Menyekap Lulu Nurmila di Museum KAA

Lulu Nurmila. (dok. pribadi)
Hari ini seperti biasa, aku selalu kangen Lulu; kangen alisnya, kangen rambutnya, kangen senyumnya, kangen polosnya dan kangen kejujurannya. Dari sekian banyak kangen yang aku sebut, di alisnya, aku seperti melihat hamparan padi yang menguning siap untuk di panen, ah alisnya. Dari matanya terpancar jiwa yang tegar, lugu dan jujur.

Setelah hujan, motor habis bensin di jalan, aku tetap bertekad bertemu Lulu. Semua hambatan mesti diatasi kata Nietzsche, begitulah sikap seorang Ubermench. Ia senantiasa hidup di dalam hambatan, kemudian ia atasi satu persatu hambatan yang melingkupinya. Demi apa? Demi merealisasikan segala potensi yang terpendam ada di dalam diri.

Setiap manusia sudah tentu punya potensi mengasihi dan menyayangi, begitu juga aku sebab aku manusia. Potensi ini mesti terealisir agar ia real menjadi sesuatu yang nyata dan terasa, tidak habis sampai batas imajinasi dan fantasi saja. Dalam hal ini tentu saja Lulu, oleh Lululah potensi ini mesti terasa real.

Di antara aku dan dia, tuhan kasih ruang buat aku merealisasikan potensi tersebut. Potensi ini tidak serta merta jadi, terealisir menjadi bentuk kasih sayang yang bulat mampat. Ada proses yang mesti dilalui, meski tidak melulu berdarah-darah. Proses merealisasikan potensi yang saya maksud misalnya dengan berlari-lari kecil menghampiri Lulu, sambil berkata (agak berteriak), “Lulu aku datang!”. Pada saat itu, settingan tempatnya tiba-tiba menjadi romantic, waktu sekitar diputar sebegitu lambat, lari-lari kecilku jadi terasa begitu heroic, gerakanku menjadi begitu lambat dan lambat.

Ya Lulu semacam objek buatku, semacam sasaran anak panah hatiku, semacam wadah tempat menampung sayang (atau mungkin cinta). Namun ia bukanlah objek dalam ruang lingkup seorang kapitalis. Yaitu saat Lulu dipandang tak lebih daripada benda, yang sah diapa-apakan; dieksploitasi tubuhnya misalnya, atau ia dirusak sehingga ia tinggal seonggok wanita tak bernilai. Ah bukan relasi macam itu yang aku inginkan, yang aku inginkan adalah relasi saling memanusiakan. Saat aku atau dia menjadi Ubermench kata Nietzsche. Yaitu seseorang yang piawai mengatasi hambatan, membangun dunianya sendiri melalui karya, dan saling menyemangati untuk sampai ke atas.

Lulu, kalian tahu? Dan mestinya kalian tahu, hobinya adalah melukis, dan nyeket (bikin sketsa). Kemarin saja kami janjian di Toko Dipa jalan ABC. Di mana Lulu membeli peralatan Sketch. Ia, aku jemput di sana dan hendak aku sekap di Museum KAA. Disekap sambil tadarusan buku “The Bandung Connection” karya Mbah Roeslan Abdulgani, Bab 11 berjudul “Pidato Para Ketua Delegasi dalam Sidang Pleno Terbuka”, difasilitatori oleh Lina dari Sastra Inggris Unpad.

iseng wee ieu mah......pada 30 Oktober 2011 pukul 12:26



Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?

Info Jalan-jalan ke Gunung Puter

Buku Petite Histoire Rosihan Anwar Lengkap Sudah

Instagram @yogazaraandritra