Berita Duka, Beberapa Kelinciku Mati



8 hari (14-21 Juli) ditinggal ke Gunung Semeru, lima kelinci angora saya mati, 40 ekor belut saya pun juga mati. Mungkin saya agak tergesa-gesa. Beternak dua jenis hewan ini tanpa mengantongi terlebih dahulu ilmunya di kepala. Ah, sedih saya rasakan, terlebih kabar duka matinya hewan-hewan ternak saya itu saya terima saat saya baru sampai di stasiun kereta api Kota Baru Malang, perjalanan pulang. Bahagia bercampur duka; di satu sisi saya bahagia karena telah mencapai puncak Gunung Semeru dengan kondisi kedua lutut cedera, namun di sisi lain hewan peliharaan saya mati saat saya tidak berada di samping mereka, sedih sekali.

Kabar duka itu saya terima dari adik saya Mahlusi melalui sms. Hati saya terpukul waktu itu, hampir-hampiran saya putus asa akut, saya merasa tidak berguna, hewan selucu kelinci dan segesit belut tak bisa saya urus dengan bijaksana. Sudah jelas saya tidak cukup ilmu buat urus mereka, pantas mereka cepat menemu ajal. Perasaan tidak berguna ini telah menggiring saya untuk berniat tidak akan urus mereka lagi, saya putus asa waktu itu, ingin cepat pulang dan lekas menghibahkan kelinci yang tersisa pada siapa pun yang mau menerima.

Tapi perasaan putus asa itu tidak sampai ikut pulang, ia tidak sempat terealisasi ke dalam sebentuk aksi di Padalarang. Di Surabaya, kebetulan, atau bukan kebetulan, ini pasti kehendak tuhan supaya saya bangkit dan tidak terpuruk terjebak di kubangan perasaan putus asa. Saya menemukan tulisan singkat tentang seseorang yang pelihara kelinci angora, jatuh bangun ia pelihara kelinci angoranya. Sudah urus berapa kelinci, kelincinya selalu mati, saya lupa lagi berapa kelinci yang sudah ia urus kemudian mati. Tapi ia tetap bertahan, meyakinkan dirinya bahwasannya ia layak dan bisa urus kelinci. Alhasil, ia pun bisa, dari setiap kelinci yang ia urus terus mati, ia selalu mengambil pelajaran. Kini ia punya banyak kelinci angora.

Setelah baca kisah di tulisan itu, yang terlampir di koran Jawa Pos yang saya temukan di stasiun Gubeng Surabaya. Saya beroleh energi besar buat tidak putus asa, dan tak kenal menyerah belajar urus kelinci dengan baik dan benar.

Sebelum saya berangkat, memang sudah ada gejala bahwa kelinci kecil berwarna coklat sedang sakit. Dari keterangan tentang penyakit kelinci yang saya beroleh dan kemudian akur dengan gejala di lapangan yang diderita sang kelinci ialah, kelinci bersangkutan tidak lincah, dia murung, susah makan, dan jantungnya berdetak cepat. Semua itu adalah gejala si kelinci sedang sakit. Biasanya sakit yang diderita ialah perut kembung atau mencret. Dua penyakit ini bila diderita manusia mungkin akan dipandang sebagai penyakit enteng tapi buat kelinci dua penyakit ini adalah penyakit akut yang bisa membuat kelinci menemu ajal.

Setelah dianalisis gejala yang muncul di kelinci saya, saya berkesimpulan bahwasannya kelinci saya mengidap penyakit mencret. Sebab sebelumnya saya tidak mengikuti kaidah memberi makan kelinci dengan benar. Saya malah tetap memberi kelinci minum saat makanan yang disuguhkan padanya adalah makanan hijau-hijauan atau dedaunan. Seharusnya itu adalah pantangan, menyajikan air bersamaan dengan makanan hijau. Makanan hijau mengandung klorofil, walaupun makanan hijau yang disuguhkan pada kelinci sudah layu (sesuai aturan, memberi makanan hijau tidak boleh dalam kondisi segar, mesti dalam kondisi sudah layu), sehingga klorofilnya sudah tidak aktif. Namun jika disajikan dengan air, klorofil yang sudah tidak aktif dalam makanan hijau kelinci akan aktif kembali, jika bersatu dengan air minum. Menurut keterangan yang saya dapat, klorofil itulah yang membuat sang kelinci mengidap mencret.

Adapun 4 kelinci lainnya yang mati, adalah kelinci yang baru berumur dua hari. Mereka mati, menurut cerita yang dituturkan ibu saya, mati oleh induknya sendiri tubuhnya digigiti oleh induknya sendiri sampai kulitnya terkelupas hingga berdarah-darah. Kedengarannya memang ngeri, tapi begitulah mekanisme kelinci mengeliminir sesamanya, disinyalir kelinci yang oleh ibunya disadisi adalah kelinci yang ‘tidak layak hidup’ (bibit jelek). Hmm, mekanisme hidup macam itu hanya berlaku buat kelinci, buat manusia, nanti dulu.

Namun meski 4 kelinci yang baru lahirku mati dan 1 yang sudah agak besar mati. Saya anggap itu bagian dari proses yang harus saya lalui buat menjadi pemelihara kelinci yang matang dan bijaksana. Tidak ada alasan lagi buat putus asa, orang lain pun pasti melalui jalan yang sama, mereka pasti tergopoh-gopoh, jatuh sebelum akhirnya menuai sukses. Hehe

Cidadap, 2012

Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Analisis “Secangkir Kopi dan Sepotong Donat”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?

Instagram @yogazaraandritra