Manusia Sebagai Subjek (yang Beragama)



oleh Yoga ZaraAndritra pada 29 Maret 2011 jam 18:14

Puisi di bawah ini, jika diamat-amati sepertinya tiadalah (atau sedikit sajalah) ada diselipi metaphor yang indah-indah dan yang menjulang melayang-layang di langit, atau sampai pembaca kelas elit susastra berdecis kagum setelah membaca puisi ini ( lantas memuji-muji, mengabarkan pada kita yang amatiran dalam membaca dan memaknai puisi, “hendaknya, dalam membuat puisi mencontoh pada puisi macam itu yang di sana-sini diselipi metaphor yang menjulang dan indah”).

KARYA LUKISAN


Pelukis bisa bicara tentang manusia
dalam karya lukisannya
Manusia dalam karya lukisan
tak bisa bicara tentang pelukisnya

Aku adalah karya lukisan Tuhanku
aku bisa bicara tentang pelukisku
Jika aku bicara
bicara aku dalam tafakur


(Remy Sylado)

Puisi ini mungkin biasa-biasa saja, namun mengingatkan saya pada modus keberagamaan yang menekankan pada subjek (yang beragama). Bagaimana manusia diposisikan sebagai subjek yang beragama, bukan lagi objek yang beragama. Bagaimana manusia diposisikan sebagai pusat, bukan lagi pinggiran yang tak punya kuasa, sekalipun atas dirinya.

Di bait ke-2 peran ‘aku’ begitu dominan, ini menandakan bahwa ‘aku’ di situ berfungsi sebagai pusat (subjek) yang berbicara (membicarakan pelukis/tuhan). Pemosisian manusia sebagai pusat (subjek) telah sekaligus merevolusi paradigma yang selama ini dipakai oleh masyarakat (khususnya Islam) dalam beragama. Bahwa paradigma yang menyatakan, ‘manusia untuk agama (tuhan)’ tidak lagi berlaku. Sebaliknya, jika manusia diposisikan sebagai pusat, maka paradigma keberagamaan yang berlaku ialah, ‘agama (tuhan) untuk manusia’.

Secara ontologis, Tuhan, diyakini ada-Nya. Pada saat itu, iman kitalah yang menjadi penyangga, Tuhan secara ontologis ada. Namun, disadari atau tidak, Tuhan/gagasan tentang Tuhan sudah setua manusia itu sendiri, ada di muka bumi. Setiap ada penyangkalan tentang gagasan adanya Tuhan, saat itu pula gagasan adanya Tuhan akan selalu ada. Gagasan tentang tuhan, ada begitu saja; adanya, entah diadakan (diciptakan) atau tercipta begitu saja dalam diri manusia. Terlepas dari perdebatan tentang itu, sebagian masyarakat Islam meyakini bahwa, di samping secara ontologis Tuhan itu ada, secara epistemologis, ada-Nya bisa diketahui melalui teks (Qur’an dan As-sunnah).

Tekslah yang kemudian diyakini memiliki otoritas memberi putusan mana yang benar dan mana yang salah pada seorang muslim. Sebab teks adalah segala-galanya, agama yang paripurna (Islam) terdokumentasi di situ. Suatu ijtihad/pendapat tanpa merujuk pada teks dikatakan sesat/salah. Dengan kata lain, tak ada yang benar di luar teks.

Jika teks demikian sakralnya di mata sebagian umat Islam dan secara aksiomatik kita membenarkan bahwa tak ada yang benar di luar teks. Maka, persoalan yang muncul dalam keyakinan macam ini adalah persoalan penafsiran. Menafsir secara kreatif atau menafsir secara pasif? Orang yang menafsir secara pasif, biasanya memposisikan dirinya sebagai objek dari tafsir yang telah ada (atau dari agamanya yang telah ditafsir). Dan orang yang menafsir secara kreatif cenderung memposisikan dirinya sebagai subjek dari agamanya.

Telah ditulis di atas, ada dua macam penekanan seseorang dalam beragama. Ada yang menekankan bahwa manusia hanyalah objek dari agamanya. Dan ada yang menekankan bahwa manusia adalah subjek dari agamanya. Agama yang saya maksud di sini, bisa berarti Tuhan atau bisa juga berarti teks.

