Jalan-jalan ke Ujung Genteng Part 1

G. Gede dilihat dari Desa Prianganjaya, Kec. Sukalarang, Kab. Sukabumi. Dok. Pribadi
Saya masih ragu waktu itu, tamasya selepas KKM hendak ke Ujung Genteng atau Gunung Gede? Teman-teman sepermainan sepakat selepas KKM akan tamasya ke Ujung Genteng. Tapi hati saya berkata lain, ia mendorong saya untuk tidak bersepakat dengan teman-teman. Alasannya tidak yang bukan-bukan, begini kata hati saya membisikan; “tubuhmu rindu dinginnya udara gunung, kulitmu rindu memproduksi keringat karena lelah berjalan, kakimu rindu pegal-pegal karena berjalan jauh, punggungmu rindu dibebani tas ransel berisi perbekalan, matamu rindu indahnya alam pegunungan, hidungmu rindu menghirup udara segar pegunungan”.

Bisikan itu sungguh lezat buat saya, sampai-sampai saya ingin segera menapakan kaki di Gunung Gede. Jika diibaratkan, hati saya itu serpihan besi dan gunung Gede magnetnya. Begitu dekat antara saya dengan gunung Gede, paling-paling untuk mencapai kaki gunungnya dibutuhkan waktu dua jam. Saya di Desa Prianganjaya, Kec. Sukalarang, dan itu Gunung Gede terlihat perkasa di depan, rambutnya berupa pepohonan hijau jelas terlihat sedang tegak berdiri, di sela-selanya nampak ada tanah yang samar. Ah, gunung itu menarik hati saya.

Kian hari gambaran gunung Gede kian melekat di benak saya, padahal KKM baru dimulai, hari-hari saya masih panjang di tempat KKM kala itu. Untuk sedikit mengobati rasa rindu ini, saya beberapa kali memotret gunung itu menggunakan kamera saku Aul. Sesekali saat sedang senggang saya buka kembali foto jepretan saya itu. Alhasil, rindu ini malah semakin, semakin foto itu dilihat, tegangan rindu malah semakin tinggi. Alih-alih mengobati, mengabadikannya tubuh saya malah dirasuki rindu yang teramat. Akhirnya saya memutuskan untuk tak bersepakat dengan teman-teman, mengambil jalur yang menyempal, yaitu tamasya ke gunung Gede selepas KKM.

Alasannya cuma satu, saya rindu. Rindu jalan-jalan ke puncak gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang (petikan lirik lagu film Ninja Hatori). Bayangkan, sudah berapa bulan saya tidak jalan-jalan ke gunung. Idealnya, jalan-jalan ke puncak gunung itu sebulan sekali, selain menyehatkan, juga menajamkan jiwa, itu pun bagi orang yang yakin dan mengambil hikmah.

Misalnya orang hindu, memandang puncak gunung adalah tanah suci. Ada gunung Rinjani, gunung Agung, dan gunung Semeru. Setidaknya, yang saya ketahui, tiga gunung ini adalah tempat suci yang paling sering dikunjungi oleh umat Hindu; gunung Rinjani oleh umat Hindu Nusa Tenggara Barat, gunung Agung oleh umat Hindu Bali, dan Semeru oleh umat Hindu Jawa Timur. Oleh karena itu tak heran jika di Hindu ada istilah “pendakian suci”. Wow. Buat mereka puncak gunung itu tempat paling spiritual di mana rasa kedekatan mereka dengan sang pencipta hadir secara nyata, buktinya selain ada istilah “pendakian suci”, di ketinggian rata-rata 6 jam sebelum puncak Semeru ada arca (tepat terdapatnya arca itu dinamakan Arcopodo), dan di gunung Bromo ada kuil.

Ingat Rinjani, saya jadi ingat cerita teman di NTB, katanya waktu ibu Tien Soeharto masih hidup, di Danau Sagara Anak (kawah gunung Rinjani) akan dibuatkan landasan helikopter dan villa tempat ibu Tien beristirahat. Tidak hanya itu, jalan darat pun ditata agar kendaraan roda empat bisa sampai sedekat-dekatnya ke puncak atau Sagara Anak yang masih dikelilingi hutan belantara itu. Namun katanya, ambisi ibu Tien dan suaminya itu urung terlaksana karena masyarakat Hindu beserta masyarakat yang peduli terhadap kelestarian hutan memprotesnya seraya menyuarakan penolakannya.  Maka, demi menjaga stabilitas nasional proyek itu dihentikan. Sisa-sisa proyek yang tak selesai itu bisa kita lihat sampai sekarang, misalnya jembatan-jembatan besar yang berkonstruksi khusus untuk mobil di jalur pendakian Sembalun.

Bisa dimengerti kenapa umat Hindu memprotes keras proyek itu, tempat suci itu (gunung Rinjani) tiba-tiba mesti direkayasa secara berlebihan. Bisa-bisa nilai suci tempat itu hilang karena format alamnya diubah habis-habisan, ada nilai yang mestinya lahir dan sampai kepada seseorang dari alam yang seadanya, menjadi tidak bisa didapatkan lagi karena realitas telah direkayasa secara berlebihan. Justru dengan dibiarkan seadanya, tempat suci itu akan tetap suci dan senantiasa magnetis bagi umat yang percaya. Oleh karenanya tak heran jika di sekeliling tempat suci selalu ada aturan/dogma yang tak boleh dilanggar, fungsinya sebagai pagar agar yang suci tetap suci.

