Jum'at Ngeri buat Dada Rosada

Aksi menolak pembangunan mall oleh PT EGI, di Baksil dengan cara menggambar seng seng pembatas milik PT EGI. 

Aksi barusan (27 Juni 2013) digelar lantaran, IMB (Izin Mendirikan Bangunan) dan perjanjian kerjasama PT. EGI dengan pemerintah kota Bandung belum dicabut sampai hari rabu malam. Padahal pendopo (baca: Kantor Walikota Bandung), beberapa hari sebelumnya melalui mulut Dada Rosada kasih kabar IMB PT. EGI dan surat perjanjian kerjasama sudah dicabut. Begitu. Buat kita-kita yang waras hal itu masuk kategori pembohongan publik, sanksinya adalah jadi musuh publik (rakyat). Pejabat yang doyan membohongi rakyatnya sudah pasti diganjar neraka oleh Alloh SWT. Lantas, oleh kita sebagai rakyatnya, wajib hukumnya memerangi mereka, tentu dengan cara-cara yang konstitusional. 

Cara-cara itu diantaranya adalah. Pertama yang paling seru dan ini seharusnya dapat penghargaan dari seseorang yang doyan kasih penghargaan, adalah dengan mencorat-coret gedung pejabat pemerintah, seperti aksi barusan di tembok kantor BPPT. Tentu saja tidak asal corat-coret. Kita serahkan pada ahlinya, misalnya, kalo dikawanan kami ada Dodi. Dodi, beliau adalah seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi seni Bandung namun tidak lulus-lulus memang punya keahlian menggambar, terutama menggambar logo-logo yang bermuatan pendidikan, seperti logo bertuliskan “Save Babakan Siliwangi”. 

Itu indah bukan? Ada seni dan laku saling mengingatkan yang bersatu kemudian menjadi harmoni, ujung-ujungnya, siapa pun yang membaca karya Dodi di atas pasti terenyuh, jika pun tidak, minimal mereka yang melihatnya punya anggapan corat-coret macam itu sarat muatan pendidikan. Bedanya, syiar Dodi mengamalkan amanat Alloh SWT dalam surat al-ikhlas (saling mengingatkan dan beramal soleh) tidak lantas membuat Dodi disebut ustadz, malah sebaliknya, dicitrakan secara negatif laku Dodi itu. Disebutlah Dodi, “Dodi perusaklah”, “Dodi vandalistlah” dan lain sebagainya. Sementara, Dada Rosada dengan kuasanya memberi izin PT EGI buat merusak kawasan yang jelas-jelas kawasan konservasi (Babakan Siliwangi) malah mendapat predikat positif, dibiarkan dan dielu-elukan sebagai walikota pembangunan, itu atas nama modernitas. Aneh bukan?

Tapi tidak untuk sekarang, dia punya kuasa sedang remang-remang redup, kabarnya, besok hari jumat, si Dada dan anteknya, Edi Siswadi bakal diciduk oleh KPK. Ini momentum yang tepat buat kasih bola api ke Dada, kasih pelajaran ke dia. “roda itu berputar Dada, sekarang juga batalkan kesepakatan kerjasama antara pemkot dengan PT. EGI”. Sebetulnya, bersamaan dengan aksi barusan di depan kantor BPPT jalan Cianjur no. 38, IMB PT. EGI dicabut, yang punya kewenangan mencabut izin pembangunan memang BPPT, oleh karenanya tadi kita aksi di depan kantor BPPT. Satu lagi yang mesti dibatalkan adalah kesepakatan kerjasama, itu yang punya kewenangan adalah pemangku kebijakan, dalam hal ini adalah pemerintah kota, melalui walikota. IMB PT. EGI sudah dicabut, tadi (27 juni 2013), satu lagi tinggal pembatalan kesepakatan, nama suratnya saya lupa lagi. Rencanya besok, hari jumat kawan-kawan akan bertandang ke pendopo untuk menuntut pembatalan kesepakatan itu. Ada kemungkinan, walikota, besok resmi jadi “anak didik KPK”, elok rasanya jika Dada sudi mengumumkan pembatalan kerjasama dibalik jeruji besi. Huft, ayo Dada kamu bisa, lawan setan-setan yang selama ini bersemayam di tubuhmu. 

Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Asal usul Reforma Agraria 1960 sampai Dipetieskan Orba

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?