Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”


oleh Yoga ZaraAndritra pada 04 Januari 2011 jam 23:55

Link gambar
Cerpen Jujur Prananto berjudul “Doa Yang Mengancam” mengingatkan saya pada cerita Raja Midas dan Cerita Nobita dalam serial kartun Doraemon. Raja Midas adalah Raja yang menginginkan apa pun yang ia sentuh menjadi emas. Naas, Raja Midas celaka oleh permintaannya sendiri, apa pun yang ia sentuh menjadi emas. Pun tentang Nobita, ia sahabat baik robot kucing dari masa depan bernama Doraemon. Setiap Nobita dalam kesusahan dan menginginkan sesuatu di luar batas-batas kemampuan Nobita (sebagai Nobita) ia kerap meminta bantuan Doraemon untuk mengeluarkan sesuatu dari kantong ajaibnya. Namun, sesuatu yang ia minta dari Doraemon pada akhirnya selalu berbalik membuat Nobita celaka.

Sepertinya cerpen Jujur Prananto ini juga mau kasih pesan pada kita bersyukurlah dan terimalah diri kita apa adanya. Lalu berusahalah sekuat tenaga, jadilah manusia paling bersyukur, lejitkan potensi-potensi yang ada di dalam diri dengan kerja dan usaha sendiri. Singkirkan mentalitas instant dan jadilah manusia yang mencintai proses.

Dalam cerpen Jujur Prananto ini tokoh utamanya bernama Monsera. Monsera adalah lelaki miskin yang tinggal di pinggiran Kota Ampari. Ia ingin lepas dari keadaan kehidupannya yang miskin, lantas ia berdoa.

“Ya Tuhan, bertahun-tahun aku berdoa pada-Mu, memohon agar Kau lepaskan aku dari kemiskinan yang sekian lama menjerat kehidupanku, tapi nyatanya sampai kini aku tetap miskin dan bahkan bertambah miskin, hingga aku menganggap bahwa Engkau tak pernah mendengar doaku, apalagi mengabulkannya. Karena saat ini aku sudah tak punya apa-apa lagi selain badan dan sepasang pakaian yang kukenakan, aku ingin memohon pada-Mu untuk yang terakhir kali. Kalau sampai Matahari terbit esok hari Engkau tak juga mengabulkan doaku, aku mohon ampun pada-Mu untuk yang terakhir pula, sebab setelah itu aku akan meninggalkan-Mu.”

Monsera mengira doanya tak akan dikabul. Namun kemudian, saat setelah Monsera disambar petir. Ia dirawat oleh keluarga Sinaro pada saat itu ia jadi tahu bahwa dirinya telah dikaruniai kemampuan lebih yaitu bisa mengetahui masa lalu seseorang hanya dengan melihat fotonya/ bisa mengetahui kejadian di masa lalu tentang seseorang hanya dengan melihat fotonya. Kabar tentang kemampuan fantastic Monsera segera tersebar ke pelosok Negeri Salaban. Orang-orang berbondong mendatanginya. Monsera pun diganjar emas, uang, dan apa pun yang berharga oleh orang-orang yang mendatanginya karena telah membantu mereka. “Sampai akhirnya pemerintah negeri Salaban mendengar pula kehebatan Monsera, lalu mengangkat Monsera sebagai pejabat khusus di kepolisian dengan gaji yang sangat tinggi, dan memberinya tugas melacak para penjahat yang melarikan diri.”

“Monsera pun menjadi orang yang kaya raya. Dan di tengah-tengah kekayaannya yang melimpah itu, ia merasa telah berhasil mengancam Tuhan lewat doanya.”

Setelah kaya raya, Monsera pulang ke rumah hendak membawa ibunya tinggal bersama dirinya. Tak sengaja Monsera melihat foto ibunya yang masih muda. “Cantik sekali”, kata Monsera. Monsera melihat masa lalu ibunya berkelebatan di benaknya.

“Seorang wanita bernama Lastina berdandan di muka cermin. Malam hari dia berjalan di kaki lima mengenakan pakaian seronok, melambaikan tangan pada setiap kereta kuda yang lewat, sampai salah satu berhenti dan membawanya pergi... Sekilas nampak Lastina digauli seorang pria... Lastina hamil, gagal menggugurkan kandungan, merayu seorang preman jalanan untuk minta dinikahi... Lastina menikah dengan preman itu... Si preman kaget setelah tahu Lastina hamil... Si preman meninggalkan Lastina begitu saja... Lastina melahirkan anaknya... Dan diberi nama Monsera.”

