Jalan-jalan ke Gunung Gede-Pangrango

Pangrango

Seperti biasa jika malam tiba, tepatnya seusai orang lain salat taraweh sms itu saya layangkan pada seseorang bernama pesbuk Zot SeribuDiary, selanjutnya saya panggil ia Zot SeribuBintang/Ijot. 

“Ngopi dong di Cidadap”, isi sms saya padanya
“Ok sip. Aku mau ke Padalarang da besok, tapi mau nengok dulu sangke yang sedang sakit”
  
Kemudian dalam hati saya bertanya-tanya siapa itu “sangke” yang Ijot maksud. Akhirnya saya tau, ‘sangke’ adalah sebutan tidak lengkap dari istilah ‘sangkekasih’. Aw, aw, aw, dari situ saya ngabarakatak tertawa, si ijot dalam rangka menyamarkan perasaan hatinya yang sedang ‘melow’ ia sampai menggunakan istilah asing untuk menyebut seseorang yang saat ini singgah di sebahagian ruang hatinya yang sedang kosong. Hmmm 
***
Sampai juga ia di depan rumah saya, sore itu saat cuaca sedang cerah, tidak nampak tanda-tanda akan hujan. Membawa mie instan 12 bungkus. Wow. Saya kaget 

“loba-loba teuing Zot”
“Dibere ku sangke euy, keur bekel mendaki haha. Simpen heula Ga didieu”
“oke siap” 

Malam H-1 

Sebagei pendaki miskin saya tidak punya tenda, tidak punya trangia, tidak punya kamera. Yang saya dan Ijot punya, cuma uang saongkoseun, tekad, dan keberanian memilih kemudian menanggung resiko atas pilihan itu, pilihan mendaki maksudnya. Di luar itu, sleeping bag saya punya, kantong semi carier, dan jaket, dan baju, dan selempak buat ganti, saya punya. Haha pamer bobogaan.... 

Sore H-1 sebelum keberangkatan, saya masih benar-benar kelimpungan mencari tenda berkapasitas paling maksimal 6 orang. Karena sampai detik itu saya belum dapat tenda. Tenda yang saya maksud adalah tenda berkapasitas ideal 4 orang. 

Sebenarnya dalam list keberangkatan, yang akan ikut mendaki Gede-Pangrango Cuma 5 orang. Coba dipikir, 5 orang itu sudah sangat maksimal buat tenda berkapasitas 4 orang. Siang harinya, tepatnya H-2 tiba-tiba si Lulu sms saya, keukeuh pingin ikut. Yang ikut 6 orang jadinya, bisa dibayangkan bagaimana nanti posisi tidurnya, lebih parah dari posisi tidur style ngentep pindang, yaitu ngararengkol. Huft 

***

“Zot dmn?
“di kosan Baweh”
“oh, urang kadinya ayeuna” 

Derengdeng kemudian saya ke kosan Baweh. Meskipun tidak dapat tenda, sebetulnya saya tidak niat nyari tenda waktu itu, karena Ijot sudah saya kasih kabar bahwasannya saya tidak dapat tenda buat dipinjami. Saya hanya ingin menyampaikan rencana cadangan, yaitu karena tidak ada tenda sedangkan pendakian mesti dilakoni terpaksa nanti kita tidur beralaskan tanah dan beratapkan plesit (plesit adalah kaen anti air (water proof) berukuran p x l meter yang biasa digunakan sebagei kain pelapis buat tenda, bisa juga buat bipak artifisial), selebihnya jangan lupa bawa sleeping bag dan jaket yang tebal. Eh tiba-teba Amew kasih kabar baik, “nu si Bani atuh injeum sugan teu dipake, kuurang disms si Banina ayeuna”

Lalu Amew dan Bani smsan. Beberapa saat kemudian Amew kasih kabar, bahwasannya tenda ada di rumah Bani di Banjaran dan tak dipakai. Mendengar itu langsung saja saya dan Ijot derengdeng ke rumah Bani di Banjaran. Tepat pukul 11 malam saya dan Ijot sampai di rumah Bani. Bani ternyata sedang masak mie instan, kami dipersilahkan makan, minum, dan ngerokok. Itu semua Bani yang tanggung, Sesudah itu lantas kami pulang ke kosan Baweh di Cibiru sambil bawa tendanya Bani. 

Terima kasih Bani, bukan kebetulan memang waktu itu saya sedang lapar sekali karena berbuka Cuma dengan beberapa batang goreng pisang. 

