Pabrik Multi dan Zaman Eksploitasi

Gn. Pabeasan, Kp. Lempegan-Cidadap, Ds. Padalarang (Dok. Pribadi)
Tidak ada yang salah dengan perubahan, hanya saja mungkin kita kalah cepat dari mereka. Mereka duluan sadar bahwasannya alam beserta isinya adalah hak setiap orang untuk diapa-apakan (begitu menurut undang-undang kita konon katanya kini). Setiap orang punya hak yang sama untuk mengelola sumber daya yang ada di alam ini. Persoalannya cuma pada, ‘siapa cepat?’ tentu saja maka ‘dia dapat’. Jika semua orang punya hak yang sama, maka yang membedakan antara masing-masingnya adalah, inisiatif, kreatifitas, dan kecepatan dia mampu mengubah mimpinya/kehendaknya menjadi kenyataan dalam konteks memberdayakan/memperdayakan alam. Bukankah itu soalnya?


Demokrasi, tak ada lagi tuhan, kepengurusan alam ini diserahkan sepenuhnya pada manusia. Manusialah sebagai pusat, dialah satu-satunya penguasa di dunia ini. Alam adalah objek yang mesti dimanipulasi, direkayasa, ditaklukan sedemikian rupa hingga ia seturut dengan kita. Anthroposentris kita sering sebut ini zaman.

Fokus kita bukan lagi pada bagaimana mengelola alam, agar seturut sebangun dengan kehendak tuhan, yang semula kita anggap alam beserta isinya adalah titipan tuhan, yang mesti kita jaga dan kita lestarikan sedemikian rupa. Kini, tak ada lagi tuhan untuk urusan mengelola alam, tuhan telah kita kudeta dari singgasananya sebagai penguasa alam. Sebab katanya, adanya tuhan malah menjadi penghambat kreatifitas manusia.

Sudah, kita tidak lagi bersaing dengan jin, setan, roh-roh penasaran penunggu; gunung, pohon besar, mata air di kaki bukit dan lain-lainnya, yang sering menakut-nakuti dan kita takuti saat hendak menguasai dan mengeksploitasi sumber daya alam. Kini kita bersaing dengan sesama kita,yaitu manusia. Sebab tuannya yang maha gaib sudah kita kudeta, tuhan.


Zaman itu telah berlalu, zaman yang kerap kita sebut dengan Zaman Theosentris. Berbahagialah! Inilah era di mana manusia sebagai pusatnya. Manusialah yang kini seolah-olah menentukan segala-galanya, dalam urusan menggauli alam, tidak selainnya.

Implikasi dari konsep diri macam itu, alih-alih melahirkan mentalitas bertanggung jawab (seperti yang digadang-gadang Sartre, kebebasan atau ketiadaan tuhan membuat manusia bertanggungjawab) justru malah sebaliknya. Terutama, pasca revolusi industri, manusia jadi semakin eksploitatif terhadap lingkungan tempat ia tinggal, seakan-akan tidak bakal muncul masalah kala lingkungan tempat ia tinggal hancur luluh lantak, ditambang, misalnya. Foto di bawah ini kiranya cukup mampu mengabarkan soal itu. Soal manusia yang abai terhadap lingkungan sekitarnya. Sehingga melahirkan kerusakan-kerusakan kecil yang tidak mustahil berujung pada bencana; longsor, kekeringan, polusi dll.

Sebut saja kampung itu Pamucatan, satu daerah di mana Gn. Pabeasan dan Gn. Hawu bercokol, pun penambangan. Baik penambangan yang berijin maupun yang tidak, beserta pabriknya, yang terbesar bernama multi.

Pabrik Multi, seperti yang terlihat di foto. Luasnya bertambah-tambah, tahun 2007 tepatnya pabrik ini memperluas diri sampai tepat di bawah area panjat tebing (T. 125). Pihak pabrik menyerobot tanpa tedeng aling-aling tanah yang semula adalah milik desa yang diperuntukan buat lapangan sepak bola dan olahraga warga. Tanah yang semula bukan milik pabrik tiba-tiba jadi milik pabrik. Telisik punya telisik pihak pabrik membuat kesepakatan dengan pihak desa untuk mendapatkan tanah tersebut tanpa sepengetahuan warga setempat.

Tebing 125, Dulu dan Sekarang (Karst Citatah Pamucatan, Desa. Padalarang, Kab. Bandung Barat/Foto: Mamay Salim)



Bisa difahami, kenapa pihak pabrik ingin memperluas wilayahnya. Bisnisnya makin maju, maka mau tidak mau, ia mesti memperluas kawasannya. Alhasil, ruang publik (tanah desa untuk warga) jadi ruang privat (milik pabrik). Di situ ada hak-hak warga Pamucatan yang direnggut. Kampung Pamucatan alhasil susah air, polusi udara terjadi di sekitar, juga polusi suara (bising suara mesin pabrik).

Mudah-mudahan barokah, bravo salam olahraga !


2 comments

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Asal usul Reforma Agraria 1960 sampai Dipetieskan Orba

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?