Babakan Sawah, Satu lagi Kampung Kota yang Terancam Digusur

Suasana di Kampung Babakan Sawah RT 9, RW 3 Kelurahan Sukahaji, Kecamatan Babakan Ciparay. Dok. Pribadi

Babakan Sawah, nama kampung itu tiba-tiba jadi terdengar genting dan penting di telinga saya. Saya pertama kali mendengar nama kampung itu dari Sahrul. Ia adalah seseorang yang selalu mengabarkan dirinya pada khalayak sebagai, “pelajar”. 

Pada saya, biasanya ia bercerita tentang aksi kamisan yang harus tumbuh subur di mana-mana selain di Gedung Sate di Kota Bandung ini,  ia juga bercerita tentang pemogokan anak sekolahan di Chili, bercerita tentang pemogokan massal di Perancis tahun 68 yang dipicu oleh gerakan mahasiswa di sana. Yang saya tangkap dari cerita-cerita yang selalu ia paparkan pada saya itu adalah, menurut dia, anak muda (pelajar) harus revolusioner seperti di tempat-tempat yang ia sebut, yaitu dengan menuntut pendidikan gratis dan menyuarakan pendidikan harus bisa diakses oleh semua orang, dan yang terakhir, anak muda harus berani mendobrak pakem serta tabu yang ada.

Tapi kali ini berbeda, ia bercerita tentang sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia ceritakan seperti cerita-cerita di atas yang selalu ia ulang-ulang ceritakan pada saya. Ceritanya begini, ada sebuah kampung, kampung itu bernama Kampung Babakan Sawah, letaknya tak jauh dari Pasar Burung Sukahaji, akan digusur bulan desember ini dan penduduknya hanya dikasih uang kompensasi sebesar 1 juta rupiah per rumah, digusur oleh Pemkot Bandung melalui program Kotaku, penduduknya kebanyakan sudah bermukim di situ lebih dari 25 tahun. Itu gilakan, teman-temans!? sangat tidak manusiawi, dengan alasan apa pun mengusir manusia dari tempat ia bermukim berpuluh-puluh tahun lamanya sangatlah  tidak manusiawi.

Mendengar informasi itu, saya langsung tertarik mengetahui lebih banyak lagi tentang Kampung Babakan Sawah, beberapa hari kemudian saya meminta Sahrul untuk mengantar saya  ke tempat yang Sahrul maksud, Kampung Babakan Sawah. Tentu saja dengan senang hati, Sahrul menyanggupinya.

Pulang sekolah (29/11/17) dengan mengenakan seragam SMA lengkap, ia menghampiri saya di Kebon Jeruk, hendak mengajak saya jalan-jalan dan nongkrong di Kampung Babakan Sawah. Ketika Sahrul datang, saya sedang bersama Diko, yaitu buruh ekspedisi yang dipecat secara halus oleh PT Heron*, tanpa pesangon. Sahrul duduk sebentar, tak mau berlama-lama, kami pun pergi menuju kampung yang dituju. Alhasil, Diko pun harus sendirian ditinggal saya dan Sahrul, menelan penderitaannya, seperti buruh-buruh pada umumnya yang tidak berserikat dan melawan. Maafkan saya Diko, tapi buruh harus berserikat dan melawan jika ingin bahagia. Lalu kami menuju tempat yang dituju.

***

Babakan Sawah sebuah kampung dekat pasar burung Sukahaji, dari Jalan raya Pasir Koja kami masuk ke sebuah gang bertuliskan “Babakan Sawah”, lebar jalan gangnya lebih kurang 2 meter. Dengan motor scoopy milik Sahrul kami susuri gang sempit kampung Babakan Sawah, Kelurahan Sukahaji, Kecamatan Babakan Ciparay, untuk menuju sebuah warung kecil (tempat Sahrul memperoleh informasi pendahuluan), dalam rangka menggali informasi lebih tentang penggusuran sekalian memeriksa ulang informasi pendahuluan yang didapat Sahrul.
  
Sambil dibonceng oleh Sahrul, saya mengamati keadaan di sepanjang gang. Rupanya tempat ini adalah kawasan pemukiman padat. Lihat saja pemukiman yang ada saling berdempetan, pintu-pintu rumah tingginya tidak lebih dari dua meter atau bahkan kurang. Kebanyakan bangunan rumah didirikan semi permanen, berdinding triplek atau seng.