Lega rasanya. Itu karena Amew. Amew waktu itu bertindak sebagai perantara Tuhan mencurahkan kasihnya buat kami umatnya yang hendak mendaki gunung indah ciptaan-Nya. Amew tidak hanya memberi jalan keluar dari problem ketiadaan tenda, ia juga memberi jalan keluar atas problem ketiadaan kamera kami. Ia pasti sudah mengerti betul apa jadinya jika jalan-jalan ke tempat indah tanpa disertai kamera. Nantinya, kita jadi tak bisa upload foto di pesbuk kemudian pakomen-komen, hmm kerugian banget buat saya. So, Amew kasih pinjem kamera pada kita. “yeuh bawa we atuh kamera nu urang”. Pernyataan Amew itu adalah respon atas pernyataan saya saat saya sedang di kosan Baweh, saya mengeluh, “pendakian teh jaba euweuh tenda, jaba euweuh kamera”. Amew amew terima kasih banyak, aku tanpamu butiran debu. 

Bermalam di Kandang Badak 

Menurut Bani, jadwal kami mendaki adalah jadwal alien, bagaimana tidak ini bulan romadon, sesekali Bani gogodeg saat mendengar keteguhan hati kami buat mendaki di bulan romadon. Kami tegaskan pada Bani, bahwasannya kami akan mendaki di malam hari, siangnya kami tidur sampai tiba waktunya berbuka. Begitu terus sampai dua gunung kita atasi. “ah kumaha maraneh we” kata Bani. Itu rencana kami, diperkirakan pendakian ini akan memakan waktu tiga hari, dari hari kamis sampai hari sabtu. 

Hari kamis kami berangkat, tepatnya bada lohor, dari situ kami sudah melenceng dari rencana yang harusnya berangkat pukul 11 siang. Saya dan Lulu yang mengendarai motor sampai di Cibodas pukul setengah enam, sedangkan Ebet, Ijot dan Baweh datang pukul 6 magrib. Cicang tidak jadi ikut, alhasil yang fix ikut mendaki Cuma berlima. 

Kenapa kami memilih jalur Cibodas karena jalur ini adalah jalur utama, di samping mudah juga dekat jaraknya dari Padalarang hanya 3 jam perjalanan jika naek motor dan 2 jam perjalanan jika naik bis jurusan puncak (dengan ongkos 25 ribu). Berbeda dengan dua jalur lainnya; jalur Gunung Putri (Bogor), dan jalur Salabintana (Sukabumi). Perlu diketahui bahwasannya di hari-hari biasa kita mesti booking pendakian 2 hari atau 3 hari sebelumnya, karena kuota pendakian dibatasi. Untuk jalur Cibodas sebanyak 300 orang, gunung putri 200 orang, dan Salabintana 100 orang per hari. Berhubung ini bulan romadon maka kami bisa booking dan langsung mendaki hari itu juga, karena kawasan sedang sepi-sepinya didaki. 

Sesampainya di Cibodas, pos pendaftaran mendaki sudah tutup sejak pukul 4 sore tadi, alhasil kami urung melakoni pendakian malam. Kami pun bermalam dulu di halaman sekretariat Pramuka samping toko outdoor. Besoknya hari jumat baru kita mendaftar. Administrasinya yang lumayan ribet membuat kita baru bisa berangkat sekitar pukul 2 siang dari pukul 10 saat mendaftar, karena mesti keluar untuk potokopi KTP, menunggu petugas entah melakukan apa, kemudian beli matrai 6000, kemudian menunggu lagi karena terselang salat jumat, sesudah itu baru bisa berangkat. Ongkos administrasi pendakian Rp. 5000 tanpa asuransi, padahal di SIMAKSI nya tertera ongkos pendakian RP. 2500, sisanya Rp. 2500 untuk asuransi. Haduh haduh Indonesia... 

Pukul 2 siang kami mulai berjalan menuju pos Kandang Badak, pukul 7 malam baru sampai. Selama 5 jam perjalanan kami bertemu telaga biru (5,3 km dari Cibodas), yang airnya biru dan baik untuk dikonsumsi karena mengandung mineral dan protein. Kemudian bertemu air terjun dekat pos Kandang Batu (7,8 km pada ketinggian 2220 m.dpl), dan kemudian bertemu jalan nanjak menyamping berupa sengkedan berair panas yang airnya terjun bebas ke jurang curam di bawah kami (5,3 km dari Cibodas). Di tempat yang berair panas itu, sejenak kami berhenti, buka sepatu kemudian merendam kaki kami, rasanya seperti dipijat refleksi, rasa lelah dan kaki pegal-pegal kemudian hilang. Oia, kami juga melewati jembatan panjang di atas rawa, suasana jalannya bagus, di situ kami berhenti dan sempat berfoto, posenya mirip pose Mouna Rudo yang sedang berjalan diantara tumbuhan bambu. 

Sesampainya di pos kandang Badak, kami tidak berleha-leha, langsung saja mendirikan tenda dan memasak makanan serta air untuk ninyuh cikopi. Pos Kandang Badak kami pilih untuk bermalam karena di sini ada sumber mata air yang airnya jernih dan tak henti-hentinya mengalir. 

