Slackline Latihan Menjalani Hidup yang Seimbang


Berlatih slackline di Kampus UIN. Dok. Bukbis
Awal ketertarikan saya pada olah raga slackline adalah ketika saya “ngotot” ingin menjadi pemanjat jagoan. Untuk bisa manjat itu sendiri tidak cukup hanya dengan tekad yang kuat perlu latihan-latihan penopang sebab dalam manjat setidaknya kita mesti melatih keseimbangan dan kelenturan (selain kekuatan) tubuh.

Bertemulah saya dengan Mbip. Saya mengeluh padanya “duwh manjat teh aing mah gejed awak euy, kumahanya awak hayang meureutan meh teu gejed?” lantas Mbip menjawab “eunggeus Ga, maen slackline, aslina awak teh meureutan tah, tingali we urang beuki dieu teh beuki begang”. Panjang lebar saya dialog dengan Mbip, sampai-sampai Mbip memperlihatkan permainan-permainan slackline orang top dunia. Sebut saja Alek Mason, Jan rose, Andi Luwis, Eli Sculete, Gappai dll. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk juga bermain slackline bersama Mbip dan Mas Tanto. Ketika itu saya tersihir oleh propvokasi yang dilancarkan Mbip, bersepakatlah saya untuk bermain slackline besok sorenya (jam 3) di gajebo kampus.

Sore itu, saat waktu yang disepakati tiba, nyatanya saya masih di Dago. Mbip sudah meng-sms suruh saya datang ke tempat latihan di areal kampus. Namun saya masih sibuk dengan urusan saya yang lain, jam tiga saya masih di dago. Saya jawab sms Mbip bahwa saya insyaalloh jam lima sampe kampus. Ternyata saya belum juga sampai kampus jam lima itu. Karena saya harus bergelut dengan macet, di perjalanan. Akhirnya saya sampai juga di kampus, tepat ketika adzan magrib berkumandang. “di marana euy nu maen slackline, marasih keneh teu?”  tanya saya pada orang-orang yang sedang nongkrong di wall climbing Mahapeka. Hanya Cepong yang menjawab pertanyaan saya, “di Gajebo, tapi da keur diberesan alatna ge”. Mendengar jawaban Cepong hati saya bergemuruh penasaran apakah benar latihannya sudah beres? Suuut saya langsung ke lokasi yang dimaksud. Ternyata benar, tali slackline sedang digulung. Di situ saya tidak lantas putus harapan, rasa penasaran ingin mencoba olahraga slackline mendorong saya untuk ngotot harus mencoba “Jouw pasang deui lah talina, pliiis hayang nyobaan euy!”, kemudian Tarsan dan Mamun menyambut permintaan saya “hayulah jouw”. Akhirnya tali slackline pun dipasang kembali. Dan saya pun bermain slackline, ketika itulah awal mula saya bermain slackline.

Olah raga berjalan di atas seutas tali ini menguras konsentrasi dan tenaga saya, untuk bisa berdiri dengan satu kaki saja susahnya setengah mati. Saat kaki ditapakan di atas tali, beban tubuh perlahan-lahan dialirkan ke kaki yang berpijak, kaki langsung bergetar bersama tali. Itulah tantangannya. Olahraga ini seru, saya pikir. Kalo Mbip saja bisa dengan mudah berjalan di atas seutas tali, tentunya saya pun bisa. Mula-mula tekad itu yang saya tanamkan dalam diri, sehingga saya tidak bosan untuk mencobanya lagi dan lagi malam itu. Dikali pertama mencoba slackline ada sensasi aneh yang dirasakan seusai bermain, hadir ketika badan direbahkan di kasur dan mata dipejamkan, goyangan kaki saat bermain slackline masih bisa dirasakan walau sedang tidak bermain slackline. haha.

Hari berikutnya saya mencoba lagi, masih dengan tekad “pasti bisa” dan pelajaran dari Mbip yang penting diingat, yaitu “beban pusatkan di kaki yang sedang berpijak di atas tali atau keraskan kaki yang sedang digunakan untuk berpijak dan lemahkan kaki yang tidak dipakai untuk berpijak, sebisa mungkin redam getaran tali dengan upaya mengeraskan kaki yang dipakai untuk berpijak” kurang lebih seperti itu teknik pertama yang diajarkan Mbip. Saya pun mempraktikan hal itu di hari ke dua. Dan entah hari ke berapa saya beroleh “Aha”, saya menemukan kuncinya ketika menonton film “Man of Tai chi” kemudian membaca-baca tentang ajaran beladiri Tai Chi. Sebab ternyata Tai Chi adalah salah satu jenis olahraga yang bicara banyak tentang keseimbangan, dan keseimbangan adalah yang utama dalam slackline. Hikmah yang saya beroleh kurang lebih seperti ini “keseimbangan itu didapat ketika kita tak lelah untuk fokus, atur nafas secara teratur, dan kendalikan diri agar jangan sampai energi Chi mu menguasai dirimu”. Saya pun mempraktikan ajaran-ajaran Tai Chi saat belajar slackline. 

Fokus/konsentrasi saat berjalan, perlahan, seolah-olah yang ada hanya kita sendiri saja. Atur nafas agar sirkulasi oksigen ke otak berjalan lancar sehingga kepala berikut hati tetap dingin serta tenang, hindari ketergesa-gesaan dan ketidaksabaran. Prinsif itu saya praktikan di slakline serta merta tubuh kita terbawa arus prinsif yang di awal (sebelum berjalan) sudah dicanangkan. Gerakan dengan prinsif yang itu-itu juga saya ulang terus dan terus di sesi latihan agar memori kita merekam gerak motorik yang diinginkan.

Walaupun prinsifnya sudah di dapat dan dipatri dalam otak namun ketergesa-gesaan selalu hadir maka timbullah ketidakseimbangan saat berjalan dan jatuhlah kita dari tali. Saat hal itu hadir, biasanya saya berhenti sejenak mengatur nafas dan menenangkan diri. Ketidaksabaran/ketergesaan biasanya hadir karena kita terlalu bersemangat ingin cepat bisa (ingin cepat sampai). Saat seperti itu saya kira itulah yang disebut dirimu tengah dikuasai energi Chi mu, hal itulah yang menyebabkan ketidakseimbangan. Oleh karenanya mesti dihindari. Keseimbangan didapat saat saya fokus, sabar dan tidak tergesa-gesa itulah yang membuat saya kini bisa berjalan di atas tali (meski belum mahir). Pun prinsif ini ternyata berlaku dalam olahraga panjat tebing.

Saya pikir bermain slackline adalah miniatur menjalani tali kehidupan yang panjang terbentang ini. Dari memahami slackline sampailah saya pada satu pemahaman pentingnya laku sabar, tenang, pengendalian diri, dan konsentrasi dalam menjalani hidup yang seimbang. Ya, adakalanya pencerahan itu didapat saat kita mengambil hikmah dari pengalaman. Mudah-mudahan bermanfaat, pokona mah tetap semangat wehhhhh 




Berlatih slackline di Kampus UIN. Dok. Bukbis


Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Asal usul Reforma Agraria 1960 sampai Dipetieskan Orba

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?