Posts

Showing posts with the label Opini

Masih tentang Seni Bandung yang Senimannya Apolitis dan Oportunis (Beberapa Bantahan untuk Peri Sandi Huizche)

Image
RampesWah apal ti mana suka manjat?
Saya kira antum juga melakukan “genosida pendapat” terhadap kami yang menolak Seni Bandung. Lamundina basa Sundamah, “nyakompetdaunkeun”.
Seperti antum dan kita semua yakini, sekalipun manusia tidak bisa otentik di muka sejarah, tapi otentisitas dan kekhasan itu bisa hadir di level tertentu. Sederhananya, walaupun kami sepakat menolak Seni Bandung sebagai media seni yang merakyat, ada keberagaman kritik dan keberagaman pendapat di pihak kami dalam hal menilai Seni Bandung.
Mungkin antum sudah membaca memoar Utuy. Sekalipun Utuy itu seorang komunis—atau simpatisan, meski berkali kali dibantah oleh Ajip Rosidi—tapi ia kerap mengkritik birokrat-birokrat partai komunis yang kaku dan ia kerap berbeda pendapat dengan yang lain: di Lekra maupun di kalangan orang-orang kiri.
Secara pribadi saya tidak pernah bersepakat dengan penyeragaman. Seperti tuduhanantum terhadap kami. Seolah-olah kami semua berpendapat bahwa "semua seniman yang masuk Seni Bandung i…

Mengapa Teologi Pembebasan? Dan Untuk Apa?*

Image
Bukankah selama ini yang namanya teologi selalu tidak membebaskan? Teologi selama ini dikategorikan sebagai dasar-dasar ilmu agama. Sebab ia membahas ajaran-ajaran dasar suatu agama. Jika seseorang ingin mempelajari seluk beluk agamanya secara mendalam, maka perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Karena mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan kuat, yang tidak mudah diombang-ambing.
Dalam istilah Arab ajaran-ajaran dasar itu disebut Usul al Din dan oleh karena itu buku yang membahas soal-soal teologi dalam Islam selalu diberi nama Kitab Usul al Din oleh para pengarangnya. Teologi dalam Islam disebut juga ‘ilm al-tauhid. Selain itu, teologi Islam disebut juga ‘ilm al-kalam. Kalam adalah kata-kata. Maka tak heran jika teolog dalam Islam disebut juga mutakallim.
Teologi Islam yang umum kita dapatkan biasanya dalam bentuk ilmu tauhid. Ilmu tauhid biasanya memberi pembahasan sepihak dan tidak mengemukakan penda…

Aku Belajar Mitos-mitos Tentang Perempuan

Image
“Gagasan bahwa ketidaksetaraan jender itu ada secara alamiah dan tidak dapat dirubah didorong sebagai fakta-fakta ilmiah, namun sebaliknya, dalam kenyataan, hal itu merupakan bagian dari ideologi politik yang reaksioner. Hanya dengan cara menjelaskan sejarahnya serta memberi bukti-bukti ilmiah munculnya masyarakat manusia serta perkembangannya, semua mitos tersebut dapat dibongkar” (Pat Brewer)
Aku terkejut sekali waktu dia bilang  “dalam kondisi tidak setara pun peradaban manusia sudah sebegini majunya, bayangkan jika antara kaum laki-laki dengan perempuan setara, kemajuannya bisa lebih dari ini”. Aku lantas bertanya memangnya kenapa dengan kaum perempuan dan laki-laki? Memangnya kenapa? Sederet pertanyaan pun muncul akibat dari dilontarkannya pernyataan di atas kepadaku. Memangnya ada ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan? Memangnya ketidaksetaraan menghambat kemajuan peradaban umat manusia? Bukankah dunia ini baik-baik saja, normal-normal saja? Kita hanya tinggal menjalanin…

Bukan Soal Mengubah Kesadaran dari Atas Mimbar

Image
Di Satu Masjid, hari jumat, seorang ustad berceramah begitu menggebu-gebu, ia tengah memaparkan tafsir dari surat al-Alaq ayat pertama sampai lima, yaitu ayat yang pertama kali diturunkan Tuhan kepada Muhammad SAW di Gua Hira melalui malaikat Jibril. Jamaah masjid sudah pasti sepakat terhadap apa yang dikatakan ustadz, terutama soal membaca sebagai kunci sukses kebangkitan ummat. Ustadz mengulang-ngulang soal itu, soal membaca adalah kunci sukses hidup di dunia dan akhirat.

Katanya, peradaban Islam yang dibangun Muhammad adalah peradaban membaca, lihat saja dengan membaca ummat Islam mampu sampai pada fase kebudayaan yang paling tinggi. Antara abad ke-7 sampai ke-12 Masehi, kala itu tak ada satu kebudayaan pun dari bangsa-bangsa yang hidup di muka bumi ini mampu menggapai capaian-capaian seperti apa yang dicapai ummat Islam (karena ketaatannya pada perintah “iqra bismirobbikalladzi kholaq”).