Makanan berat yang kami masak adalah beras dan mie instan ditambah pucuk pakis dan daun poh-pohan. Untuk dua makanan tersebut terakhir, tidak kami dapat dari supermarket atau pasar tradisional, kami dapat dari hutan yang kami lalui secara cuma-cuma. Menu utama makanan berat kami akan seperti ini terus selama dua hari ke depan. Untuk pakis dan daun pohpohan, rasanya masih menempel di lidah saya hingga saat ini, serasa ada aroma puisi Wiji Thukul di dalamnya. 

Muncak Gede 

Puncak Gede berada di ketinggian 2958 m.dpl, 9, 7 km dari Cibodas. Dari pos Kandang Badak untuk mencapai puncak Gede kami menempuh waktu 2,5 jam, dari pukul 11 hingga pukul 13. 30. 

Bodor sekali hari itu, sabtu 20 Juli 2013. Karena saya kurang cermat membaca peta, maka saya kira setelah pos Kandang Badak kami akan melalui alun-alun Suryakencana baru ke puncak Gede. Dari Kandang Badak, kami pun mengemasi semua barang kami termasuk tenda karena kami pikir, di Suryakencana kami akan mendirikan tenda lagi kemudian baru muncak Gede dengan membawa barang-barang yang dibutuhkan saja, sisanya disimpan di tenda. Rupa-rupanya saya salah mengira, ternyata puncak Gede dulu baru kemudian alun-alun Suryakencana. Gila, kami muncak dengan membawa semua barang bawaan. Haha 

Muncak Pangrango 

Sepulangnya dari puncak Gede, kami mendirikan tenda kembali di pos Kandang Badak untuk istirahat dan bermalam di situ. Pukul 5 pagi (21 Juli 2013) setelah beres saur baru kami berangkat ke puncak Pangrango. Tadinya kami akan muncak ke Pangrango di malam hari namun atas masukan kawan lain yang juga sedang mendaki, kami disarankan mendaki pagi-pagi, karena Pangrango berbahaya jika didaki malam hari. Akan turun kabut pekat yang membuat petanda jalur pendakian menjadi tak terlihat, dan itu bisa membuat kita tersesat. Kemudian kita membenarkan pendapat dia, dilihat dari Kandang Badak, Pangrango malam hari benar-benar berkabut tebal. 

Selain itu, jalur pendakian Pangrango banyak jalur alternatifnya, hutannya begitu lebat dengan pepohonan besar, juga ada banyak pohon tumbang yang membuat jalan menjadi nampak buntu, tidak seperti di Gede yang jalurnya relatif terurus serta jelas. 

Puncak Pangrango berada di ketinggian 3019 m.dpl. Kami mendaki menempuh waktu 3 jam (5-8 pagi) untuk sampai ke puncak. Namun sayang, pada pendakian Pangrango ini Ebet memutuskan untuk tidak ikut dan lebih memilih menjadi penunggu tenda di pos Kandang Badak. Alhasil Cuma kita berempat (saya, Ijot, Baweh, dan Lulu) yang ke puncak Pangrango. Puncak Pangrango dinamakan juga Mandalawangi. Dari situ, menurun sedikit menempuh waktu 5 menit, kita akan bertemu lembah Mandalawangi. Di lembah Mandalawangi terdapat mata air yang airnya jernih, konon katanya jika musim kemarau airnya kering. Lembah Mandalawangi adalah sebuah lembah yang menjadi inspirasi salah satu puisi yang ditulis oleh Soe Hok Gie. 

NB 

Waktu itu saya masih konsisten merokok djarum coklat atau samsu atau LA Menthol atau Marlboro Menthol belum merambah ke bako. Melinting bako sesekali saja, saat kondisi sedang benar-benar kepepet. Persepsi tentang rokok menjadi berbeda sesudah mendaki Gede-Pangrango. Di suasana dan waktu tertentu ‘bako’ menjadi lebih utama daripada yang lainnya, tidak lagi di kondisi kepepet saja. Alhasil, ‘bako’ layak kita cintai juga, sudah tentu pakis dan daun pohpohan, dari merekalah saya mengerti makna gratis dan makna menjadi petani tembakau yang tembakaunya tidak diubah jadi rokok ‘bermerk’. 

Pesannya: Mari jalan-jalan ke hutan, meresapi angin yang menjadi dingin dan melihat hutan yang menjadi suram. Modol gratis, cai gratis, udara bersih gratis, kadaharan gratis asal tong kedul we. . . . . 

Wilujeng Jalan-jalan !! 

23 Juli 2013 

Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?

Info Jalan-jalan ke Gunung Puter

Buku Petite Histoire Rosihan Anwar Lengkap Sudah

Instagram @yogazaraandritra