya dan sandal berhak tinggi. Bisa ditebak apa yang kemudian terjadi, ia tidak nyaman dengan apa yang dikenakannya, baju kebaya yang dikenakannya membuatnya gerah dan tidak betah. Serta saat berjalan terhitung dua kali jatuh, karena memakai sandal berhak tinggi. Sampai-sampai di sela-sela ia usai terjatuh karena tidak lihai mengenakan sandalnya, mulutnya berucap, “si Tia (adiknya yang berkuliah di UPI) tiap hari pake sandal kayak gini ke kampusnya”.

Saat ia menjadi juri di acara tersebut, saya mengantarnya dan terus ada di lokasi acara sampai Lulu usai menjadi juri. Seusai ia menjadi juri kemudian kami menuju ke Toko Buku Gramedia. Sementara saya melihat-lihat buku sastra, politik, antropologi, dan filsafat, ia melihat buku-buku fesyen dan make up. Saya tidak tahu, judul buku fesyen atau make up apa yang ia ambil, karena buat saya tidak begitu penting hal itu. Waktu itu yang penting buat saya adalah dua buku ini, yang dilihat dari judulnya saling bertentangan. Buku itu masing-masing berjudul “Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara; dari Zaman Hindia Belanda Hingga Pasca Kemerdekaan RI” (1) dan “Teosofi, Nasionalisme dan Elite Modern Indonesia” (2).

Yang tersebut pertama memaknai Gerakan Teosofi dan yang terkait dengannya adalah bagian dari Gerakan Yahudi yang ingin menjauhkan warga pribumi yang mayoritas Islam dari ke-Islamannya. Sedangkan judul buku yang kedua lebih berfokus pada pembahasan tentang Gerakan Teosofi yang banyak kontribusinya bagi kemerdekaan Indonesia melalui faham-fahamnya. Bagi saya, dua buku ini menarik sebab saya diajak untuk masuk ke dalam dua perspektif sejarah yang saling berbeda atau berlawanan. Dua buku itu kemudian Lulu ambilkan dan kini dua-duanya ada di rumah saya serta sedang dibaca.

Ahad, 22 April 2012 M

Keesokan harinya, saya mengantar Lulu ke Pasar Baru membeli kain dan beberapa barang yang dibutuhkannya. Di jalanan Kota Bandung yang macet sekaligus panas, sebetulnya saya sangat malas dan berkeberatan mengantarnya. Tetapi apa boleh buat, demi mendukungnya mengembangkan bakatnya dibidang jait menjait membuat kebaya (fesyen) saya dengan berat hati mengantarnya meski harus terjebak di kemacetan dan di suasana panas Kota Bandung.

Alhamdulillah, saat dikonfirmasi “Lu, bakalan lama enggak di dalemnya atau nanti bakalan nyari-nyari dulu lokasi pedagangnya?” dia bilang “enggak, aku langsung ke lokasi yang dituju udah itu langsung pergi”. Sontak saya gembira, sebab biasanya saat belanja di pasar baru ia kerap mengajak saya ke sana ke mari sampai pegal kaki.

Beres dari pasar baru langsung saya tancap gas menuju Museum Asia-Afrika. Keadaan Kota Bandung sudah tidak begitu macet dan hujan baru saja usai mengguyur kota, sisa-sisa hujan berupa gerimis menemani perjalanan kami menuju museum. Museum sedang mengadakan acara yang lumayan besar, kalau saya tidak salah baca, acaranya yaitu hari jadi Konferensi Asia-Afrika. Acaranya lumayan besar panggung besar-besar ditancapkan di lokasi. Terhitung ada dua panggung besar dan satu panggung kecil, sisanya dipakai untuk stand-stand tertentu yang memamerkan barang-barang daerah sekaligus memasarkannya.

Lebih dari itu, sebetulnya saya kangen ke Kang Adew musisi Balada dari Ledeng, yang sosoknya sudah saya kenal sejak tahun 2007. Ia jenaka meski umurnya terpaut jauh dengan saya, tak segan-segan bersikap akrab menggauli orang-orang dibawahnya seperti saya. Itulah yang membuat saya kangen padanya, di samping suaranya yang merdu dan lagu-lagunya yang menginspirasi serta bersemangat.

Karena sudah puas bertatap muka dengan Kang Adew dan sedikit berbincang tentang sesuatu yang aduh saya sudah lupa apa perbincangannya. Kemudian saya memutuskan untuk berkunjung ke Toko Buku Togamas di jl. Buah Batu. Oiya, di acara tersebut Kang Adew beritahu saya bahwasannya kawan-kawan saya dari Kampus UIN Bandung yang tergabung dalam grup musik etnik Mapahlayung juga datang dalam rangka mengisi acara museum, tak tanggung-tanggung berjumlah sepuluh orang personilnya.

Tiga buku yang saya pesan kemudian Lulu ambil di Togamas, yaitu Buku Karangan Rosihan Anwar Petite Histoire dari Jilid dua- Jilid tiga (3). Tiga jilid buku itu ternyata menjadi pelengkap buku sejenis, yaitu Petite Histoire Jilid satu (4) yang saya pinjam dari teman bekas wartawan foto Kompas, kini bekerja lepas menjadi wartawan foto, informasi terakhir yang saya terima mengenai dirinya ialah, foto-fotonya dipamerkan di Jerman dan di media online luar negeri (Urban Time) maupun dalam Negeri (National Geografic Indonesia), ia bernama Arum Tresnaningtyasdayuputri.


Catatan Kaki:
(1)    Artawijaya. 2010. Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara; dari Zaman Hindia Belanda Hingga Pasca Kemerdekaan RI. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.
(2)    P. Nugraha, Iskandar. 2011. Teosofi, Nasionalisme dan Elite Modern Indonesia. Depok: Komunitas Bambu.
(3)    -  Anwar, Rosihan. 2009. Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia Jilid 2. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
-          Anwar, Rosihan. 2009. Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia Jilid 3. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
-          Anwar, Rosihan. 2010. Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia Jilid 4. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
(4)    Anwar, Rosihan. 2004. Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia Jilid 1. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Di Pinggir Jalan, Jalan Braga

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?

Instagram @yogazaraandritra