Komunitas Kabel Data

Logo komunitas Kabel Data dibuat oleh Fajar Fauzan.


Komunitas Kabel Data berdiri waktu Miko, Restu, Herton belum sibuk dengan dunia yang tidak ada kaitannya dengan kampus (UIN Bandung). Berdirinya itu entah tanggal berapa tahun berapa, saya lupa lagi, kalo boleh saya mengira-ngira sekitar tahun 2011. Miko sekarang bekerja jadi wartawan di Bisnis Indonesia berkantor di Jakarta, karirnya terus menanjak setelah dia dengan sungguh-sungguh menjadi wartawan di Bisnis Jabar berkantor di Bandung. Sebelum menjadi wartawan ia sempat menjadi editor di salah satu penerbitan asal Bandung (sebut saja Mizan). Agaknya, menjadi editor bagi Miko cuma lapangan transit menuju profesi selanjutnya, menjadi wartawan. Ia sekarang mantap menjadi wartawan sesungguhnya. Indikatornya bisa dilihat dari warna kulitnya yang semakin hitam (Jakarta panas bro !).

Kemudian Restu. Nama lengkapnya Restu A. Putra sesuai dengan nama yang tertera di akun pesbuknya. ’A’ di situ penuh dengan probabilitas, bisa berarti Ahmad, Anang, Ajang, Atang, Anjar, Anjas. Entahlah, bila kita terus terpaku menafsir huruf ‘A’ yang diapit oleh dua kata ; Restu dan Putra, maka habislah waktu kita dibuatnya padahal waktu itu adalah uang coy. Kecuali kalo Restu sudi membayar saya untuk sekedar menebak-nebak ‘A’ di situ berarti apa, yaaa semacam bikin quis tebak-tebakanlah. Sekilas tentang prestasi-prestasi Restu yang saya ketahui, ia pernah dikejar-kejar wanita, wanita itu sampai lop det alias cinta mati pada Restu. Ia pernah ke Ternate, diundang sebagai sastrawan. Sekarang profesinya sebagai wartawan di Purwakarta. Waktu belum menjadi wartawan, cerpen-cerpennya kerap dimuat di Koran.

Herton. Herton sekarang jadi pengusaha muda. Punya Bebe (bukan Bebe dalam bahasa Sunda yang berarti kambing, melainkan Bebe sebagai bahasa lisan yang berarti Black berry) bukan untuk sekedar gaya-gayaan titik, melainkan ia gunakan sebagai sarana untuk berdagang. Katanya, Bebe itu membantu bisnisnya jadi makin yahut, semacam jalan aspal dari kota ke pedalaman, membuat uang lancar meluncur ke sakunya. Ia mantap menapaki jalan dagang. Terakhir bertemu saya di kos-kosan dua saudara, ia bercerita akan mulai memproduksi sepatu yang kualitasnya tidak kalah dengan sepatu-sepatu merk mapan. Dengan profesinya itu saya kira dia ingin menauladani Muhammad SAW. Betapa pun ia sudah mirip Muhammad SAW ia tetaplah bukan Muhammad SAW. Muhammad SAW bukan penyair, syair-syairnya yang kemudian kita sebut Quran pada hakikatnya itu bukan syair buatannya, umat Islam menganggapnya itu firman Tuhan. Sedangkan Herton adalah penyair, walau bagaimana pun ialah sang creator syair berjudul “Fana”. Yang kemudian syairnya itu oleh Miko diaransemen menjadi sebuah lagu, dinyanyikan oleh grup band bernama SERIMPI. Ia sempat ke Ternate bersama Restu. Ia adalah PENYAIR.

