Analisis “Secangkir Kopi dan Sepotong Donat”

Google pic
Adegan-adegan yang ada dalam cerpen ini berlangsung sekitar satu jam, dari pukul sepuluh sampai pukul sebelas siang. Untuk ukuran waktu satu hari (24 jam) adegan ini terbilang sebentar, cuma satu jam. Namun, untuk ukuran permenungan ada hikmah (makna) apa saja yang terkandung dalam cerpen ini, mungkin bisa sampai berhari-hari.

Tulisan ini dimaksudkan untuk mengurai tanda/ mengungkap ada makna apa saja di dalam teks cerpen ini. Melalui pembacaan yang sistematis dan runtut. Menggunakan, sebut saja analisis (yang agak) structural.

Secara sintagmatik, cerpen ini tersusun atas; Peggy sibuk melayani banyak pelanggan – Di tengah kesibukan, datang Pemuda berbaju Dilbert Supermarket (dialog Peggy dengan Sang Pemuda Melalui Serbet (I)) – Jim Datang dan Beraksi - Dialog Peggy dengan Sang Pemuda Melalui Serbet (II) – Peggy Pergi Menuju Dilbert Supermarket

Ada Peggy sang pelayan warung kopi, Pemuda Dilbert Supermarket, para pelanggan (diantaranya Ted, Bob dan Bu Anderson), serta Jim si Orson Welles II (juga pelanggan).

Mengenai Peggy, Jim menjulukinya merpati. Burung merpati kita tahu termasuk burung yang bisa diatur/dilatih oleh manusia. Misalnya, merpati bisa digunakan sebagai media penyampai surat di masa-masa media penyampai belum secanggih sekarang. Artinya merpati adalah salah satu hewan yang bisa melayani/ bisa dilatih untuk melayani. Begitu halnya dengan Peggy, ada pelanggan ia layani; Jim, Pemuda Dilbert Supermarket, Ted, Bob, Bu Anderson dan yang lainnya di warung kopi (Fluffy Donut Coffe House).

Tak hanya melayani para pelanggan yang membeli. Peggy juga melayani satu pertanyaan yang diajukan Pemuda Dilbert Supermarket. Pemuda itu mempertanyakan cinta Peggy pada dirinya, “Peggy, my love. Kenapa kau tidak muncul semalam? Aku tidak bisa tidur”. Pemuda itu setelah memperoleh jawaban dari Peggy lantas keluar dari warung. Bahwa Peggy tidak datang semalam karena ibunya dipukuli oleh ayahnya yang sedang mabuk-mabukan. Pemuda itu mendapatkan jawaban dari Peggy setelah Jim selesai beraksi di warung kopi.

Pemuda itu mengira Peggy hendak meninggalkannya (karena semalam tidak datang). Padahal tidak, ’If ever would i leaves you, it wouldn’t be in summer....’. Kemudian karena pengertian sang pemuda atas kondisi Peggy, Peggy merasakan rasa cinta yang membuncah padanya. Ia menganggambarkan sesuatu di atas cermin sebagai tanda ia cinta pada pemuda itu. Lantas ia pergi menuju Dilbert Supermarket tempat si pemuda berada.

Apa yang dilakukan Jim di warung kopi? Seperti juga si pemuda, Jim mengajukan pertanyaan pada khalayak yang ada. Yaitu tentang mengapa harus melakukan satu kebiasaan ini (minum kopi, ada jam ngopi). Jim mempertanyakan kelaziman-kelaziman, yang (biasa) dilakukan orang Amerika. Beda antara Jim dengan si pemuda ialah pada ranah jawaban. Jim tidak bertanya untuk mendapatkan jawaban dari khalayak yang ada di warung kopi, sedangkan si pemuda bertanya untuk memperoleh jawaban dari Peggy. Jim bertanya hanya sebagai metode untuk menyampaikan gagasannya tentang kelaziman yang mengekang kemajuan zaman.

Menurut Jim, kemerosotan suatu bangsa (Amerika) ialah karena rakyatnya melakukan kebiasaan-kebiasaan tanpa mengerti kenapa kebiasaan itu dilakukan. Itulah alasan kenapa Bangsa Amerika yang besar, mengalami kemerosotan/kemandekan. Bangsa yang hanya bisa mengikuti tanpa mau mengerti kenapa mengikuti, Jim analogikan sebagai Beo/ sebagai burung beo yang hanya bisa meniru. Atas aksinya, Jim disebut-sebut mirip Orson Welles.