Ternyata ibu Monsera adalah seorang pelacur. “Ini pasti salah! Tak mungkin ibuku seorang pelacur!”. Lantas ia berdoa kembali pada Tuhan, “Aku sungguh bersyukur Engkau telah memberiku rezeki yang melimpah, ya, Tuhan, tapi sekarang tolong bebaskan aku dari keahlianku melihat masa lalu, dan kembalikan aku sebagai manusia biasa.”

Dikira Monsera anugrah yang selama ini ia terima adalah berasal dari setan. Sebab, mana mungkin Tuhan malah membuatnya menderita seperti saat ini. Maka ia berkata pada setan, “Hai, setan! Jangan kau siksa aku dengan pemberianmu yang justru membuatku menderita. Kembalikanlah aku seperti manusia biasa! Kalau kau tidak mau melakukannya, aku akan kembali mengabdi pada Tuhan!”

Kemudian, petir pun menyambar Monsera. Orang-orang berbondong membawa Monsera ke rumah sakit kenamaan. Setelah sadarkan diri, Monsera jadi tahu, ternyata kini dirinya dikaruniai kemampuan melihat masa depan seseorang, hanya dengan melihat wajahnya. Monsera kelelahan menampung emas yang berkarat-karat dan uang yang berjuta-juta sebab kemampuannya kini bertambah dahsyat; bisa melihat masa lalu dan masa depan. Lantas ia pergi ke kamar mandi lalu bercermin dan melihat masa depan dirinya.

(Kali ini yang nampak ialah seorang lelaki kaya raya berwajah letih yang merasa bosan dengan kekayaannya, menyamar sebagai rakyat bersahaja dan lari dari rumahnya sendiri di malam yang sunyi.Sekelompok penjahat mencegatnya, menodongkan senjata mereka ke tubuh laki-laki ini dan menghardiknya keras.

“Serahkan semua uangmu!”

“Saya tidak bawa uang sesen pun. Semua saya tinggal di rumah. Ambillah sesuka kalian kalau kalian mau.”

“Jangan main-main! Serahkan uangmu sekarang juga!”

Laki-laki ini mengulangi jawaban yang sama, hingga para penodongnya marah dan menghunjamkan senjata mereka berkali-kali ke tubuhnya.

“Tidaaaak!” Monsera berteriak. “Aku tidak mau mati dengan cara begituuu!!!”
Tapi kali ini Monsera tak tahu lagi kepada siapa ia harus berdoa.)

Dari sedikit synopsis Cerpen Jujur Prananto berjudul “Doa Yang Mengancam” yang saya paparkan di atas, bolehlah saya memandang Monsera sebagai symbol ‘manusia modern’ yang diperbudak oleh karyanya sendiri. Manusia modern yang saya maksud adalah manusia yang serakah, yang kemudian melahirkan satu mentalitas yang bernama, ‘mentalitas kapitalis’. Mentalitas yang menginginkan segala kenikmatan ada padanya namun dengan cara yang teramat instant.

Pada mulanya, segala yang ia pinta segala yang ia buat sebagai permintaan bertujuan buat membahagiakan Monsera. Namun, setelah terwujud segala permintaannya itu. Monsera malah terjebak dan celaka di dalamnya. Monsera tidak bahagia. Monsera ditampilkan sebagai manusia masa kini yang mencipta teknologi. Mulanya teknologi itu dibuat sebagai instrument memperoleh kebahagiaan, tapi pada perkembangan selanjutnya manusia malah diperbudak oleh teknologi yang ia bikin sendiri. Teknologi malah berbalik membuat celaka. Mulanya mengkonsumsi itu hanya sebagai kegiatan antara agar bisa hidup dan kemudian memperoleh kebahagiaan. Tapi pada gilirannya mengkonsumsi itu menjadi tujuan, mengkonsumsi buat mengkonsumsi.

Dengan teknologi, produksi menjadi semakin massif. Manusia masa kini beroleh manfaat darinya. Segala macam produk dihasilkan, guna menjadi katrol buat terwujudnya apa yang dinamakan kebahagiaan dan kenikmatan. Lantas manusia masa kini mengira bahwa hanya dengan mengkonsumsi layanan-layanan yang dihasilkan teknologilah manusia bisa bahagia. Mereka terjebak di dalam kesadaran bahwa teknologi mampu memproduksi kebahagiaan, mereka ketergantungan pada teknologi. Rasa bosan pun perlahan mulai tumbuh pada produk teknologi tertentu. Lantas, manusia masa kini menuntut percepatan produk teknologi, manusia masa kini menuntut kebaruan setiap saat.

