Asal-usul Kenapa Dinamai “Parapatan Arab”


Saya adalah orang yang dekat sekali dengan ibu, sekarang, terlebih-lebih waktu masih kecil.  Ibu saya orangnya senang bercerita, sebagai anak kecil, dulu tentu saja saya merasa dimanjakan, maksudnya imajinasi saya dimanjakan oleh cerita-cerita yang dilontarkan ibu. Alhasil kini saya senang berhayal dan selalu kepingin tau (bahasa anak sekarang, “kepo”). 

Setiap cerita tentu saja mensyaratkan ada akhir, akhir dari satu cerita buat saya selalu adalah awal petualangan imajinasi saya, meski cerita sudah berakhir insting kepo saya selalu menuntun saya untuk mengajukan pertanyaan “bagaimana kelanjutannya?”. Dan jika tak ada kelanjutannya, saya akan mengaktifkan imajinasi saya supaya ia merangkai-rangkai sendiri cerita kelanjutannya. Berkhayallah saya di situ di tempat itu, sambil diam, jalan atau sambil makan.

Suatu ketika, ibu saya bercerita tentang masa MA-nya yang tidak mudah. Ibu saya masuk MA sekitar akhir tahun 80-an, tepatnya tahun 87. Sebenarnya tahun ini tahun hasil tebak-tebakan saya, benar sukur, tidak benar ya perbaiki. Atas dasar apa saya menebak tahun MA (Madrasah Aliyah) ibu saya tahun 87, atas dasar perhitungan, saya lahir tahun 89 awal, ibu saya menikah tahun 88 kelas dua MA, berarti ibu saya masuk MA tahun 87, iya kan? Masa MA ibu saya dihabiskan dua tahun, artinya tidak sampai selesai.

Beliau bersekolah di Madrasah Aliyah Negeri 1 Cijerah. Untuk ukuran tahun 80-an, Padalarang-Cijerah itu jauh. Sebabnya, ibu saya menuturkan, belum ada ojeg, belum ada delman kala itu, dari Kampung Cidadap menuju tempat lalu lalang mobil mesti di tempuh dengan jalan kaki, sekitar 3 kilometer jauhnya. Orang Padalarang, terutama  orang Cidadap kini familiar menyebut tempat itu Parapatan Arab. Tempat itu sekarang jadi pangkalan ojeg.

Ibu saya menuturkan, jika beliau kebagian sekolah pagi, beliau mesti berangkat subuh-subuh sehabis solat subuh. Karena itu tadi, selain jarak dari Cidadap ke Parapatan Arab mesti ditempuh dengan jalan kaki dan memerlukan waktu yang tidak sedikit, pun jarak Padalarang-Cijerah memerlukan waktu satu jam tempuh. Dan jika ibu saya kebagian sekolah siang, ia sering pulang  malam, alhasil ia mesti dijemput.

Setiap hari, jika ibu saya sekolah siang, pulangnya selalu ada yang menjemput. Yang menjemput ibu saya ke Parapatan Arab, adakalanya kakaknya adakalanya bapaknya. Sungguh tidak mudah menjalani hidup sebagai pelajar di tahun-tahun itu, yang jalannya tidak seramai sekarang dan sarana yang ada belum semudah sekarang.

Lalu saya bertanya kepada ibu saya, “kenapa mesti jauh-jauh sekolah ke Cijerah, emang di Padalarang tidak ada lagi sekolah setingkat MA?”. Kemudian, ibu saya menjawab, dirinya yang lulusan Tsanawiyah Padalarang harus melanjutkan ke Madrasah Aliyah (tidak ke SMA atau SMK), karena jika tidak melanjutkan ke ‘Sekolah Formal Agama’, akan menjadi tidak nyambung katanya (atau beliau bilang ngatog). Dan sekolah yang dimaksud hanya ada di luar Padalarang kala itu, jika tidak di Cijerah berarti ke Pesantren Persis Pajagalan. Tentu saja ibu saya memilih sekolah ke Cijerah karena jaraknya lebih dekat dari Padalarang. Sekitar tahun 90-an baru ada Madrasah Aliyah di Padalarang, empat adik-adiknya bersekolah di situ.

Awal tahun 90 belum ada jalan babakan loa yang kini menjadi jalan delman, oleh karenanya waktu itu belum ada delman. Akses terdekat dari cidadap menuju pusat kota Padalarang yaitu Tagog (di mana Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah berada), melalui tempat yang kini dinamai Parapatan Arab. Alhasil, orang Cidadap-Kepuh-Cipadangmanah yang bersekolah di Tsanawiyah atau Aliyah yang ada di Tagog mesti melalui Parapatan Arab. Bayangkan anak-anak yang bersekolah di Tsanawiyah atau Aliyah itu tiap pagi berbondong menuju tagog atau saat siang tiba mereka pulang melalui Parapatan Arab. Tentu saja yang wanita, mereka memakai kerudung. Jangan dibayangkan kerudung yang mereka pakai adalah kerudung yang neko-neko kayak kerudung zaman kita ini, kerudung anak sekolahan di era itu menjulur sampai ke dada.

Tak salah lagi, Parapatan Arab menjadi tempat yang familiar buat mereka anak-anak Kepuh-Cidadap-Cipadangmanah yang kebanyakan bersekolah di Tsanawiyah dan Aliyah. Mereka mesti melalui tempat ini untuk menuju Tagog. Nama Parapatan Arab yang kini kita kenal adalah semacam gerbang seseorang keluar-masuk dari perkampungannya, atau sebagai penanda saja seseorang itu keluar-masuk dari perkampungan ke jalan raya (akses terhadap kendaraan guna menuju tempat tujuan).

Nama Parapatan Arab disematkan masyarakat Cidadap-Kepuh-Cipadangmanah, karena menurut penuturan ibu saya, di tempat ini sering terlihat fenomena keluar masuk wanita-wanita yang memakai kerudung yang tak lain adalah anak-anak yang bersekolah di Tsanawiyah dan Aliyah, alhasil masyarakat menamainya Parapatan Arab. Harus diingat, di tahun-tahun itu, pelajar di sekolah-sekolah milik pemerintah dilarang memakai kerudung. Sehingga ada fenomena anak sekolah memakai kerudung, banyak pula, hilir mudik melalui satu tempat,  tentu saja menjadi hal yang tak wajar dan menarik perhatian. Tak aneh bila masyarakat menamai gerbang tempat anak-anak sekolah berkerudung keluar menuju jalan raya atau masuk dari jalan raya menuju ke perkampungannya dinamai Parapatan Arab. Meskipun sebenarnya nama ini kurang tepat, dan lebih tepatnya adalah Pertigaan Arab. Sebab tempat ini tidak membentuk perempatan jalan, melainkan hanya pertigaan saja.  Adapun menurut saya kenapa menjadi ‘parapatan’ tidak ‘perempatan’ itu lebih karena factor pengucapan oleh lidah Sunda saja.


Tambahan:
-          - Tsanawiyah setingkat dengan SMP
-          - Aliyah setingkat dengan SMA
Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Analisis “Secangkir Kopi dan Sepotong Donat”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?

Instagram @yogazaraandritra