Membicarakan Halallan Thoyyiban

Link gambar
Alhamdulillah saya tidak telat pergi ke masjid untuk solat jumat hari ini. Jumat yang lalu padahal saya sama sekali tidak solat jumat, sebabnya ketika adzan berkumandang saya baru mandi, dan di kamar mandi saya keasikan mandi, sehingga setelah beres mandi ritual solat jumat sudah selesai. Khutbahnya sungguh sangat sebentar, pantas saja yang khutbah adalah kakek saya, waktu itu. Dia terkenal sebentar jika khutbah.

Jumat kali ini saya tidak telat, datang ke masjid 20 menit sebelum adzan. Ketika masuk masjid saya mengucapkan doa masuk masjid, dan sebelum duduk di lantai masjid terlebih dahulu saya solat sunnah dua rakaat. Entah solat sunnah apa itu namanya, saya sudah lupa, fadilllah dari solat sunnahnya pun saya sudah lupa. Pantas saja, sebab buku agama sudah tidak lagi menjadi buku utama saya saat ini.

Seiring berjalannya waktu, ingatan demi ingatan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan agama, berguguran dilupakan. Meski sudah lupa apa nama spesifik dari solat sunnah di atas dan tak ingat lagi apa fadillahnya, namun setidaknya saya masih melakukan dan meyakini ritual-ritual macam itu penting dilakukan buat kesehatan rohani dan jasmani.

Ada yang menarik dari khutbah kali ini, pengkhutbahnya bernama Kang Iwan Caca Gunawan, masih muda dan kelihatan bercahaya saat berkhutbah. Isi khutbahnya membicarakan soal perintah tuhan dalam quran yang berbunyi makanlah makanan yang halallan thoyyiban. Saya kurang begitu mengerti bagaimana penulisan yang benar dari istilah arab bercetak miring yang saya tulis. Yang pasti jika istilah itu dilafalkan bunyinya akan seperti yang saya tulis. Mudah-mudahan bisa dimaklum.

Halallan thoyyiban terdiri dari dua kata yaitu halal dan thoyyib. Makanan yang dikategorikan halal adalah makanan yang secara zatnya dan cara mendapatkannya (illat) tidak keluar dari koridor aturan agama yang telah ditetapkan. Sebagai seorang muslim tentu saja kita tahu, makanan yang haram (tidak halal) dimakan secara zat adalah diantaranya; babi, khamr, marus, dll. Adapun makanan yang tidak halal secara illat/ cara mendapatkannya yaitu seperti makanan yang didapatkan melalui cara-cara yang tidak baik seperti; menipu, korupsi, dll.

Menariknya dari pembicaraan makanan halal ini adalah, tatkala tuhan konon katanya mengisyaratkan bahwasannya asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh kita mempengaruhi akhlak kita. Misalnya, saat makanan yang masuk ke dalam tubuh kita adalah makanan yang halal maka akhlak kita akan baik, sebaliknya jika kebanyakan makanan yang masuk ke dalam tubuh kita adalah makanan yang tidak halal maka akhlak kita akan menjadi tidak baik.

Dan kata thoyyib memiliki pengertian baik dan sehat. Artinya makanan seorang mukmin tidak hanya mesti halal melainkan juga sehat dan baik. Saya kira, halallan thoyyiban mesti dipandang sebagai satu konsep yang utuh yang jika dipilah-pilah akan menghasilkan satu pemahaman yang timpang. Misalnya hanya mementingkan aspek halal saja atau thoyyib saja.

Agaknya, jika konsep halallan thoyyiban ini diterapkan dan diberi pengertian yang lebih luas dalam konteks Orang Indonesia yang masih saja bermental inlander, mungkin kita tidak akan minum coca-cola yang kita tahu sendiri adalah salah satu perusahaan multinasional yang merenggut kedaulatan ekonomi bangsa Indonesia. Atau kita tidak akan lagi membeli Aqua yang membuat air di tempat asalnya menjadi tidak gratis.

Konsep halallan thoyyiban saya kira sah jika pengertiannya diperluas sampai ke ranah-ranah pembicaraan mana sistem yang baik dan mana sistem yang tidak baik atau sistem yang memeras. Sehingga misalnya, produk-produk dari sistem yang tidak baik atau memeras bisa masuk kategori tidakhalalan thoyyiban, dan maka tidak layak dimakan atau dibeli.

Mudah-mudahan barokah.........haleluya !!


Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Asal usul Reforma Agraria 1960 sampai Dipetieskan Orba

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?