Manusia sebagai objek dari agamanya. Biasanya, orang yang memiliki pandangan macam ini menempatkan teks beserta tafsirannya yang telah ada sebagai sesuatu yang telah selesai. Dipandang, bahwa dirinya hanya tinggal mencocok-cocokan diri dengan tafsiran yang telah ada dan dianggap baku (selesai/mapan). Sekalipun antara tafsiran dengan realitas manusianya tak memiliki korelasi yang signifikan. Manusia yang memposisikan diri sebagai objek dari agamanya, mereka biasanya lebih memilih sikap ittiba/taklid (meniru-niru) kaitannya dengan tafsir menafsir teks. Dan bersikap tertutup terhadap tafsiran-tafsiran yang mungkin.

Sebaliknya, manusia yang memposisikan diri sebagai subjek dari agamanya. Mereka akan senantiasa memilih untuk kreatif, melakukan pembacaan terhadap teks secara kritis-logis dan selalu bersikap terbuka terhadap tafsiran-tafsiran yang mungkin. Baginya, tafsiran tentang Tuhan tidaklah tertutup hanya satu tafsir saja. Baginya, tafsiran tentang Tuhan teruslah berkembang, berproses-menjadi.

Objektivikasi manusia dalam wilayah tafsir keagamaan biasanya digunakan oleh mereka para penafsir yang medukung kebakuan dalam penafsiran. Pembakuan/pemapanan tafsiran atas teks biasanya tidak mentolerir adanya kebaruan dalam tafsir atas teks. Adonis, dalam bukunya berjudul ‘Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam’, mengisaratkan bahwa refresi ‘yang mapan’ terhadap ‘yang baru (yang berubah)’ telah lama terjadi di dunia Arab-Islam. Dari situ, saya bisa ambil hikmah bahwa tafsir atas ‘Islam’, khususnya di Arab, menjadi tidak berkembang karena setiap ada muncul penafsiran baru selalu ditekan oleh mereka yang mendukung tafsir lama (mapan/baku).

Pada saat itu, kebanyakan muslim dipaksa untuk mengunyah tafsir yang telah dimapankan. Juga biasanya, tafsir macam ini menganut visi yang bercorak kesatuan dan tidak mentolerir pluralitas kecuali dalam batas-batas yang tidak mengganggu prinsif (ushul). Meminjam bahasa Hubermas, pada titik ini, manusia (muslim) telah dijajah oleh system. Tentu saja, system dalam konteks ini adalah system tafsir yang telah dimapankan.

Untuk meraih kembali kedaulatan manusia sebagai makhluk yang “bicara tentang pelukisnya”. Misalnya, saya memilih untuk memposisikan diri sebagai subjek dari agamanya. Yang menafsir agama secara kreatif serta mengamini kebaruan (dan perubahan). Pada titik ini antara keyakinan dan apa yang diyakini tidaklah terpisah jauh atau bahkan tidak lagi berjarak. Sebab pada saat itu, manusia telah menjadi subjek atas dirinya dan atas apa yang dia imani.

Itu bisa dilihat dari puisi di atas baris ke-5 yang berbunyi, “Aku adalah karya lukisan Tuhanku”. Bait ini adalah semacam pengakuan atau fase kesadaran yang tidak tanpa perjalanan. Yaitu fase kesadaran, di mana ia (penyair) berkata amin atas adanya sosok transenden yaitu Tuhan. Setelah dalam bait sebelumnya ia (penyair) mengutarakan tentang amatan-amatanya terhadap yang ada di dunia (manusia dan karya lukisan manusia). Pengakuan macam itu adalah pengakuan imani menandakan telah terjadinya proses penubuhan iman. Yaitu, saat ia tidak lagi memandang iman ada dalam teks, saat itu, iman sudah inheren /diproses masuk dalam dirinya. Menubuh; menjadi darah dan daging dalam tubuhnya.

Iman yang semata-mata hanya terpampang dalam teks, ia berjarak dengan penganutnya, adalah iman kaum beragama yang memposisikan dirinya sebagai objek dari teks. Sebab iman yang menubuh adalah iman kaum beragama yang memandang dirinya sebagai subjek atas agamanya (teks/tuhan).

Dalam puisi di atas, manusia sebagai subjek tidak hanya saat ia berperan jadi pelukis, juga saat ia berperan jadi karya lukis. Manusia berbicara tentang pelukisnya dan karya lukisannya.



Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Asal usul Reforma Agraria 1960 sampai Dipetieskan Orba

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?