Baik saya maupun mereka yang beragama Hindu rupanya merasakan hal yang sama terhadap gunung. Gunung memiliki daya tarik tersendiri seperti magnet. Ada perasaan sakit jika ada gunung yang dirusak tatanan alamnya, seperti yang kerap saya rasakan kalau pulang ke Padalarang. Tapi apa daya, faktanya di banyak tempat kita selalu di posisi golongan orang-orang pasrah yang hanya bisa menonton sambil ngelus dada saat prosesi pengrusakan gunung terjadi. Tak ada pemimpin yang lantang berada di depan menyuarakan penolakannya secara sungguh-sungguh, juga tak ada tafsir kegamaan (Islam) yang berpihak pada gunung, maka tak heran tak ada imam masjid yang juga imam anti pengrusakan gunung.

Selain perasaan sakit, ada juga perasaan rindu yang tiba-tiba hinggap jika lama tak menapakan kaki di gunung. Rindu indahnya dan betapa senangnya berada di gunung. Apa jadinya jika gunung dirusak habis-habisan niscaya yang indah tidak akan indah lagi seperti halnya  yang suci tidak akan suci lagi jika referen fisik dari kata sifat suci itu dirusak dan ditiadakan. Melawan atau memakluminya? Memakluminya berarti mengizinkan desakralisasi dan kekacauan dari kelestarian.

Atas dasar itu, sakit karena menyaksikan tragedi yang memilukan (penghancuran gunung), telah mendorong saya untuk terus melakukan aktifitas jalan-jalan ke puncak gunung. Karena aktifitas ini membuat saya teguh di jalur sikap melawan bukan memaklumi. Namun apa daya, untuk jalan-jalan kali ini (ke puncak gunung Gede) terpaksa harus urung terlaksana. Karena jalur pendakian ditutup sampai akhir maret.

Haha, saya batal ke gunung Gede, padahal ini tekad sudah bulat. Kabar jalur pendakian ditutup saya peroleh satu minggu sesudah saya balik ke Padalarang ambil perbekalan jalan-jalan ke puncak gunung, seperti; raincoat, jaket dll. Tapi jalan-jalan tetap mesti dilaksanakan, akhirnya saya pilih opsi jalan-jalan ke Ujung Genteng.

Persiapan ke Ujung Genteng

Hari demi hari saya lalui di tempat KKM, sampai genap 30 hari seperti yang diinstruksikan pembimbing. Dua hari sebelum pulang kami sudah mulai pamitan dengan warga kampung Sungareun terutama dengan keluarga pak DKM dan guru-guru MI serta siswa-siswi MA di kampung itu. Tak lupa saya juga berpamitan dengan kang Aceng best friend saya selama di tempat KKM. Ia lah salah satu orang yang menyuplai rokok sehat buat saya (selain si Auliya dan Eza). Ia juga kerap ajak saya makan di rumahnya, tentu saya tidak bisa menolak, karena saat menolak berarti kita sedang siap-siap berhadapan dengan “pamali”. Waktu itu berat rasanya jika sudah divonis “pamali nolak rizki”, apalagi oleh nini-nini tukang gorengan.

Malam sebelum jadwal resmi kepulangan, saya kaget, saat membuka pintu, tepat di balik pintu kontrakan tempat saya KKM. Anggota kelompok KKM 27 sedang duduk melingkar sambil diselimuti suasana haru. Ada yang sesegukan, ada yang meneteskan air mata tapi tak bersuara. Pas saya masuk, sekitar pukul sepuluh malam suasana begitu hening. Memasuki area lingkaran, tubuh saya seperti disekap hening, meskipun batin saya sesungguhnya tak kuat menahan tawa. Setiap mulut ini tergerak hendak ketawa, Aul langsung kasih isyarat, “di tempat ini dilarang ketawa, suasana harus haru dan hening”. Akhirnya saya pun menahan tawa, tiba giliran saya menyampaikan isi hati saya tentang kawan-kawan dan KKM ini, tawa itu pun meledak. Saya tertawa di sela-sela saya berbicara, dan itu rasanya lega. Haha. Di lingkaran kecil ini kita saling menyatakan diri.

Sesi pamitan dengan warga kampung Sungareun sudah, pun sesi pamitan dengan teman kelompok sudah. Singkat cerita KKM kelompok 27 ini berkesan. Pagi itu, saya bersiap menuju Ujung Genteng, panaskan motor, packing perbekalan ke tas ransel, tak lupa minum kratingdeng dan merokok sehat bersama Aul dan Eza. Oia tak lupa saya mandi pagi, jam enam. Saya pun berangkat menuju Cisaat terlebih dahulu, karena rencananya dari situlah saya bersama teman-teman sepermainan start menuju Ujung Genteng. Direncanakan ada sepuluh motor yang ikut. Ngenggggggggg, Greng greng !!

Dari Sukalarang menuju Ujung Genteng diperkirakan menempuh waktu 4  jam jika mengendarai motor. Melalui jalan yang berkelok dan sedikit rusak. Oleh karenanya dibutuhkan stamina yang oke.

Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?

Info Jalan-jalan ke Gunung Puter

Buku Petite Histoire Rosihan Anwar Lengkap Sudah

Instagram @yogazaraandritra