Menjernihkan Nama

Dok. Pribadi
Penduduk lokal (Padalarang), wa bil khusus penduduk kampung Cidadap, Pamucatan, Lempegan menamai gunung ini Pabeasan. Penamaan Pabeasan ini konon katanya masih satu alur dengan cerita penamaan Gua Pawon, dan Gunung Hawu. Lain penduduk lain penamaan, para pemanjat menamai gunung ini dengan nama Tebing 125, sedangkan tentara yang kerap berlatih di gunung ini menamai gunung ini  Gunung Singgalang.

Gunung Pabeasan berada di wilayah kampung Pamucatan, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Ada pula versi yang agak nyeleneh (versi keliru), versi ini menyatakan bahwasannya gunung Pabeasan terletak di wilayah kecamatan Cipatat, tak heran kemudian gunung ini oleh sebagian besar orang dinamai Citatah. Karena Citatah sendiri adalah nama salah satu desa di Kecamatan Cipatat. Versi keliru tentang penamaan gunung Pabeasan ini kemudian dikukuhkan oleh peta yang dilansir oleh google map.

Terlepas dari kekeliruan penamaan, yang tentu saja tidak bisa dibiarkan dan mesti diluruskan. Tentu saja gunung ini begitu menarik, oleh karenanya layak dikunjungi. Orang-orang Skygers mengklaim panjat tebing modern lahir di sini, 40 tahun sudah mereka berkiprah sebagai organisasi yang menekuni panjat tebing, oleh karenanya klaimnya layak kita perhitungkan. Sebagai basis dan asal muasal para pemanjat mengembangkan pola panjat tebing modern, di tempat ini, Tebing 125, terdapat berbagai macam jalur panjat tebing, dari mulai jalur panjat tebing berspesifikasi mudah hingga berspesifikasi sulit. Tercatat ada 75 jalur panjat tebing di sini

Pada perkembangannya, gunung ini tidak hanya jadi ‘milik’ para pemanjat dan pengusaha tambang. Masyarakat sekitar (pribumi), kerap menjadikan gunung Pabeasan sebagai objek wisata. Sebut saja hari minggu sebagai hari libur nasional kerap dijadikan hari bersantai di gunung ini, piknik dan kemah kini sudah menjadi hal biasa bagi penduduk lokal. Ditambah kini ada fasilitas baleriung di kaki gunung Pabeasan. Menjadi semakin nyamanlah tempat ini sebagai ruang publik, tempat di mana penat dapat diusir dan segar kemudian didapat.

Dinamika Masyarakatnya

Meskipun ada dinamika/pertentangan yang kerap terjadi, misalnya antara pengusaha tambang versus penduduk pribumi atau antara pengusaha tambang versus para pemanjat. Namun tak mengurangi daya tarik gunung Pabeasan untuk selalu dikunjungi. Sampai hari ini organisasi pecinta alam dari berbagai level kerap menjadikan gunung Pabeasan sebagai tempat pendidikan dan latihan yang cukup representatif karena jalur panjat tebingnya yang cukup banyak dan sejarah yang melatarinya. Dan tentu saja kini penduduk pribumi benar-benar menjadikan gunung Pabeasan sebagai ruang publik di mana kreatifitas dan kebugaran tubuh diasah, oleh karena itu dinamika yang ada di masyarakat layaknya kita ketahui sebagai pegangan informasi agar kita tidak termasuk ke dalam sekelompok manusia yang abai dan tak peduli.

Diantara dinamika itu penulis mecatat menurut penuturan warga sekitar, pernah ada penjungkirbalikan lahan yang semula diperuntukan sebagai sarana olahraga publik bagi warga kampung Pamucatan menjadi pabrik. Penjungkirbalikan ini disesalkan oleh warga karena tidak melibatkan warga lokal. Kesepakatan hanya terjadi di antara elit pemangku kebijakan dalam hal ini pihak desa dengan pengusaha tambang.   

Privatisasi lahan publik itu implikasinya adalah tertutupnya mata air di wilayah itu. Tahun 2011 jika penulis tidak salah ingat, warga pribumi dibantu elemen masyarakat lainnya yang peduli melakukan protes kepada pabrik, untuk membolehkan warga sekitar mengakses air itu yang lokasinya berada di dalam pabrik. Setelah diprotes dengan bersusah payah akhirnya pihak pabrik mau memberi akses. Alhasil kini warga kampung Pamucatan memiliki dua kamar mandi publik yang airnya disuplay dari mata air yang terurug bangunan pabrik.

Rute Pendakian Gunung Pabeasan

Gunung ini lebih tepat disebut bukit, tingginya dari permukaan tanah di kaki gunung itu hanya 125 meter. Gunung ini sebagian besarnya terdiri dari bebatuan karst, bebatuan terjal adalah menu utama saat kita mendaki. Ada dua jalur yang populer yang biasa ditempuh; jalur Pamucatan dan jalur Cidadap. Dari gang masuk kampung Pamucatan menuju puncak gunung Pabeasan jaraknya kurang dari 1 km, bagi sebagian orang jalur ini kurang menantang. Berbeda dengan jalur Cidadap, untuk sampai di kawasan gunung Pabeasan kita akan melalui pemandangan alam yang beragam; perkebunan, pertanian, lahan tambang yang porak poranda, tebing terjal dan lain sebagainya.

Akses mobil cukup mudah untuk menuju kampung Cidadap maupun Pamucatan. Baik dari terminal Leuwi Panjang maupun dari Cileunyi, ongkos cukup Rp. 5000 saja naik bis jurusan Puncak (jika dari Cileunyi) atau jurusan Sukabumi (jika dari terminal Leuwi Panjang). Jika ingin melalui jalur Cidadap kawan-kawan berhenti di Gang Parapatan Arab sebelum Ciburuy, kemudian naik ojeg dengan ongkos Rp. 3000. Adapun jika ingin menempuh jalur Pamucatan, kawan-kawan tinggal berhenti di depan Pabrik Kurnia atau Pabrik Multi.

Ada juga akses kereta, dengan ongkos Rp. 1000 dari stasiun Bandung ke stasiun Padalarang. Dari stasiun Padalarang kawan-kawan naik angkot jurusan Padalarang-Rajamandala dengan ongkos Rp. 2000, berhenti di gang Parapatan Arab (jika menempuh jalur Cidadap) atau di Pabrik Kurnia (jika menempuh Jalur Pamucatan).

Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Analisis “Secangkir Kopi dan Sepotong Donat”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?

Instagram @yogazaraandritra