Jalan-jalan ke Gunung Ciremai: Bagaimana Caranya Pulang?

Dok. Pribadi
Di pertengahan tahun 2010 saya pertama kali mendaki Gunung Ciremai bersama Cepong anak punk street itu. Dengan tanpa perencanaan yang begitu matang, saya langsung ajak Cepong. “Pong hayu ah urang ka Cireme!” sontak Cepong menjawab “Hayu Do”.

Nama saya di Mapala adalah Wardo. Seperti tradisi Mapala Bandung pada umumnya, seusai diklat kami memiliki nama lapangan. Sekonyong-konyong nama lapangan itu menggantikan nama resmi sehari-hari. Tak heran makanya antar sesama anggota kadangkala tak saling tahu nama aslinya. Sedangkan Cepong sendiri, di Mapala punya nama lapangan Tobus, tapi saya sendiri lebih senang memanggilnya Cepong.

Waktu itu hasrat saya mendaki gunung begitu kuat, karena kecewa melihat teman-teman mapala sekampus malah sibuk berorganisasi ria. Buat saya waktu itu, yang namanya mapala kerjaannya mesti blusukan ke hutan, mendaki gunung, lewati lembah, bersua dengan monyet, burung elang dan lain sebagainya di alam liar Indonesia yang indah ini. Berorganisasi atau kuliah mah nomer dua setelah kita bersyukur menghayati alam yang hijau nan indah ini. Begitu kira-kira pikir saya waktu itu.

Maka saya pun berangkat dari rumah menuju kampus Cibiru. Kami berdua bikin janji ketemuan di bunderan Cibiru. Cepong sudah menunggu di bunderan Cibiru saya datang agak sedikit telat. 


“Pong naek naon?”
“naek damri weh, aya da nu ka kuningan”

Kami pun naik Damri, waktu itu saya Cuma bawa uang 60 ribu sedangkan Cepong 30 ribu. Kesannya saya punya banyak uang di rumah, sedangkan yang dibawa Cuma 60 ribu, bukan gitu maksud saya, waktu itu saya Cuma punya uang 60 ribu tidak lebih dan Cepong Cuma punya 30 ribu. Singkat cerita kami pun sampai di kuningan, entah berapa ongkos damri pada waktu itu saya lupa lagi. Yang jelas waktu itu turun dari bis, saya dan Cepong naik angkot lagi.  Setelah dari angkot, saya dan Cepong kemudian naik ojeg ke kaki gunung Ciremai jalur Palutungan. Sampai di kaki gunung, sekitar pukul setengah enam sore.

Berhenti sejenak di pos registrasi untuk makan nasi timbel yang dibungkuskan mamah buat saya. Kalau tidak salah mamah membungkuskan tiga paket nasi timbel buat saya. Di pos registrasi, saya dan Cepong berhenti sejenak untuk makan nasi timbel. Seusai itu kami pun langsung derengdeng mendaki. Pendakian malam pun kami lakoni, gak mikir padahal waktu itu kami tak membawa peralatan buat malam hari seperti senter. Beruntung waktu itu saya bawa hape nokia yang mirip blekberi sudah kwerty dan ada lampu senternya.

Kami terus mendaki dengan satu-satunya senter hape yang ada. Terpeleset saya di jalan berbatu tepatnya di pos pangguyangan badak, hape saya ikut terpelanting, duwh padahal itu hape baru, buat ukuran saya itu hape tercanggih yang pernah saya punya, bayangkan waktu itu belum usum blekberi. Perasaan takut bercampur sakit karena jatuh bercampur-campur. Pasalnya, saya melihat beberapa pasang mata hewan yang menyala di sekeliling kami, Cepong pun tahu, tapi kami pura-pura saling tidak tahu.