Rasa bosan yang terus menerus hinggap dalam diri manusia masa kini membuat ia tak bisa keluar dari satu kegiatan siklis yang tak berujung. Yaitu konsumsi, konsumsi dan konsumsi. Mengkonsumsi menjadi tujuan itu sendiri bukan sebagai kegiatan antara yang menghantarkan manusia pada tujuannya.

Fesbuk misalnya, mulanya adalah sarana mendekatkan manusia satu dengan yang lainnya yang berjauhan lokasi. Menghubungkan agar lebih dekat lagi. Pada perkembangan selanjutnya bagi manusia-manusia tertentu yang termakan jargon (atau motto) fesbuk, malah membuat pengguna fesbuk mengalienasi diri dalam fesbuk. Mereka malah menjadi manusia-manusia yang mengasingkan dirinya dari lingkungan sekitar. Mereka, jadi manusia-manusia yang hidup di dunia fesbuk. Mereka jadi tidak lagi benar-benar terkoneksi dengan dunia yang pada mulanya disepakati sebagai dunia real/dunia nyata.

Secara maya, mereka, para pengguna fesbuk boleh jadi senang dan bahagia berfesbuk ria. Namun, di sisi yang lainnya, mereka dikondisikan untuk selalu merasa kesepian, agar fesbuk kembali mereka buka, buka dan buka. Siapa yang diuntungkan? Adalah dia yang berkepentingan dengan adanya fesbuk, dan pemilik fesbuk itu sendiri. Secara tidak sadar, jika semua orang di dunia ini terjebak dalam fesbuk. Maka, sesungguhnya dunia tengah dikendalikan oleh beberapa orang melalui instrument bernama fesbuk. Sebab fesbuk adalah penyampai jitu satu pola kebiasaan yang diinginkan elit yang berkepentingan dengan adanya fesbuk.

Massifikasi satu kebiasaan atau pola kebiasaan yang pada mulanya hanya dikerjakan oleh beberapa akademisi di Harvard telah membuat kegiatan berfesbuk menjadi budaya massa. Manusia autentik yang dimaksud Heidegger menjadi kurang begitu bermakna. Saat seluruh manusia terjebak pada satu pola budaya massa sebab setiap manusia telah terkondisikan sedemikian rupa oleh beberapa orang saja melalui instrument-instrument yang mereka ciptakan. Gejala kelupaan akan yang real telah Heidegger sittir beberapa puluh tahun ke belakang.

Keterjebakan manusia dalam karya yang mereka cipta telah membuat kesadaran manusia menjadi tidak khas manusia lagi. Manusia telah terdehumanisasi pada saat dirinya terjebak pada benda yang ia cipta sendiri. Budaya massa telah membendaisasi manusia. Manusia telah terjebak pada satu pola yang tak berujung, yaitu mengkonsumsi untuk mengkonsumsi. Mereka terpenjara di dalamnya. Padahal, manusia adalah makhluk satu-satunya yang bisa mempersoalkan keberadaan dirinya. Oleh karenanya, Heidegger menyebut manusia sebagai makhluk yang ber-eksistenz. Satu-satunya makhluk yang mampu mengambil jarak terhadap dirinya (eksistenz berarti mengambil jarak) dan lalu mempersoalkan keberadaan dirinya.

Maka dalam pandangan saya, manusia autentik adalah manusia yang mampu mempersoalkan keberadaan dirinya. Ia tidak senantiasa lupa akan Ada-nya. Ciri manusia yang lupa akan Ada-nya, ia tidak lagi mempersoalkan keberadaan dirinya, ia tidak lagi mempersoalkan keterjebakan dirinya pada benda yang ia cipta. Manusia yang lupa akan Ada-nya merasa dunia sudah berjalan seperti seharusnya, dunia dipandang baik-baik saja.

Gejala kelupaan akan Ada-nya telah membuat manusia masa kini terasing dari dirinya, dari lingkungan sekitarnya, dari sejarah leluhurnya dan dari keluarganya. Sebab mereka sudah tidak lagi mengenal apa yang pada mulanya asali berada dalam dirinya. Dan terjebak dalam ruang kebendaan, dalam ruang yang pada mulanya mereka cipta sebagai sarana antara. Mereka terasing; implikasi dari perasaan terasing, tak jarang adalah marah, berontak serta sikap-sikap destruktif lainnya.



* Ditulis sebelum berangkat ke kampus, stasion kereta api kircon dan lalu insyaalloh ke …..(titik titik). Haha

* Buat Nita, pendapat tentang cerpennya jadi panjang…haha


2 comments

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Di Pinggir Jalan, Jalan Braga

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?

Instagram @yogazaraandritra