Membicarakan Ikhlas


oleh Yoga ZaraAndritra pada 15 Mei 2012 pukul 0:27 ·

Selalu ada kesempatan bagi saya untuk meninjau ulang paham saya tentang sesuatu. Kali ini saya tertarik meninjau ulang paham saya tentang ikhlas. Ikhlas sebagaimana yang saya pahami dan cerap dari orang-orang pintar di sekitar saya, biasanya sering dimaknai sebagai satu kegiatan baik yang tanpa tendensi subjektif apa pun. Itulah ikhlas.

Saya jadi teringat Kant. Immanuel Kant adalah filsuf Prusia yang konon katanya selama hidupnya tak pernah beranjak dari kampung halamannya. Ia sering disebut-sebut sebagai pemikir besar, yang berhasil mendamaikan dua faham yang berseteru, yaitu rasionalisme dengan empirisisme. Sebenarnya ulasan Kant yang seperti itu kurang begitu penting diungkapkan di sini. Yang penting adalah pemikirannya tentang moralitas, sebab ada kaitannya dengan paham ikhlas yang dalam tulisan ini jadi fokus pembicaraan.

Bagi Kant suatu tindakan menjadi bernilai moral jika tindakan itu semata-mata diperuntukan demi kewajiban (saya pandang, kewajiban dalam konteks pemikiran Kant mengandaikan adanya kekuatan eksternal yang memaksa, kekuatan itu biasanya hadir melalui teks-teks keagamaan yang diimani oleh penganutnya). Misalnya, bersikap jujur dalam berdagang itu wajib dalam agama, namun jika si pedagang bersikap jujur tidak demi kewajiban itu sendiri melainkan demi mendapat pelanggan tetap dan disenangi pembeli, maka sikap jujur si pedagang tidaklah bernilai moral. Bandingkan dengan paham ikhlas di atas yang selama ini mendominasi pikiran saya, ada benang merah yang bisa ditarik, ada kesamaan yaitu sama-sama menentang tendensi (kecenderungan-kecenderungan subjektif).

Buat saya kini beribadah meski memiliki alasan yang manusiawi, atau tujuan yang manusiawi. Misalnya, saya solat, agar pacar saya pun ikut-ikutan mau solat atau selalu mengajak pacar saya solat berjamaah, agar cinta yang terjalin menjadi semakin erat ikatannya. Atau buat saya, tidak ada yang salah dengan bersikap jujur kepada pembeli demi untuk mendapat pelanggan tetap dan disenangi pembeli. Sebab justru dengan itu beribadah jadi terasa lebih hidup. Tinimbang beribadah dengan ikhlas, beribadah demi kewajiban beribadah itu sendiri tanpa tendensi apa pun, lurus-lurus saja dan datar.

Tuhan yang selama ini saya posisikan sebagai sosok di luar diri, berimplikasi pada paham beribadah hanya semata-mata untuk tuhan yang an sich, dan itu tidak manusiawi, setidaknya buat saya. Sebab bagi saya, beribadah atau bertuhan adalah kegiatan memahami diri dan memanusiakan diri. Oleh karenanya, tuhan saya posisikan di dalam diri, ia tidak butuh apa-apa dari kita, namun ia selalu mengundang kita untuk senantiasa menemuinya, undangannya mengajak kita masuk ke relung-relung diri kita yang paling samar.

Terlebih di beberapa tempat entah dalam hadits atau dalam quran, saya sempat membaca keterangan yang menyatakan bahwasannya tuhan tak butuh apa pun dari kita. Pun, ia tak butuh ibadah kita. Maka itu sudah cukup menjadi alasan saya untuk tidak lagi memakai mode beragama seperti komputer yang diprogram oleh pembuatnya, mode beragama yang seperti mesin, bergerak namun tak punya kehendak.

Keterangan-keterangan tentang cara beribadah kepada tuhan yang beraneka ragam yang tertera dalam quran atau hadits cukup saya pandang sebagai rujukan teknis, adapun selebihnya kitalah yang memaknainya, memberi darah dan memberi nyawa. Jadi buat saya, tak ada yang salah dengan cara beribadah dengan maksud-maksud manusiawi seperti beribadah dengan maksud seperti di atas. Walaupun mode beribadah macam ini bisa berakibat pada ketidakonsistenan dalam beribadah, misalnya, kita beribadah hanya pada saat ingin dapat pelanggan tetap dan disenangi pembeli, saat sudah disenangi pembeli dan mendapat pelanggan tetap lantas tidak beribadah lagi. Namun justru itulah cara beribadah yang paling manusiawi dalam pandangan saya. Sebab mode beribadah seperti itu membuat kita melek realitas, dan sadar diri sedang dalam kondisi apa sehingga mampu menempatkan laku-laku yang bernilai ibadah pada kedudukannya yang fungsional.

Hemat saya lebih baik beribadah seperti itu, tinimbang beribadah hanya sekedar sambil lalu, sekedar prasarat, atau sekedar memenuhi prosedur administratif untuk dapat tiket masuk surga. Sehingga berimplikasi pada hilangnya vitalitas (daya hidup) kita dalam beribadah.

Lalu tentang ikhlas, saya pandang sebagai laku/kegiatan berbuat baik dalam koridor beribadah secara total tidak sekedar. Totalitas yang saya maksud adalah mampu memposisikan ibadah pada posisinya yang sangat-sangat fungsional untuk menunjang kehidupan manusia kita. bukankah itu yang dikehendaki agama Islam, ia hadir karena memang selaras dengan fitrah insani kita, bukan sebaliknya?

Mudah-mudahan Barokah... Haleluya !!

Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Analisis “Secangkir Kopi dan Sepotong Donat”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?

Instagram @yogazaraandritra