Sesampainya di warung kecil yang Sahrul maksud kami langsung duduk dan memesan kopi. Ada dua perempuan yang sedang menjaga warung, satu orang berdiri mengais anak kecil, yang lainnya sedang melayani pembeli lotek. Warung kecil ini hanya terdiri dari satu hamparan meja ukuran 2x1 meter dan dua buah kursi panjang. Warung ini memang sejatinya hanya menjual lotek. Adapun kopi yang kami pesan, diseduh di rumah sang pemilik warung, lalu disuguhkan kepada kami.

Setelah basa basi sambil bercanda begitu lamanya, sampailah kami pada cerita tentang rencana penggusuran, menurut penuturan si ibu warung, tempat ini akan digusur oleh pihak Perumahan Taman Sakura Indah (rupanya bukan oleh Pemkot Bandung), bulan desember nanti, informasi ini didapat si ibu warung dari ketua RT dan ketua RW setempat (RT 9, RW 3) yang akhir-akhir ini kerap berkeliling mensosialisasikannya kepada warga. Pengurus RT dan RW menghimbau warganya agar bersiap meninggalkan rumahnya dengan ganti rugi satu juta rupiah per rumah dari pihak Perumahan Taman Sakura Indah.

Jelas saja hal itu memberatkan warga, menurut penuturan si ibu warung, mayoritas warga RT 9, RW 3  keberatan dengan ganti rugi satu juta rupiah per rumah, mereka ingin lebih dari itu. Keterangan ini dikuatkan oleh Pak Endang, yaitu warga setempat yang kebetulan menghampiri kami untuk membeli lotek si ibu warung. Pak Endang bahkan menambahkan bahwasannya tanah yang konon katanya milik Pihak Perumahan Taman Sakura Indah yang arealnya meliputi RW 2, 3, 4 Kelurahan Sukahaji ini akan digusur karena tanah ini sudah dijual kepada Agung Podomoro untuk dibikin apartemen.

Baik Pak Endang maupun si ibu warung sudah bermukim cukup lama di Kampung Babakan Sawah, keduanya sudah hampir 30 tahun bermukim di kampung ini. Mereka kebingungan jika harus pergi meninggalkan rumahnya dengan ganti rugi yang tidak seberapa, hanya satu juta rupiah. Tidak hanya mereka, warga RW 3 yang berjumlah 800 Kepala Keluarga lebih, mayoritasnya pun merasakan hal serupa. Menurut Pak Endang, cuma 30-an rumah di RW 3 yang hari ini bisa merasa aman dari ancaman penggusuran oleh pihak Perumahan Taman Sakura Indah, karena mereka memiliki Surat Hak Milik (SHM) tanah. Bahkan ada yang sudah bermukim lebih dari 30 tahun, nenek pembeli lotek itu kini umurnya 92 tahun, sedangkan ia sedari kecil sudah menempati Kampung Babakan Sawah, dan kini atas himbauan dari ketua RT-RW setempat harus bersiap meninggalkan rumahnya dengan ganti rugi 1 juta rupiah.

Parahnya semua info yang diterima warga RW 2, 3, 4 tentang penggusuran ini mereka peroleh dari pengurus RW setempat. Sejatinya mereka tidak pernah mendapat kabar ini secara langsung dari pihak Perumahan Taman Sakura Indah. Maka tak heran ada kesan tidak baik yang beredar di kalangan warga mengenai pengurus RW setempat. Sekalipun mayoritas warga tidak memiliki dokumen penguasaan lahan seperti PBB dan lain sebagainya, warga menyesalkan sikap pengurus RW setempat yang abai melibatkan warga dalam proses komunikasi dengan pihak Perumahan Taman Sakura Indah. Jika komunikasi langsung dengan pihak perumahan ada, setidaknya warga bisa meminta bukti penguasaan lahan yang dimiliki oleh pihak perumahan. Sayang, hal itu tidak pernah ada, pengurus RW setempat malah menjadi semacam narahubung bagi pihak Perumahan Taman Sakura Indah.

  
Dok. Pribadi

Dok. Pribadi

Dok. Pribadi

Dok. Pribadi
Post a Comment

Popular posts from this blog

Info Jalan-jalan ke Gunung Semeru (Rute Kendaraan)

Analisis Terhadap Cerpen jujur Prananto, “Doa Yang Mengancam”

Analisis “Secangkir Kopi dan Sepotong Donat”

Reforma Agraria atau Reformasi Agraria?

Instagram @yogazaraandritra