George Orson Welles (lahir di Kenosha, Wisconsin, AS, 6 Mei 1915 – meninggal di Los Angeles, California, AS, 10 Oktober 1985 pada umur 70 tahun) adalah seorang sutradara dan produser film serta aktor panggung, radio, dan film Amerika. Welles pertama kali dikenal karena siaran drama radionya pada 30 Oktober 1938 dengan cerita The War of the Worldskarya H. G. Wells. Drama yang diadaptasi sehingga kedengarannya seperti sebuah siaran berita kontemporer ini menimbulkan kepanikan sejumlah besar pendengarnya. Pada pertengahan tahun 1930-an, teaternya di New York membuat adaptasi voodoo atas ceritaMacbeth dan membuat kisah Julius Caesar menjadi kontemporer.

Khalayak yang ada di warung kopi terpukau oleh aksi Jim, Jim tak ubahnya seperti Orson Welles, katanya. Tidak hanya menyampaikan gagasan, Jim juga memecah kelaziman, Jim mengambil sikap tidak lazim. Di saat orang-orang pergi ke warung kopi untuk minum kopi, Jim malah memesan air es tanpa disertai makanan apa pun.

Atas pertunjukan Jim yang dramatic menyampaikan gagasannya sambil memecah kelaziman dengan aksinya. Maka kini, khalayak mulai ‘hidup kembali’, ‘melihat’ dan ‘mengetahui’ ada kemungkinan-kemungkinan yang bisa ditatap.

Kemudian mengenai kedatangan Si Pemuda Dilbert Supermarket ke warung kopi, ialah untuk mengajukan satu pertanyaan kepada Peggy. Dan pertanyaannya, menuntut jawaban dari Peggy. Pun kedatangan Jim ke warung kopi, ialah untuk bertanya, tetapi pertanyaannya tidak untuk dijawab. Melainkan hanya sebagai metode menyampaikan gagasan Jim pada khalayak yang ada di warung kopi, termasuk Peggy dan Pemuda Berkemeja Dilbert Supermarket.

Meskipun objek/ yang ditujunya berbeda, kedua tokoh aktif ini, Jim dan Si Pemuda Dilbert Supermarket dipake buat membicarakan satu tema yang sama. Yaitu kesadaran. Ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan untuk membicarakan kesadaran. Diantaranya Eksistensialisme.


2. Pemaknaan

Secara umum (mainstream), eksistensialisme berkembang pesat dan menjadi populer setelah Perang Dunia II usai. Namun, eksistensialisme sendiri disebut-sebut (bila mengacu pada alam pikiran orang ‘barat’/eropa) dimulai sejak sebelum Perang Dunia I. Tokoh utamanya ialah Kierkegard, bahkan tidak hanya Kierkegard sebagai peletak dasar-dasar eksistensialisme; Dostoyevski, dan juga Nietzsche pun juga. Mereka berdua hidup sebelum Perang Dunia I terjadi.

Lantas, bagaimana corak dasar pemikiran eksistensialisme? Ialah menekankan pada kesadaran, dan kemenjadian manusia (eksistensi manusia). Pengkajian filsafat ini biasanya berfokus pada manusia itu sendiri. Membicarakan hal-hal paling intim dari manusia, misalnya; keberanian, kegetiran, kengerian, rasa berdosa dan lain sebagainya. Filsafat eksistensialisme tidak memandang manusia sebagai ‘yang telah jadi’, melainkan memandang manusia sebagai satu makhluk ‘yang terus menjadi’. Satu makhluk yang terus merumuskan dirinya, melalui ‘tamu tak diundang (meminjam istilah Levi-Strauss; yaitu akal budi)’ dengan jalan mempertanyakan kemanusiaannya atau apa-apa yang ada di sekitarnya yang berkaitan dengan dirinya, dirinya.

Bertanya adalah salah satu kegiatan demi kepenuhan dirinya. Kegiatan paling intim yang dengan itu manusia menjadi lebih kenal dengan dirinya. Dengan cara bertanya inilah spiritualitas diri manusia diaktifkan. Menjadi manusia paling spiritual ialah menjadi manusia yang banyak bertanya tentang sesuatu yang dirasa mengusik. Kebalikannya, tidak bertanya adalah satu sikap yang membuat manusia tidak termanusiakan. Timbul dari rasa takut akan dalamnya jurang kengerian yang ia temukan pada saat bertanya. Inilah kenapa banyak manusia memilih untuk menerima saja hal-hal yang ada di sekitar begitu adanya, tanpa proses internalisasi diri.