Sebelum berangkat ke Ciremai tentu masing-masing dari kami cari informasi yang dibutuhkan dari internet. Termasuk cari informasi hewan buas apa saja yang hidup di hutan pegunungan Ciremai. Waktu itu kami menemukan ada dua hewan buas yang ternyata hidup di pugunungan Ciremai, yaitu anjing ajag dan macan (macan tutul dan macan kumbang). Kami kira beberapa pasang mata yang ada di sekeliling kami adalah macan atau anjing ajag yang sedang memperhatikan kami. Jantung saya berdegup kencang waktu itu antara takut dan rasa sakit bercampur-campur, beruntung ada bintang indah di langit menyamarkan perasaan tegang saya, saya pun mengusulkan untuk beristirahat pada Cepong, sambil melihat bintang, lama-kelamaan perasaan tegang itu pun sirna berganti perasaan nyaman dan tenang. Terima kasih Tuhan bisik saya dalam hati.

Sambil istirahat lantas Cepong mengusulkan untuk bikin kopi pake trangia. Saya pun mengeluarkan trangia untuk memasak air sampai mendidih. Pas dibuka ternyata bukan trangia yang saya dapat melainkan kompor kecil buat parasmanan. Kompor kecil, bayangkan ternyata itu kompor kecil parasmanan. Saya kira waktu itu, itulah yang disebut trangia. Ternyata bukan, air yang dimasak pun tidak sampai hangat-hangat acan. Haha

Entah di pos berapa kami pun memutuskan untuk mendirikan tenda. Alasan utamanya batre hape saya yang kami gunakan buat penerangan sudah habis. Terpaksa kami mendirikan tenda. Kami pun tidur berdua di tenda berkapasitas ideal tiga orang. Bangun sekitar pukul 8 pagi, langsung berkemas dan kami melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung Ciremai. Tak memakan waktu lama, pukul 10 kami sudah sampai di puncak. Jepret, jepret kami popotoan, kemudian segera turun lagi.

Di gua walet kami tersesat. Terutama saya malah keukeuh melabrak terus turun ke lembahan. Perbekalan menipis, yang tersisa Cuma air minum satu botol. Cepong segera sadar, mengingatkan saya untuk kembali ke jalur awal pas kami belum turun ke lembahan. Akhirnya saya pun sepakat untuk kembali ke jalur semula. Sesampainya di jalur semula kami baru sadar kekeliruan kami, harusnya kami belok kiri tidak lurus terus melabrak lembahan. Ah hampir saja kami tersesat.

Sekitar pukul 5 sore baru kami sampai di pemukiman, duit yang tersisa tinggal 10 ribu. Sementara perut kami lapar, beruntung saya membawa 2 liter beras, lantas kami berinisiatif tukar ini beras dengan makanan. Alhasil kami pun bisa makan gorengan dari transaksi barter.

Bagaimana Caranya Pulang?

Sekarang persoalannya adalah bagaimana caranya sampai di rumah? Saya sms Anin, akhirnya Anin susul kami ke Cirebon, ia sudah berada di Cirebon di rumah salah satu teman kami bernama Memet. Memet sekarang sudah menikah dan punya anak, entah cerita ini masih dia ingat atau sudah tidak. Terima kasih Memet sudah menampung kami, memberi makan kami, dan mentraktir kami makan tahu gejrot di Cirebon. Jujur itu kali pertama saya makan tahu gejrot.

Anin sudah di Cirebon sedangkan saya dan Cepong masih di kuningan, tepatnya sedang menghitung uang kalau-kalau tidak cukup untuk sampai ke terminal Cirebon. Karena ongkos ojeg dari kaki gunung Ciremai ke kota Kuningan begitu mahal dan uang kami mana mungkin cukup buat bayar itu ojeg, akhirnya kami memutuskan untuk cari tumpangan truk atau mobil kol buntung pengangkut sayuran. Tak berapa lama akhirnya ada juga yang sudi kasih kami tumpangan (pengalaman saya cari tumpangan kendaraan akan terulang lagi nanti seusai mendaki gunung Sindoro, faktanya di daerah jawa, cari tumpangan tak semudah di sini). Kami naik truk sayuran. Ah lega rasanya. Turun dari gunung membuat sayu serasa terbarukan, raganya dan mentalnya. Pantas saja, sehari-hari bergelut dengan asap knalpot dan riuhnya manusia kampus. Ditambah dengan angin gegelebugan yang kami rasakan di atas truk pengangkut sayur ini membuat suasana makin segar dan lega.