Ustadz itu namanya Oing, ia masih warga kampung Pamucatan. Perannya sebagai ustad kampung, pers…

Pabrik Multi dan Zaman Eksploitasi

Image
Tidak ada yang salah dengan perubahan, hanya saja mungkin kita kalah cepat dari mereka. Mereka duluan sadar bahwasannya alam beserta isinya adalah hak setiap orang untuk diapa-apakan (begitu menurut undang-undang kita konon katanya kini). Setiap orang punya hak yang sama untuk mengelola sumber daya yang ada di alam ini. Persoalannya cuma pada, ‘siapa cepat?’ tentu saja maka ‘dia dapat’. Jika semua orang punya hak yang sama, maka yang membedakan antara masing-masingnya adalah, inisiatif, kreatifitas, dan kecepatan dia mampu mengubah mimpinya/kehendaknya menjadi kenyataan dalam konteks memberdayakan/memperdayakan alam. Bukankah itu soalnya?

Demokrasi, tak ada lagi tuhan, kepengurusan alam ini diserahkan sepenuhnya pada manusia. Manusialah sebagai pusat, dialah satu-satunya penguasa di dunia ini. Alam adalah objek yang mesti dimanipulasi, direkayasa, ditaklukan sedemikian rupa hingga ia seturut dengan kita. Anthroposentris kita sering sebut ini zaman.
Fokus kita bukan lagi pada bagaimana m…

Membicarakan Ikhlas

Image
oleh Yoga ZaraAndritra pada 15 Mei 2012 pukul 0:27 ·

Selalu ada kesempatan bagi saya untuk meninjau ulang paham saya tentang sesuatu. Kali ini saya tertarik meninjau ulang paham saya tentang ikhlas. Ikhlas sebagaimana yang saya pahami dan cerap dari orang-orang pintar di sekitar saya, biasanya sering dimaknai sebagai satu kegiatan baik yang tanpa tendensi subjektif apa pun. Itulah ikhlas.
Saya jadi teringat Kant. Immanuel Kant adalah filsuf Prusia yang konon katanya selama hidupnya tak pernah beranjak dari kampung halamannya. Ia sering disebut-sebut sebagai pemikir besar, yang berhasil mendamaikan dua faham yang berseteru, yaitu rasionalisme dengan empirisisme. Sebenarnya ulasan Kant yang seperti itu kurang begitu penting diungkapkan di sini. Yang penting adalah pemikirannya tentang moralitas, sebab ada kaitannya dengan paham ikhlas yang dalam tulisan ini jadi fokus pembicaraan.
Bagi Kant suatu tindakan menjadi bernilai moral jika tindakan itu semata-mata diperuntukan demi kewajiban (say…

Membicarakan Halallan Thoyyiban

Image
Alhamdulillah saya tidak telat pergi ke masjid untuk solat jumat hari ini. Jumat yang lalu padahal saya sama sekali tidak solat jumat, sebabnya ketika adzan berkumandang saya baru mandi, dan di kamar mandi saya keasikan mandi, sehingga setelah beres mandi ritual solat jumat sudah selesai. Khutbahnya sungguh sangat sebentar, pantas saja yang khutbah adalah kakek saya, waktu itu. Dia terkenal sebentar jika khutbah.
Jumat kali ini saya tidak telat, datang ke masjid 20 menit sebelum adzan. Ketika masuk masjid saya mengucapkan doa masuk masjid, dan sebelum duduk di lantai masjid terlebih dahulu saya solat sunnah dua rakaat. Entah solat sunnah apa itu namanya, saya sudah lupa, fadilllah dari solat sunnahnya pun saya sudah lupa. Pantas saja, sebab buku agama sudah tidak lagi menjadi buku utama saya saat ini.
Seiring berjalannya waktu, ingatan demi ingatan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan agama, berguguran dilupakan. Meski sudah lupa apa nama spesifik dari solat sunnah di atas dan tak…

Bercerainya Iman dan Amal Shalih

Image
oleh: Yoga ZaraAndritra pada 30 Juni 2011 jam 3:33

Sebab tubuh dan jiwa tidak ada kaitannya, masing-masing punya otoritanya sendiri-sendiri. Tubuh punya mekanismenya sendiri, dan jiwa punya mekanismenya sendiri. Jika keduanya tidak saling kenal, wajar sebab keduanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Wajar jika keduanya saling tidak mengenal dan asing satu sama lain. Persoalannya, keduanya hidup dalam satu rumah yang sama, “manusia”. Oleh Descartes, manusia dipecah jadi dua entitas yang otonom.
Dewasa ini Descartes yang disebut-sebut sebagai bapak filsafat modern, namanya sudah jadi coreng. Sebab konon katanya, dia menganjurkan cara berpikir yang terpilah-pilah dan terkotak-kotak. Cara pikir macam ini dituduh separatis, merusak kesejatian tubuh dan jiwa. Implikasinya, menimbulkan beragam jenis penyakit. Diantaranya, alienasi. Suatu penyakit yang diidap oleh manusia masa kini, di mana dirinya asing terhadap dirinya, masyarakatnya dan lingkungannya. “aku berpikir, maka aku ada”, aku be…

Instagram @yogazaraandritra