Dari Remaja Masjid ke Pemuda Tani

Pic by Gugum
Suatu hari, Asep nama orang itu, ia berujar dalam Bahasa Sunda, “Tingali we Cidadap bakal jadi center, center kagiatan” (lihat saja, Cidadap bakal jadi pusat kegiatan). Ucapan itu tercetus saat saya dan Opi sedang berkunjung ke rumahnya. Berkunjung ke rumahnya hanya untuk hal sepele yaitu mendengarkan cerita-cerita perjuangan beliau di masa lalu, bersama kakek saya (Bapak Atik), membangun Cidadap. Bagi saya dan Opi, Bah Asep adalah kokolot (orang tua) yang senang bercerita dan masih bisa diajak bicara layaknya orang muda, semangatnya masih menggebu-gebu, nada bicaranya tegap berdiri. Lain halnya dengan kakek saya yang cenderung pendiam dan bicara seperlunya. Namun meskipun begitu, kakek saya adalah referensi ilmu buat Bah Asep.

Waktu itu, saya, Opi, Hasan dan kawan-kawan lainnya sedang giat-giatnya mengorganisir diri dan berkarya semampunya dalam satu wadah organisasi yang bernama Remaja Masjid al-Mujtahidin-Nurul Falah. Sudah tentu, kami semua sepakat, bahwasannya masjid adalah ruang buat siapa saja berkumpul dan berkarya, tak terkecuali anak muda. Tempat itu, bukan sekedar rumah ibadah yang di dalamnya masing-masing individu sibuk mengurusi kepentingan personal dirinya dengan Tuhan. Masjid mesti berdimensi sosial juga, mesti memenuhi fungsi-fungsi sosialnya. Oleh karena itu, di Masjid dan di halaman depannya, kami kerap kali mengadakan apresiasi-apresiasi musik, dan kesenian lainnya, perlombaan menggambar, melukis, pidato dll. Meski pada perjalanannya ada sebagian orang tua yang agak sinis dengan kegiatan kami ini.

Atas dasar realitas itu, melihat keaktifan anak muda Kampung Cidadap yang tergabung dalam wadah organisasi Remaja Masjid al-Mujtahidin-Nurul Falah, agaknya Bah Asep mau menyemangati kita dengan satu pernyataan yang bombastis di atas sehingga kita makin aktif dan nyatanya, waktu itu memang segala kegiatan berskala kecamatan diadakan melulu di Cidadap. Menurut pengakuannya, pernyataan itu pernah ia ungkapkan sebelumnya, saat Masjid al-Mujtahidin belum sebesar sekarang, itu artinya beberapa puluh tahun ke belakang, sekitar tahun 80-an, serta saat kegiatannya belum semasif sekarang. Di samping memang, beliau adalah pendukung utama kami secara moril (kadang-kadang materil) saat ada beberapa orang tua yang sinis.



Tidak ada alasan buat kami untuk tidak menjadikan Bah Asep sebagai tokoh inspiratif yang menyemangati, yang darinyalah anak muda seperti kami mesti banyak belajar. Pasalnya, selain suport dirinya atas kegiatan yang kami lakukan beliau juga adalah orang yang mula-mula membuktikan bahwasannya menjadi petani bukanlah profesi yang murahan. Saat orang-orang berlomba mengejar status PNS dan mengejar status buruh pabrik, Bah Asep malah menanam pohon jambu, pohon pisang dan pohon-pohon lainnya. Namun pada perkembangannya, ia fokus menanam pohon jambu saja di lahannya yang tak seluas sekarang. Ia jajakan sendiri buah jambunya ke pasar Caringin Bandung untuk dijual. Menurut penuturannya, di samping profesinya berkebun dan menggarap sawah di lahan sendiri, ia juga kerap menerima orderan mencangkul sawah dan tanah perkebunan orang lain. Waktu berlalu sekian puluh tahun ke depan, alhasil kini ia menjadi wirausahawan sukses dari ke-istikomahannya bertani jambu.


Jejak kesuksesan Bah Asep lantas diikuti oleh Warga Kampung Cidadap lainnya. Warga lainnya mulai menanami tanahnya dengan pohon jambu. Bisa terlihat sekarang, di Cidadap terutama di Cidadap bagian barat,  sejauh mata memandang kita akan melihat hamparan daun-daun hijau pohon jambu. Dengan itu Bah Asep berhasil memprovokasi warga lainnya bahwasannya menjadi petani bukan profesi murahan. Dari sekedar bertani jambu dengan keringat serta semangat yang terus dipompakan ke dalam jiwa, ia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya secara memadai. Saya yakin, Bah Asep beserta Warga kampung Cidadap yang seprofesi dengannya punya pendirian bahwasannya lebih baik menjadi tuan di tanahnya yang kecil daripada menghamba pada perusahaan besar.

Ini pulalah yang kemudian mendorong dan mengkonstitusi Hasan Husaeri (mantan pegiat Remaja Masjid al-Mujtahidin-Nurul Falah) menggawangi satu organisasi pemuda tani kampung Cidadap meneruskan jejak langkah para pendahulunya, bertani jambu. Dengan adanya organisasi pemuda tani di Kampung Cidadap, setidaknya saya sebagai Warga Cidadap beroleh sedikit jaminan bahwasannya beberapa puluh tahun ke depan, Warga Cidadap akan masih bisa menyaksikan panen jambu biji merah beserta kelimpahruahannya. Serta setidaknya, kita masih akan bisa menatap daun hijau Pohon Jambu Biji Merah serta mencicipi wangi tanah merahnya. Dengan itu pula Cidadap akan tetap menjadi daerah sentra penghasil Buah Jambu Biji Merah di Kabupaten Bandung Barat.

Yoga ZaraAndritra, 7 November 2012

Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Asal usul Reforma Agraria 1960 sampai Dipetieskan Orba

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?