Lebaran Kelas Pengangguran

Lebaran tahun 2012. Dok. Pribadi
Saya pun bergegas mandi. Segenap keluarga besar Bapak Atik sudah siap sedia untuk berangkat ke tempat solat idul fitri. Sudah selesai mandi, pintu rumah di kunci. Bergegas saya jalan menuju lokasi salat id.

Di perjalanan, ada seorang wanita yang berjalan tepat di depan saya. Bajunya bagus karena baru, warnanya putih gemerlap, mukanya bermake up. Namun jalannya tertatih-tatih, seperti kesusahan dia berjalan. Ah memang betul, dia setengah susah sungguh saat berjalan. Ooh pantas saja, dia memakai sepatu hak tinggi, lancip pula, gemerlap bertabur pernak-pernik seperti intan berlian menempel di tali sepatunya.

Betapa tidak, jalan di sini teksturnya bergelombang, aspalnya sudah porak poranda. Bayangkan di kondisi jalan yang seperti itu, ada juga wanita yang sudi memakai sepatu macam itu. Saat berjalan, wanita itu sesekali mengaduh, dan terlihat kepayahan. Huuh, betapa dia penuh perjuangan menuju tempat tujuan. Salut !

Hari ini memang istimewa. Hampir seluruh warga kampung ini berkata 'iya ini memang hari istimewa' (doktrin eksistensialisme luluh sirna di tempat ini, seperti kehabisan daya maknanya). Artikulasinya bermacam-macam. Ada yang seperti wanita di depan saya itu. Ia berani bersusah-susah sungguh asal memakai baju baru dan sepatu gemerlap ber-hak tinggi. Ada pula yang, ah terlalu detail jika harus saya uraikan di sini. Beraneka rupa, ragam dan bentuk artikulasi.

Tapi meskipun begitu, terlalu penting jika saya harus melupakan fenomena akbar yang berlaku hampir di seantero nusa Indonesia ini, yaitu mudik. Salah satu bentuk artikulasi dalam rangka memaknai idul fitri. Ya, terlalu penting jika harus tidak disebut-sebut barang sedikit saja, kata 'mudik' ini di sini.

Menjelang hari raya idul fitri, bangsa yang besar ini sebagiannya berbondong-bondong pergi ke kampung halaman. Sebuah upaya melawan lupa; lupa keluarga, lupa kampung halaman, lupa saudara jauh, lupa ibu-bapak, lupa tetangga, lupa kawan dan lupa ia punya asal. Jika pun ada yang tidak mudik. Idul fitri tetap dimaknai sebagai 'kembali mengingat dan mengenal'.

'Kembali ke kesucian', maknanya sudah sedemikian luas ketika didaratkan di ranah kehidupan manusia kita. Ada yang memaknainya pulang ke kampung halaman, seperti sudah saya singgung tadi. Ada pula yang sekedar salam-salaman berkeliling ke kerabat dekat/kerabat jauh masih di kampung halaman, seperti yang saya lakukan. Atau ada pula yang mengukus uangnya ke amplop untuk dibagi-bagikan ke adik-adiknya dan saudara dekatnya yang masih di bawah umur.

Adapun saya, yang sudah di atas umur namun belum memiliki penghasilan berupa uang, berada di posisi netral. Maksudnya tidak mengukus uang untuk dibagi-bagikan, juga tidak berhak menerima uang sebab sudah berada di atas umur. Posisi paling rasional untuk orang seumuran saya mestinya mengukus uang untuk dibagi-bagikan ke adik-adik dan saudara dekat saya yang masih di bawah umur. Namun apa daya, saya adalah orang yang masuk ke golongan pengangguran. Ke sana tidak, ke situ belum ada kemampuan. Haha

Memang hari ini hari yang istimewa, secara alamiah orang-orang berbondong menginventarisir saudara-saudaranya yang sudah hampir di lupa ke lemari ingatannya. Suasana hangat di jalan makin hangat antar sesama saudara, misalnya dengan relasi berbagi amplop berisi uang atau salam-salaman keliling kampung. Hari ini, kelas-kelas sosial menjadi tak relevan, seperti sengaja dilebur secara alamiah untuk barang sejenak. Setidaknya di kampung ini. Aura kesetaraan terasa begitu pekat. Hari ini memang istimewa. Meski tanpa revolusi, tanpa partai, aura kesetaraan begitu kental. Setidaknya di kampung ini.

Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Asal usul Reforma Agraria 1960 sampai Dipetieskan Orba

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?