Pengantar Advokasi Karst

:15-September 2013
Diskusi di saung Suku Badot. Dok. Pribadi
Apa itu advokasi? Pertanyaannya dimulai dari situ. Jika disederhanakan advokasi punya arti pembelaan, pembelaan terhadap hak-hak dasar manusia. Pernyataan itu dilontarkan oleh Bung Ram saat membuka diskusi bertemakan “Pengantar Advokasi Karst”, di Saung Suku Badot, Kampung Cidadap Ds./Kec Padalarang, Kab. Bandung Barat.

Diskusi ini diselenggarakan dalam rangka peresmian Saung Suku Badot yang baru saja selesai didirikan oleh Ebet si kulit hitam, Bogel si Hulk, Budi Bako, dan kurawa kecil yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu namanya di sini. Bung Ram sendiri, hadir pukul 8 malam di saung. Ia yang adalah Direktur Walhi Jabar, tentu saja kami pandang mumpuni berbicara soal tema yang kami ajukan di atas. Diundangnya beliau di saung bukan lantaran ia kulit hitam sama seperti Ebet melainkan karena ia kami pandang punya pengalaman di wilayah itu, dan juga karena ia boleh dibilang satu ideologi dengan gerakan yang kita usung. Yaitu sama-sama kurang begitu percaya terhadap partai politik dan elemen-elemen yang menopangnya semisal proposal. Dan yang lebih radikal lagi, kita sama-sama mengimani doktrin pertentangan kelass.

Kata ‘kami’ dalam tulisan ini merujuk pada diri kolektif yang kemudian disebut Suku Badot. Semacam komunitas yang konsern bersenang-senang melalui kerja-kerja kebudayaan dan kerja-kerja olah tubuh. Adapun pembelaan apa yang kemudian Suku Badot usung adalah pembelaan tanah lahir, tempat ‘ulin’, dan tanah tempat bercocok tanam. Yang kami pandang kesemuanya itu adalah hak-hak dasar yang keberadaannya terancam oleh ekspansi modal. Oleh karenany mesti diadvokasi.

Persis seperti apa yang dilakukan oleh Mouna Rudo dan sukunya di tahun 1930-an melawan jepang si penjajah di pulau Formosa yang kini bernama Taiwan. Hengkangnya jepang adalah visi perubahan yang ditetapkan oleh Mouna Ruda dan yang lainnya. Itu juga yang kami visi-kan melalui Suku Badot. Ialah hengkangnya pemodal-pemodal yang telah dan sedang akan memperluas areal produksinya.

Areal yang kini dikuasai pemodal terbentang dari bukit di sisi selatan kampung Cidadap sampai pesawahan kaki bukit Puter, serta perusakan karst Pabeasan-Hawu atas nama pertambangan. Yang satu cacat AMDAL dan IMB, yang lainnya kebanyakan tanpa izin.  Yang satu atas nama pembangunan perumahan, yang lainnya atas nama pertambangan. Dua tempat itu mesti diadvokasi agar tidak makin rusak karena dua tempat itu punya arti penting sebagai kawasan penyangga, baik penyangga ekosistem maupun penyangga kebudayaan, di mana khususnya Pabeasan-Hawu dipandang sebagai tempat lahirnya kebudayaan pertama dari orang Bandung Purba. Selain itu juga, dua tempat tersebut di atas sebagai tempat ‘ulin’ dan bercocok tanam orang kampung Cidadap dan beberapa kampung lain yang mengitarinya.

Kira-kira singkatnya seperti itu, Suku Badot lahir di tengah-tengah masalah lingkungan yang mendesak untuk dicarikan penyelesainnya. Oleh karenanya diskusi “Pengantar Advokasi Karst” menjadi sangat penting untuk mengurai masalah, dan mempertanyakan masalah yang tampak.  Lebih dari itu, moment macam ini terutama adalah sebagai ajang memperkuat tali silaturahmi. Okelah mari kita absen yang hadir dalam diskusi kemarin sebagai upaya melawan lupa; Ijot, Dodi, Lulu, Ebet, Budi Bako, Haday, Bogel, Widi, Dwi, Korong, Irsan dan saya sendiri sebagei notulen. Sekian dan terima gajih !


Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Asal usul Reforma Agraria 1960 sampai Dipetieskan Orba

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?