Ada keajaiban, ada keunikan (di sekitar atau di dalam dirinya) mereka manusia yang takut bertanya tidak pernah menemukannya. Sebab mereka tidak berani berhadap-hadapan dengan kemenjadian dan dengan yang tanda tanya. Cerpen Umar Kayam ini, saya kira hendak meneguhkan betapa sentralnya kegiatan bertanya dan kegiatan yang digolongkan eksistensial. Terealisasi melalui dua tokoh, Jim dan Pemuda Dilbert Supermarket.

Seperti tadi sudah disebut di atas bahwa eksistensialisme memandang segalanya sebagai proses/ sebagai sesuatu yang belum tuntas. Begitu pun dalam cerpen ini, narasi tokoh Pemuda Dilbert Supermarket menunjukan sikap eksistensial, menyoal cintanya.

Ada semangat pencarian, juga ada semangat menemukan/ semangat mempertanyakan ketidaksesuaian realitas semestinya dengan realitas yang terjadi. Semangat itu bertumbuh dalam diri Pemuda Dilbert Supermarket. Didahului dengan pertanyaan yang menuntut jawaban dari sosok yang dituju. Sosok penentu yang membuat sesuatu yang semestinya terjadi malah tidak terjadi.

Dalam pandangan Pemuda Dilbert Supermarket, cinta antara dia dengan pasangannya, mesti begini dan mesti begitu. Namun faktanya tidak seperti itu, dan itu sangat mengusik si pemuda. Dalam narasi mengenai sang pemuda, dinyatakan bahwa cinta tidak melulu seperti itu. Ketidaksesuaian konsep bercinta yang ada di benak dengan realitas yang terjadi justru malah mengukuhkan cinta itu sendiri. Ini terlihat saat si pemuda mau mengerti terhadap apa jawaban pasangannya. Kemaumengertian sang pemuda membuat si wanita (Peggy) malah semakin membuncah rasa cintanya.

Inilah yang disebut kepenuhan dalam bereksistensi. Seseorang bertanya perihal dirinya (perihal cintanya), mencari jawaban di luar dirinya padahal jawaban itu sendiri menguntit di dalam dirinya. Saya analogikan, Peggy sebagai sesuatu di luar diri Sang Pemuda. Yang oleh Sang Pemuda diasumsikan sebagai tempat ia menemu jawaban perihal bangunan cintanya. Ketika ’jawaban antara’ diperoleh Sang Pemuda dari sosok yang ditanyai (Peggy), Sang Pemuda lantas merespon jawaban itu. Secara tidak sadar respon atas jawaban Peggy adalah jawaban sesungguhnya dari apa yang selama ini dicari yaitu soal bangunan cintanya. Jawaban itu bermakna mau mengerti atas kondisi yang dialami pasangannya dan menerimanya. Menerima kondisi diri adalah salah satu modal bereksistensi. Berkata ’ya’ pada kehidupan / Ja Sagen, kata Nietzsche.

Kemudian mengenai narasi tokoh Jim. Saya melihat ada semangat nihilisme (konsepnya Nietzsche), yaitu semangat anti kemapanan. Segala yang mapan harus dihancurkan karena itu jadi tali kekang kemajuan zaman dan kemerosotan manusia. Kemajuan, di dalamnya terkandung semangat dinamisme, semangat kreatif yang mengamini perubahan.

Tatkala kita terus-terusan berada di posisi nyaman dan mapan. Tentu kita akan menjadi dungu dan seperti beo, yang menerima semuanya tanpa proses sedikit pun bertanya atau menggugat. Saat kedunguan itu terlanjur menyelimuti diri kita, kita menjadi seolah tak berkesadaran melebur dalam kebiasaan. Kita menjadi termekaniskan atau terobotkan, akar-akar kemanusiaan diri kita secara tidak sadar dikebiri. Sejenak kita lupa dengan ’Ada’-nya diri kita. Fenomena kelupaan inilah yang disitir-sitir oleh Heidegger telah membuat manusia terdehumanisasi. Sedemikian robotiknya diri kita, bahkan kemanusiaan diri kita pun secara tidak sadar telah dinegasi.

Berhala-berhala kebiasaan inilah yang membuat kita lupa akan ’Ada’ nya diri kita, dan membuat kita jadi mandek. Harus dihancurkan dan dibunuh demi untuk meneguhkan kembali kemanusiaan diri kita melalui proses sadar akan ’kemenjadian’ diri kita. Mendobrak kemapanan dan menghancurkannya adalah salah satu ciri manusia bereksistensi dan layak dikatakan manusia. Bukan batu, bukan pula beo.


* ditulis karena sedang tidak ada kerjaan yang berat-berat seperti manggul batu, manggul awi dan lain sebagainya...


* nyobian nganalisis cerpen

Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Asal usul Reforma Agraria 1960 sampai Dipetieskan Orba

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?