Jalan Panjang Photosspeak Membumikan Karya

Cover buku kumpulan foto "Tanah Kami Terpapar Limbah"

Dari sederet komunitas foto yang ada di kota Bandung, mungkin Photosspeak masuk dalam daftar komunitas foto yang punya orientasi pada perubahan sosial yang adil dan setara. Indikasinya bisa kita lihat dari upaya mereka mengatasi keberjarakan antara karya (foto) dengan ruang sosial yang mereka objektifikasi. Kemudian yang tak kalah penting, isu yang diangkat dalam pameran foto di Rancakek ini memuat isu kerusakan lingkungan, proletarisasi dan pemiskinan kaum tani akibat dari berdirinya pabrik-pabrik skala besar (di Rancaekek). Setidaknya ada dua poin penting yang mereka mau tawarkan sebagai alternatif di tengah distorsi informasi oleh media mainstream dan di tengah situasi tidak demokratisnya pembangunan yang ada di masyarakat.
  
Poin pertama tentang keberjarakan. Keberjarakan atau alienasi karya dari realitas konkrit yang menjadi acuannya selalu bermasalah karena ia kerapkali tidak berbicara apa-apa dan berbuat apa-apa. Pameran foto yang sering hadir hari-hari ini selalu mengambil posisi ekslusif, jauh dari realitas konkrit yang diacunya. Karya dipandang sebagai barang mewah, dipamerkan di galeri dan hanya bisa diakses oleh orang-orang “berpendidikan”,  tapi tidak bagi Photosspeak, tindakan mereka berpameran di tengah sawah yang terpapar limbah di Rancaekek adalah sebuah langkah maju mendobrak kebuntuan agar foto tak sekedar foto, hanya bermakna bagi dirinya sendiri kemudian selesai.

Dengan kata lain, tindakan itu bisa kita maknai sebagai upaya mereka mengikis jarak antara karya dengan realitas konkrit yang diacunya. Barangkali berangkat dari situ dulu, mula-mula, minimal kawan-kawan Photosspeak sudah mendorong agar karya bisa 'bertukar tangkap', baik dengan kawan-kawan Photosspeak sendiri maupun dengan warga masyarakat terdampak sehingga menghasilkan kesadaran baru dan maju pada diri mereka masing-masing. Yaitu kesadaran tentang realitas objektif di sekitar mereka yang rusak-rusakan yang muncul tidak tanpa sebab. Kesadaran kritis tentang realitas objektif hanya mungkin tumbuh salah satunya dengan menghadirkan cermin di tengah-tengah mereka, cermin itu adalah foto, sekumpulan foto yang dipamerankan.

Jika foto adalah cermin, maka ia harus mampu menampilkan realitas tempat manusia hidup seobjektif mungkin, tak terpilah dan terpisah-pisah seolah antar gambaran satu dengan yang lainnya tidak saling berkaitan. Maka menjadi tepatlah apa yang dilakukan Photosspeak dalam hal isu yang diangkat. Kerusakan lingkungan, proletarisasi, dan pemiskinan kaum tani adalah sejumlah masalah yang hadir dan saling berkaitan akibat adanya industrialisasi. Di sinilah visualisasi terhadapnya menemukan kekuatannya sebagai pemicu kesadaran kritis bagi masyarakat terdampak dan kawan-kawan Photosspeak itu sendiri.

Tapi semua ini masih belum cukup, warga masyarakat terdampak belum menjadi subjek foto/subjek yang memotret dan isu tentang ketimpangan penguasaan lahan di antara petani Rancaekek belum diangkat/divisualisasi lewat foto. Sebagai langkah awal mungkin tepat, yang perlu diingat, jalan membumikan karya masih panjang. Oleh karenanya tidak ada alasan untuk berhenti berkarya dan membumikannya. 

*Tulisan pendek ini dimuat di buku kumpulan foto "Tanah Kami Terpapar Limbah"

Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Asal usul Reforma Agraria 1960 sampai Dipetieskan Orba

Info Jalan-jalan ke Gunung Hawu

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?