Paradoks Kebebasan

Pic by
Sepulang bikin stiker rencananya saya dan Budi langsung menuju Argawilis (organisasi pecinta Alloh di kampus STSI) untuk panjat dinding dalam rangka olahraga biar sehat. Sesampainya di sana ternyata Cepong dan Kocet (dua hamba Alloh yang hobi sekali manjat) tidak jadi manjat di AW (baca: Argawilis), alasannya hujan di samping itu juga Cepong sedang tidak enak badan. Padahal dua orang ini saya harapkan kehadirannya membawa sebuah risalah berupa sepatu manjat, harnest, dan magnesium. Dengan tidak hadirnya dua orang ini, harapan saya kandas sudah. Tentu saya dan Budi kecewa.

Di titik ini, otomatis agenda utama dari segala yang utama di hari ini tak jadi terselenggara. Jika mesti dilukiskan bagaimana perasaan saya, saya seperti kehilangan acuan. Entah apakah Budi seperti itu perasaannya, atau tidak, yang tahu bagaimana perasaannya hanya Tuhan dan Umi. Entahlah. Saya bingung, kita harus ke mana? Pertanyaan ini menyeruak seketika saat saya dilanda kebingungan karena hilang tujuan. Agar kebingungan ini beroleh penyelesaiannya lantas saya bertanya pada Budi, begini pertanyaan saya:

saya: "menurut kamu sebaiknya sekarang kita ke mana ?"
Budi: "bebas"

Alih-alih mendapat penyelesaian atas kebingungan yang melanda saya, jawaban Budi justru malah membuat saya semakin bingung. Katakanlah kebingungan saya ini adalah api yang membakar rumah orang tua saya, maka jawaban Budi adalah bensin yang membuat api di rumah saya semakin menyala-nyala membakar rumah orang tua saya. Pada situasi ini diksi ‘bebas’ malah menjadi diksi yang bermakna paling tidak membebaskan.

Saat Budi menjawab seperti itu, ingin rasanya saya cingogo/dongko (apa bahasa Indonesianya cingogo/dongko?). Apa pasalnya? Pasalnya, saya dan kawan-kawan di LPIK sepakat siapa pun yang menjawab “bebas” saat ada yang bertanya padanya, maka kita yang berada di sekitar dan mendengar jawaban paling tidak membebaskan itu mestilah cingogo/dongko, sebagai symbol bahwa kita semua speechless karena ia sudah mengeluarkan diksi yang menghebohkan dan bombastis sehingga kita semua minimal yang ada di situ jadi kelu tak sanggup lagi berkata-kata. Tapi saya tidak bisa melakukan tindakan simbolik itu, situasinya tak mendukung, karena saya sedang menunggang motor dan mesti focus perhatikan jalan.

***

Jalanan macet sekali, dan saya masih diselimuti kebingungan sementara perut sudah lapar, lapar, lapar. Mestikah saya bertanya pada Budi, “makan apa ya Bud, yang murah tapi kenyang?” belum juga hati saya menjawab mesti, eeeeh mulut saya reflek bertanya seperti itu pada Budi. Dan sialnya Budi menjawab “Bebas”. Deg, untuk kedua kalinya saya dibuat speechless oleh Budi. Suasana menjadi hening kembali di atas motor. Bedanya, kali ini bercampur rasa kesal, tapi bukan karena jawaban Budi, melainkan karena ada gerombolan supporter bola yang sengaja bikin macet saat berkonvoi, okelah ini semacam ekspresi mereka merayakan entah kemenangan entah kekalahan timnya, tapi pliss jangan bikin orang yang lapar semakin lapar bercampur kesal. Masa saya harus bilang “bebaskan”/”bebaslah”/”bebas” pada mereka yang berkonvoi, sementara di belakang mereka ada orang-orang yang butuh pulang cepat, lancar, atau bensin kendaraannya tinggal sakeclakNo! Sorry yah, menurut kamu?

1 comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Asal usul Reforma Agraria 1960 sampai Dipetieskan Orba

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?