Jalan Hidup yang Diridhai Alloh, Perspektif A.A. Navis

Cover Buku 'Robohnya Surau Kami'. (Foto:Net)
Saya yakin diantara kalian ada yang belum baca cerpennya A.A. Navis berjudul 'Robohnya Surau Kami', meskipun cerpen ini sudah sangat populer. Cerpen ini termaktub dalam kumcernya A.A. Navis juga sama berjudul 'Robohnya Surau Kami'. Tepatnya ada 11 cerpen yang dimuatkan di kumcer ini. Diantaranya; Robohnya Surau Kami, Anak Kebanggaan, Nasihat-nasihat, Topi Helm, Datangnya dan Perginya, Pada Pembotakan Terakhir, Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, Penolong, Dari Masa ke Masa, dan Biografi Singkat.

Saya temukan buku kumcer A.A. Navis ini diantara jejeran buku-buku yang berdebu kamar saya. Entah ini buku siapa, namun saya coba menduga-duga setelah membaca cerpen 'Robohnya Surau Kami', pasti ini bukunya Lulu pacar saya, ah memang dia kerap kali menyisipkan hal-hal berkualitas di sela-sela hidup saya yang membosankan. Terima Kasih, setidaknya hari ini saya bisa bersemangat kembali beraktifitas.

Coba kalian baca, ini saya akan kutifkan lintasan kalimat yang menjadi gagasan utama Cerpen Robohnya Surau Kami. Sangat berkualitas.
"....kenapa engkau biarkan dirimu melarat hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadah saja, karena beribadah tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh kau semuanya beramal disamping beribadah. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja. Tidak....."
Semua jadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka apa jalan yang diridhai Allah di dunia.

Ada cerita dalam cerita, Ajo Sidi yang dikenal sebagai pembual di kampung itu, tiba-tiba bercerita pada seorang kakek yang sejak muda kerjaannya cuma beribadah dan menjaga Surau di kampung itu. Kepada si kakek, Ajo Sidi bercerita tentang Haji Saleh yang kerjaannya di dunia cuma beribadah seraya melupakan persoalan keumatan, lalu di akhirat dia masuk neraka. Tuhan melaknat tipikal manusia seperti Haji Saleh, sebab ia terlampau egois dan sombong, melupakan persoalan kemanusiaan dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Setelah mendengarkan cerita Ajo Sidi sang pembual, si kakek terguncang, ia marah dan geram kemudian keesokan harinya ia bunuh diri menggorok lehernya menggunakan pisau Ajo Sidi, yang dititipkan Ajo Sidi untuk diasah oleh si kakek (si kakek punya kerjaan sampingan mengasah pisau).

Dalam cerpen di atas setidaknya ada tema krusial yang relevan buat kaum beragama negeri ini. Melalui Cerpen Robohnya Surau Kami, A.A. Navis menyindiri kaum beragama yang hanya puas dengan suatu konsep iman tertutup, iman yang tidak berelasi dengan kenyataan. Iman yang sengaja dipenjarakan dalam ruang kesadaran anti orang lain, atas nama Alloh. Dikiranya Alloh gila pujian dan mabuk disembah. Padahal tidak.

Diantara diktum yang terkenal di kalangan mereka yaitu, 'dengan iman sebesar biji sawi, maka kita akan mampu memindahkan gunung' atau 'jika aqidahmu benar, maka benarlah segala urusan'. Melalui dua diktum itu, ada banyak orang yang tertipu, mereka jadi sibuk mengurusi aqidah dan imannya, pertanyaan utamanya hanya seputar 'sudah benarkah aqidah dan imanku?', sementara persoalan lainnya yang berkait dengan orang banyak diabaikan. Mereka jadi sibuk mengurusi dirinya sendiri, sebabnya 'aku takut masuk neraka'. Padahal di sampingnya ada kemiskinan, kemelaratan, sampah yang menggunung, ruang publik yang menjadi jarang, anak jalanan yang tidak tersekolahkan, dan ketidaksejahteraan-ketidaksejahteraan lainnya. Yang kemudian hari akan dimanfaatkan oleh segelintir orang yang butuh suara menjelang pemilukada atau pemilu-pemilu lainnya.

Padahal di samping dua kalimah di atas ada kalimah yang tak kalah berkualitasnya, yaitu 'sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain' atau 'sekali hidup berarti sudah itu mati'. Orang yang hidupnya berarti buat dirinya dan orang lain sejatinya dia tidak mati, sebab dia akan selalu hadir dan tindakannya semasa hidup menjadi inspirasi buat orang-orang yang masih hidup.

Di akhir cerita, si kakek bunuh diri menggorok lehernya. Mungkin dia penasaran dengan apa yang diceritakan Ajo Sidi, oleh karenanya si kakek ingin lekas bertemu Alloh dan menanyakannya langsung padanya, "benarkah jalan yang diridhoi-Nya adalah jalan yang dipaparkan oleh Ajo Sidi melalui cerita?" Begitulah dugaan saya, sebab tak ada penanda yang menunjukan bahwasannya si kakek menyesal dengan jalan yang selama ini ia tempuh. Sehingga bunuh diri akan ditafsir sebagai tindakan putus asa, karena semua yang dia lakukan tak berarti di mata Alloh. Justru dalam cerita, si kakek digambarkan tengah marah, geram dan ingin menggorok Ajo Sidi kalau saja si kakek masih muda. Mungkin si kakek yakin jalan yang selama ini ia tempah adalah jalan yang diridhoi Alloh, oleh karenanya ia menggorok lehernya dan ingin lekas-lekas bertemu Alloh menanyakan langsung perihal ini padanya. Jika ia masuk neraka berarti Ajo Sidi yang benar namun jika si kakek masuk surga Ajo Sidi tidak benar.

Sekian dan terimakasih, mudah-mudahan bermanfaat. Bravo, Salam Olahraga !
Yoga ZaraAndritra, Juni 2012

3 comments

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Analisis “Secangkir Kopi dan Sepotong Donat”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?

Instagram @yogazaraandritra