Akhirnya kami sampai juga di kota Kuningan. Dari situ kami naik bis metromini jurusan Cirebon. Perjalanan sekitar 1 jam sampai di terminal Cirebon. Di terminal Cirebon, Memet sudah menunggu. Di sini walaupun malam, panas sekali cuacanya. Selama dua hari; saya, Cepong dan Anin di tampung di rumah Memet. Di sini, Memet ajak saya berkunjung ke pelabuhan Cirebon, Keraton Kasepuhan, dan Keraton Kanoman.

Setelah mandi, bersih-bersih dan berkunjung ke tiga tempat tersebut. Esensi pertanyaan dari jalan-jalan kami sesungguhnya masih tetap sama yaitu “bagaimana caranya pulang?”. Parahnya kini setelah kami bertiga ada di Cirebon dan hendak pulang, uang kami khususnya uang Anin tinggal 20 ribu. Dengan asumsi bahwa naik kereta api ekonomi penuh dengan toleransi, biar pun Cuma punya uang 20 ribu kami tetep bisa sampai rumah. Atas dasar itu, alhasil kami bertiga woles aja. Itu uang Anin, uang saya dan Cepong tadi tinggal 10 ribu sudah habis dipake bayar bis dari Kuningan ke Cirebon.

Kemudian kami pun pulang, berpamitan kepada Memet dan orang tuanya. “Terima kasih Memet, sampai jumpa lagi”, teriak saya dalam hati. Rencananya, dari Cirebon kami akan naik kereta api ekonomi jurusan Cikampek, dari Cikampek kemudian baru ke Padalarang. Begitu rencananya.

Singkat cerita. Kami sampai di Cikampek malam-malam. Alhasil tidak lagi ada kereta menuju Padalarang terpaksa kami menginap di warnet, modusnya ngenet, padahal ikut tidur. Pagi-pagi baru ada kereta ke Padalarang. Di dalam kereta, kami bertiga dililit kebingungan “bagaimana caranya uang 5 ribu yang kami miliki sekarang bisa mengantar kami sampai rumah?”. Lantas kami mengatur strategi. Strategi yang akan kami terapkan adalah strategi klasik, yaitu sembunyi bila ada petugas karcis. Alhasil kami kejar-kejaran dengan petugas karcis. Kami sadar strategi ini punya kelemahan, yaitu saat kami terpojok tak ada lagi tempat lari. Plan B atau strategi B lantas kami selenggarakan, yaitu pura-pura tidur, kami sadar strategi ini pun memiliki kelemahan yaitu petugas pasti tahu kami sedang pura-pura tidur. Ternyata benar dua strategi yang kami galakan gagal total, akhirnya kami kena pentungan petugas. Beruntung petugasnya masih terbilang baik, kami masih diperkenankan mendiami ini kereta, itu pun setelah kami berbohong pada petugas, bahwasannya kami akan turun di Purwakarta.

Alhamdulillah akhirnya kami sampai juga di Padalarang. Dua teman saya; Cepong dan Anin memutuskan untuk tidak turun di Padalarang melainkan turun di stasiun Bandung. Akhirnya saya kasih uang yang ada di adik saya, yang sedari tadi sudah menunggu saya di stasiun Padalarang, kepada mereka berdua. “Selamat jalan teman, mudah-mudahan selamat sampai tujuan”, teriak saya dalam hati.


Huftttt.......Semoga Anin Cepat-cepat kembali ke jalan yang benar mengingat sekarang ini dia jadi kacau ! Selamat Mendaki ! Mudah-mudahan Tulisan ini Menginspirasi 

18 Juni 2013

Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Di Pinggir Jalan, Jalan Braga

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?

Instagram @yogazaraandritra