Komunitas Kabel Data didirikan di secretariat Lembaga Pers Mahasiswa SUAKA. Mikolah orang yang punya andil besar dalam hal penamaan komunitas ini, dari celetukan-celetukannya inilah sebuah kata atau beberapa, yang mulanya biasa saja menjadi punya makna yang tidak hanya aneh dan humor tapi juga penuh. Miko si creator sajak-sajak Tengil itu penuh humor dalam sesekali tutur katanya, ia tak jarang mengajak lawan bicaranya untuk tertawa dengan cara menciptakan suasana humor dibantu perubahan raut mukanya yang MENGGELEGAK. Dengan pola itu pulalah nama Kabel Data dibidani kelahirannya ke dunia. Melihat latar dari munculnya nama Kabel Data, maka bayangan saya tentang komunitas ini adalah humoris. Biarpun komunitas ini mengklaim dirinya komunitas sastra, humor menjadi spiritnya. Humor di sini mungkin berarti pembebasan. Sebuah penelitian pernah mengatakan bahwa tertawa di saat stress mampu melerai stress. Humor itu membebaskan. Remy Silado dengan sajak-sajaknya, dan Butet dengan monolognya agaknya cukup menjadi referen bahwa humor itu membebaskan. Celakalah sebuah rezim otoriter yang tak menganggap serius humor.

Ojan, Pungkit, dan Galah adalah tiga nama yang juga ikut mendirikan komunitas ini. Bedanya dengan tiga orang yang tersebut di atas adalah, mereka ini masih punya banyak sekali urusan dengan kampus. Sebut saja Ojan dan Galah. Ojan belum selesai kuliah, Galah juga. Pungkit, katanya kerap ada di fakultas Adab dan Humaniora, dia sudah selesai kuliah. Dan saya sendiri sama seperti Ojan serta Galah.   

***

Walaupun komunitas ini mengusung ‘humor’ dalam bersastra, justru dari sinilah lahir kegiatan-kegiatan sastrawi yang serius. Misalnya Kongkow Sastra, yang diadakan sebulan sekali, terselenggara hingga 4 kali. Lahirnya Kongkow Sastra 1, 2, 3, dan 4, boleh dibilang dikatalisatori salah satunya oleh Komunitas Kabel Data melalui obrolan orang-orang yang ada di dalamnya. Terutama dalam hal ini Ojan (Pimpinan Umum LPM SUAKA waktu itu). Peran Ojan sangatlah penting dibicarakan di sini sebab posisinya sebagai pimpinan umum LPM SUAKA dan kemampuannya dalam hal menyelenggarakan acara menjadi penyebab hidup dan berkembangnya komunitas ini. Misalnya, diskusi regular komunitas ini kerap bertempat di secretariat LPM SUAKA; kemudian Ojan pulalah yang menjadi penggerak terselenggaranya acara Kongkow Sastera. Ojan sebagai penggerak dan penyedia infrastruktur itulah, saya pandang sebagai ‘yang fundament’ dari hidup dan berkembangnya Komunitas Kabel Data. Adapun nanti Kongkow Sastera 1 sampai 4 tidak bisa dibilang sepenuhnya sebagai kerja-kerja organisatoris dari Komunitas Kabel Data, itu persoalan lain. Sebab sebagai komunitas yang baru lahir, Kabel Data tentunya butuh sokongan dan dukungan dari yang lain (yang lain di sini maksudnya komunitas lain, organisasi lain)’.

Di atas, saya banyak menyebut nama Komunitas Kabel Data, namun jangan difahami komunitas inilah satu-satunya dan yang utama dalam hal terselenggaranya acara serius Kongkow Sastra.  Komunitas Kabel Data adalah bagian kecil dari beberapa komunitas/organisasi yang turut andil menyelenggarakan acara Kongkow Sastra. Menjadi istimewa karena orang-orang yang mendirikan komunitas ini berasal dari komunitas lainnya yang ada di kampus UIN Bandung. Sebut saja; Pungkit, Galah, dan Herton dari Komunitas SASAKA; Ojan dan Miko dari LPM SUAKA; Restu dari Komunitas RUMPUT; dan saya entah darimana. Maka wajar jika gagasan mengenai Kongkow Sastra menemukan habitatnya di Komunitas Kabel Data.


Kongkow Sastra 1. Kongkow Sastra berdasarkan penuturan Miko dalam tulisannya berjudul “Sebuah Catatan Tentang Kongkow Sastra”, digagas oleh dua orang, yaitu Pungkit dan Ojan.  Masih berdasarkan penuturan Miko dalam tulisan yang diposting di blog pribadinya itu, Kongkow Sastra yang pertama diselenggarakan pada tanggal 11/03/2011, dengan modal cuma Rp. 30.000. Bertempat di depan gedung rektorat; tepatnya di taman depan kampus di bawah tiang bendera merah putih. Tentu saja ini acara sangat heroik, bayangkan modalnya cuma Rp. 30. 000. Selain heroik karena terselenggara cuma dengan modal Rp. 30.000, tema yang diusung di Kongkow Sastra 1 ini ternyata tidak main-main, temanya adalah, “Sastra dan Media”. Selaku pembicara hadir Dadi Ahmad Fudholy (penyair Sunda asal Garut) dan Dian Nurachman (Akademisi Sastra). Acara ini dimeriahkan juga oleh musik dan pembacaan puisi. Yang membaca puisi diantaranya: Galah, Yuga Anugrah, Femi Fauziah, Restu, Herton, Pungkit, Ojan, dan Atep Kurnia. Adapun yang membawakan lagu ialah dari grup musik tradisi bernama Nemah Pati, dan Acil (si pelukis).

Sama seperti Kongkow Sastra yang akan datang, Kongkow Sastra kali ini pun diselenggarakan oleh beberapa komunitas/organisasi yang ada di kampus UIN dan sekitarnya. Yaitu: Komunitas Kabel Data, LPM Suaka, Jurnal Sasaka, LPIK, Komunitas Rumput, KitaAdalah, Jalaran, Verstehen, Ilalang, Ilegal,  Noiseyouth, AddictedArea, NemahPati, BSI, dan MSB.

Kongkow Sastra 2, diselenggarakan sekitar pertengahan bulan april  2011 tanggal tepatnya lupa lagi, selain itu rujukan mengenai Kongkow Sastra 2 ini hanya tulisan Miko yang diposting di blog Majelis Sastra Bandung berjudul “Kongkow Sastra” tidak menuliskan tanggal tepatnya kapan acara Kongkow Sastra 2 ini terselenggara. Adapun di Kongkow Sastra 2 ini diisi dengan bedah buku “Antologi Puisi Bersama Gerimis” yang diterbitkan oleh Majelis Sastra Bandung (MSB), dan penampilan musik dari Kapak Ibrahim serta Nemah Pati. Selaku pembicara hadir Bambang Q-anees dan Kyai Matdon (pengasuh MSB). Kemudian Kongkow Sastra 3, berdasarkan status fanpage LPM SUAKA dan keterangan Ojan selaku moderator pada saat itu diselenggarakan pada tanggal 28/05/2011, dengan tema “Sastra dan Filsafat”. Hadir selaku pembicara pada saat itu adalah Fani Ahmad (cerpenis) dan Atep Kurnia (akademisi sastra). Bedanya di Kongkow Sastra 3 ini adalah masuknya Senat Dakwah dan Komunikasi, Senat Ushuluddin, Senat Syariah dan Hukum, Dewan Mahasiswa, dan grup musik BARBARA dari UKM Teater Awal sebagai penyokong acara.

Kongkow Sastra 4, berikut adalah pampletnya yang saya peroleh dari web bitterdict:

Kongkow Sastra 4 ini sekaligus jadi acara pelepasan 4 penyair dari UIN yang diundang ke acara temu sastrawan se-Indonesia di Ternate. Mereka itu adalah: Pungkit, Galah, Herton, dan Restu yang juga adalah pendiri Komunitas Kabel Data. Begitulah kira-kira sepenggal kisah dari Komunitas bernama Kabel Data yang didirikan untuk dibubarkan, tentu masih banyak detail kisah yang belum tercatat di sini. Bubar Jalan ! hahahahaha

Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Asal usul Reforma Agraria 1960 sampai Dipetieskan Orba

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?